|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://dhidaerna.multiply.com |





Ahad, 25 April 2010 pukul 15:00 WIB
Penulis : Ida Ernawati
Aku melangkahkan kaki ke kampus di mana aku kuliah. Pagi itu ada kuliah jam 7, waktu yang terlalu pagi bagi kebanyakan orang. Ketika aku menginjakkan kakiku di kelas, aku baru menemukan satu orang yang datang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang satu menit.
Pak Hartono si akuntan publik yang rajin dan kutu buku sedang memejamkan mata sambil menyenderkan kepalanya di kursi, mungkin kecapekan karena dia dari Surabaya yang setiap kuliah hari Sabtu Minggu dilaju dari kota itu ke Yogyakarta.
Otaknya yang cukup brilian ditunjang dengan keuletannya belajar dan pengalaman–pengalaman di ruang lingkup pekerjaannya, membuat dia selalu menggunakan kesempatan untuk memberikan komentar mengenai suatu kasus di kelas kami.
Ada dua keuntungan yang akan dia terima, pertama, dia bisa sharing atas masalah-masalah yang dihadapi di kantornya dan akan mendapatkan masukan dari teman-teman yang nota bene dari kalangan profesional, dan yang kedua dosen akan menambah poin di dalam penilaiannya. Sangat menyenangkan, bukan? Tidak perlu mencari konsultan ke mana-mana, pengalaman teman-teman satu kelas bisa dijadikan wacana dalam mengambil keputusan bisnis sekaligus ada bonus nilai yang menguntungkan.
Aku selalu berpikir, mengapa dia sukses dalam kuliahnya. Setelah aku perhatikan secara diam-diam, beberapa orang yang sukses di kelas dan selalu mendapatkan nilai A dalam semua mata kuliah, di samping si akuntan publik itu, ada juga pak Beni si General Manajer dari Batam, dan pak Andre si owner suatu perusahaan dari Kediri. Akhirnya aku mempunyai suatu kesimpulan yang kemudian aku praktekkan agar aku bisa sukses seperti mereka.
Aku bisa merasakan aura kedisiplinan dalam diri mereka, keberanian untuk berpendapat, dan keuletan dalam belajar. Bahkan aku lihat mereka mempunyai rasa percaya diri dan selalu serius dalam berbicara, baik dengan sesama mahasiswa maupun ketika di dalam kelas.
Ketika aku benar-benar mengaplikasikan hasil temuanku mengenai kunci keberhasilan teman-temanku, berangsur-angsur aku mulai menuai hasil. Aku mulai dipuji dalam berbicara di kelas, mulai bisa mendapatkan nilai yang lumayan. Mungkin tidak seperti yang mereka dapatkan, paling tidak bisa menempati tempat yang tidak jauh dari mereka. Bahkan pernah mendapatkan nilai lebih baik dari mereka untuk beberapa mata kuliah.
Bahagia sekali rasanya saat itu, dan rasanya hanya hal itulah yang membuat aku bisa sangat bahagia. Bahagiaku ini adalah merupakan wujud kepuasan karena usahaku dan keyakinanku kepada Yang Maha Pemurah. Aku yakin Allah mewujudkan keinginanku.
Mengapa aku tulis ini di sini? Dan mengapa begitu pentingnya aku harus memberitahukan kepada sahabat mengenai apa yang aku tahu? Aku ingin sahabat sukses di dalam mengerjakan apa pun, mempunyai semangat, baik ketika beribadah, bekerja, maupun ketika belajar.
Ketika kita bisa mencari celah yang menguntungkan dan mengambil hikmah dalam setiap kejadian adalah senjata yang bagus dalam membidik kekuatan kehidupan. Mengapa selama ini kita kecewa dan kecewa setiap kali apa yang kita rencanakan belum membuahkan hasil atau hasil yang kita dapatkan tidak seperti yang kita rencanakan?
Ada satu hal yang sering kita lupakan, bahwa kepasrahan kepada Allah Yang Maha Menentukan adalah upaya terakhir setelah kita berusaha. Jadi apa pun hasilnya nanti, kita pasrahkan kepadaNya dan Allah-lah yang akan memberikan apa yang terbaik bagi kita.
Sudut pemikiran Allah lebih luas dari apa yang kita ketahui, hanya Dia-lah satu-satunya yang bisa dengan adil dan bijaksana memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita. Allah menilai usaha umatNya bukan dengan management by result, tetapi dengan management by process. Subhanallah, ternyata ilmu TQM (Total Quality Management) yang baru kita ketahui di abad 20, Allah sudah memberitahukannya kepada nabi besar kita Muhammad SAW di abad ke-7 untuk diberitahukan kepada kita, umatnya.
Hidup adalah pilihan. Allah memberikan pilihan kepada kita, apakah kita ingin berhasil atau tidak, ingin berhasil dengan lebih baik atau cukup dengan tingkat tertentu saja. Semua itu sahabat sendiri yang harus berusaha mewujudkan impian. Dengan usaha yang ulet dan keyakinan bahwa apa yang kita ikhtiarkan akan dikabulkan oleh Allah, maka apa pun hasilnya menjadi akan sangat berarti bagi kita.
Allah akan sangat menghargai usaha kita yang dilakukan semata-mata karena Allah, sekecil apa pun, karena Dia mengetahui segala-galanya, baik yang ada di hati maupun yang diucapkan. Bersyukurlah, Allah Maha Pemurah, jangan takut gagal ketika sudah berusaha. Bukankah batu yang sangat keras dan tajam bisa luluh karena setitik air yang mengalir diatasnya secara terus menerus?
Begitulah usaha, sekecil apa pun jika dilakukan terus menerus, insya Allah pasti akan memberikan hasil. Percayalah pada TuhanMu, Dia tidak akan pernah tidur dalam memberikan kasih sayangNya dan rejekiNya kepada umatNya dari tempat-tempat yang tidak kita sangka.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.