HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Realitas Maya dan Senjata Makan Tuan
7 April 2012 pukul 12:30 WIB
Lelaki dan Mesin Waktu
1 Maret 2012 pukul 09:09 WIB
Sains, Al-Qur’an, dan Kesenjangan
25 Februari 2012 pukul 14:45 WIB
Masih Adakah Mimpi Itu?
21 Februari 2012 pukul 11:30 WIB
Polkinghorne, Kita, dan Nasib Islam
17 Desember 2011 pukul 13:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 1 Mei 2012 pukul 13:30 WIB

Senyum Rasulullah

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Rasulullah adalah orang yang paling fasih berbicara dan paling indah perkataannya. Beliau berkata, "Aku adalah orang Arab yang paling fasih." Para penghuni surga berbicara dengan bahasa yang digunakan nabi, yaitu bahasa Arab. Perkataanya mengandung makna luas namun penggalan katanya tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan. Yang mendengarkannya dapat memahami dan menghafal dengan mudah karena antara kata yang satu dengan yang lainnya terkait.

Beliau tidak berbicara, baik saat senang maupun marah, kecuali yang dibicarakannya itu benar. Beliau adalah orang yang paling banyak tersenyum dan paling gembira hatinya, selama bukan pada waktu turunnya wahyu, saat menyebut hari kiamat, atau saat berkhutbah memberikan nasihat.

Suatu hari seorang Badui datang dengan maksud bertanya kepada beliau pada saat beliau sedang memikirkan sesuatu. Namun para sahabat mencegahnya seraya berkata, "Wahai orang Badui, jangan engkau lakukan, kami melihat Nabi sedang memikirkan sesuatu."

Tapi orang Badui itu berkata, "Biarkan saya, demi Zat yang telah mengutusnya dengan membawa kebenaran sebagai Nabi, saya tidak akan membiarkannya dalam kondisi seperti itu, saya akan membuatnya tersenyum."

Lalu orang Badui itu bertanya, "Wahai Rasulullah, informasi yang sampai kepada kami bahwa al-masih (Dajjal) akan datang kepada manusia dengan membawa tsarid (bubur), tapi mereka semua binasa karena kelaparan. Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, menurutmu apakah aku harus menolak buburnya demi memelihara diri dari yang tidak halal hingga aku mati kurus? Ataukah aku makan buburnya hingga kenyang namun tetap beriman kepada Allah dan mengingkari Dajjal?"

Mendengar pertanyaan itu, Nabi tertawa hingga nampak gigi gerahamnya. Lalu beliau berkata, "Jangan kau makan, Allah akan mencukupi kebutuhanmu sebagaimana ia mencukupi kebutuhan kaum mukmin."

-dari Ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali-

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2181 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels