|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|





Selasa, 8 Mei 2012 pukul 14:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Sepertinya hidup ini memang adalah melukis. Kau terlahir putih, bersih, seperti kanvas. Dan Allah sediakan berbagai warna untuk hidupmu. Allah sediakan cat; merah, kuning, hijau, biru, segala warna, untuk kau ambil, kau pilih, kau sapukan dengan kuasmu. Dengannya kau melukis hidupmu sendiri. Kau menentukan warna apa pada hidupmu. Kau buat bentuk-bentuk indah dalam hidup ini.
Kau tentukan sendiri nasibmu. Dan hidup ini memang adalah simetri sempurna. Apa yang kau beri, adalah apa yang kau terima. Ah, bukankah Allah sudah memberi tanda di kitabNya yang agung, bahwa nasib kaum tidak akan berubah kecuali mereka sendiri merubahnya? Betapa sungguh Allah Maha Adil.
Dan hidup ini adalah melukis. Tiap warna adalah berbeda. Warna-warna memberi kesan pada hidupmu. Tiap warna, tak mungkin ada jika tanpa maksud. Pasti Allah berikan adanya warna demikian untuk suatu fungsi tertentu. Maka, kita tak boleh memberi kesan buruk pada warna tertentu, menyalahkan keberadaan warna itu pada hidup kita. Juga warna hidup orang lain. Mengapa ada merah pada hidup kita? Mengapa ada hijau di hidup orang lain? Tiap warna dasar adalah Allah yang memberi.
Apa yang kita lakukan adalah melukis dengan ikhlas. Memanfaatkan warna apa yang Allah berikan pada kita. Menyapukannya dengan tulus ke kanvas hidup. Memaknai tiap sapuan kuas itu sebagai ibadah kepadaNya. Ah, bukankah Allah tidak akan menyiakan tiap apa yang kita usahakan untukNya? Pasti ada yang Allah siapkan untuk kita. Pasti ada balasan baik untuk tiap warna indah yang kita sapukan pada kanvas hidup kita ini.
Dan melukis adalah hidup. Suatu kali kau temui goresan salah pada kanvasmu, mungkin kau terlalu terburu, mungkin kau tak berhati-hati. Seperti saat kau temukan langkah yang salah pada hidupmu. Jangan khawatir. Janganlah kau terlalu meratapinya. Karena pada tiap manusia Allah selalu sediakan warna putih. Warna dasar kehidupan. Warna untuk ia tutupi kesalahannya itu. Ambil kuasmu, ambil warna putih, sapukan pada goresan kesalahanmu, ia akan jadi putih kembali, seperti kanvas.
Bukankah arti istighfar pada dasarnya adalah "menutup"? Allah-lah yang akan menutup kesalahanmu. Ia-lah yang berkuasa memutihkan seluruh salahmu, menghilangkannya sama sekali, membuatnya tak ada lagi, bahkan hingga yaumil hisab nanti.
Dan hidup adalah melukis. Melukis dengan banyak warna. Semakin warna itu berselang-seling, berbeda satu sama lain, dan terpadu dalam satu harmoni syahdu, semakin indahlah lukisan yang kau buat. Maka jangan pernah meratapi warna yang berbeda. Syukurilah perbedaan warna itu. Karena ia adalah anugerah, adalah karunia. Bukankah pelangi tak pernah hanya satu warna? Bukankah pelangi membagi warna menjadi baris selang-seling syahdu?
Begitulah hidupmu. Kau pasti temui warna suka, warna duka, warna rindu, kadang pula warna luka. Jangan kau terlalu berlebihan menyikapinya. Syukuri semua warna hidupmu, karena pada tiap warna ada maksud. Kau hanya perlu menyusunnya sedemikian rupa hingga ia menjadi indah.
Maka, mari melukis, dalam kanvas kehidupan, dengan warna keikhlasan. Mari melukis untuk keabadian.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.