Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://idaernawati.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Yogyakarta - DI Yogyakarta
Pekerjaan
PNS
Aku adalah muslimah biasa yang selalu merindukanNya..... : merindukan cintaNya... BerkahNya.. RahmatNya... HidayahNya... dan ingin berjumpa denganNya....
http://dhidaerna.multiply.com
Tulisan Ida Lainnya
Jika Takut Menghadapi Kegagalan
11 Maret 2011 pukul 13:31 WIB
Sebiji Kacang
7 Mei 2010 pukul 16:25 WIB
Hidup Penuh dengan Pilihan
25 April 2010 pukul 15:00 WIB
Aku Belum Siap untuk Menjadi Ustadzah
25 Juni 2009 pukul 17:55 WIB
Pisang Kepok Ini Untukku?
10 Mei 2009 pukul 17:54 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 15 April 2011 pukul 11:11 WIB

Penyejuk Jiwa adalah Saat Bertemu dengan-Nya

Penulis : Ida Ernawati

Malam ini aku disibukkan oleh sebuah buku yang sangat menarik, karangan dari Abu Sangkan. Kegelisahan yang kurasakan hari ini harus kuselesaikan. Aku tidak mau menahan perasaan was-was ataupun gelisah, karena perasaan-perasaan tersebut berasal dari setan. Jika kita tetap memelihara perasaan seperti itu, berarti setanlah yang bicara.

Seperti biasanya, untuk menghilangkan semua perasaan yang tidak enak itu, aku larikan dengan membaca buku agama. Aku berharap bisa terhibur oleh kata-kata yang menyejukkan dan biasanya buku-buku religius yang selalu kubeli adalah persediaan kalau aku sedang mengalami hal seperti ini. Bisa dibayangkan, berapa jumlah buku yang kubeli dan belum sempat kubaca.

Aku tidak begitu suka membaca, lebih menarik bagiku untuk mendengarkan orang bicara dan diskusi daripada disuruh membaca. Kebiasaaan yang buruk, menurutku. Kalau aku hitung-hitung, dalam seluruh hidupku aku hanya menghabiskan waktu sedikit sekali untuk membaca. Tetapi malam ini lain, karena rasa gelisah ini begitu mengganggu, maka aku mulai membaca.

Aku mulai selami satu persatu kata-kata yang dituliskan Abu Sangkan. Subhanallah, baru kali ini pertanyaanku selama puluhan tahun serasa terjawab. Bagaimana mungkin, aku yang selalu bertanya apa gunanya aku harus shalat setiap hari dan melaksanakannya lima kali sehari, kini buku itu menjelaskannya padaku. Apa yang kulakukan selama ini seperti hanya memenuhi kewajibanku sebagai umat Islam. Hafalan surat-surat pendek yang kubaca mengiringi gerakanku dan seperti sudah menjadi kebiasaanku, tetapi makna shalat itu sendiri belum kutemukan.

Kata Abu Sangkan, pada saat shalat, seluruh syaraf tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indera, sebab jiwa secara perlahan bergerak menuju keterikatannya dengan badan. Keadaan ini disebut berpikir abstrak. Elektron-elektron pikiran berhenti berputar hingga kembali menjadi energi non materi. Lalu dilepaskan oleh ruhani dan menjelma sebagai cahaya batin, yang langsung kembali ke pangkalnya, yaitu Allah. Ketika getaran antara cahaya batin berjumpa dengan Nurullah, terjadilah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam atau sensasi tubuhnya.

"Islam menempatkan Zat Yang Mahamutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran jiwa, sumber kekuatan, dan sumber inspirasi. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang Mahamutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indera melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitarnya."

Apa yang dijelaskan oleh beliau, sungguh membuat hatiku bergetar. Aku belum melaksanakan pelatihan seperti yang dijelaskan, tetapi gambaran bisa bertemu denganNya membuat seluruh jiwaku bergemuruh. Banyak ulama yang berpendapat bahwa hanya para nabi dan orang-orang suci saja yang bisa bertemu dengan-Nya dan sangat kecil kemungkinan bagi manusia biasa untuk merasakan seperti apa yang mereka rasakan. Tetapi dalam buku itu dijelaskan, bahwa dengan shalat, manusia manapun yang khusyuk dan mempunyai niat yang kuat untuk melaksanakan shalat, akan bisa bertemu dengan-Nya secara langsung. Shalat adalah media yang mempertemukan manusia dengan pencipta-Nya tanpa perantara.

Ketika puncak kekhusyukan di dalam shalat didapatkan, manusia menjadi kecil dan tidak berarti apa-apa, karena semua yang terjadi adalah karena Allah semata. Allah Yang Mahamutlak, Allah Yang Maha Menguasai, dan Allah Yang Maha Mengatur yang bicara dan bergerak. Terlepas dari semua dosa yang kita lakukan, kita akan bebas untuk mendapatkan kedamaian dan penyejuk jiwa disaat kita mempunyai masalah dalam kehidupan ini.

Ya Allah, segala yang Engkau berikan betul-betul memberikan kemudahan bagi makhluk-Mu. Sungguh, Engkau begitu baik, selalu memberikan solusi kepada manusia atas segala masalah yang Engkau berikan. Kerinduan hamba untuk bertemu dengan-Mu ternyata tidak perlu menunggu di akherat nanti, karena dalam setiap shalatpun Engkau akan datang menemui. Ketika hamba-Mu datang dengan berjalan, Engkau menyambutnya dengan berlari. Terima kasih, ya Allah, aku akan datang menemui-Mu dengan sejuta rinduku.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. Al-Baqarah [2] : 45).

Wallahu a'lam.

http://dhidaerna.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1198 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels