|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://dhidaerna.multiply.com |





Jum'at, 11 Maret 2011 pukul 13:31 WIB
Penulis : Ida Ernawati
Betapa Islam menganjurkan adanya semangat dalam diri kita. Semangat untuk hidup, semangat untuk beribadah, semangat untuk bekerja, dan semangat untuk melaksanakan segala aktifitas kita.
Apakah kita pernah melakukan sesuatu tanpa semangat? Mungkin pada saat mengerjakan sesuatu itu, kita tidak punya motivasi. Atau mungkin apabila apa yang kita lakukan itu tidak akan membuahkan materi apa-apa dan menurut kita sia-sia. Buat apa dikerjakan, begitu kan? Padahal pekerjaan itu harus diselesaikan, maka yang terjadi adalah kita akan malas-malasan dalam mengerjakannya.
Sahabat, hasil dari pekerjaan yang kita lakukan dengan malas-malasan akan membuahkan sesuatu yang biasa-biasa saja, bahkan mungkin kurang bagus dan tidak sesuai rencana. Lantas, apa yang harus kita lakukan agar kita punya semangat?
Semangat berasal dari dalam diri kita, dan yang bisa mendapatkan adalah kita sendiri. Semangat dari dalam bisa kita tumbuhkan. Bahwa apa yang kita usahakan adalah semata-mata untuk mendapatkan nilai plus dari Allah.
Yakinilah bahwa di setiap detik di hari-hari kita, di setiap gerak-gerik kita ada malaikat yang mencatat amal kita, baik amal shaleh maupun yang buruk. Kita akan merasa malu ketika kita melakukan suatu aktifitas yang benar-benar dilihat Allah, diawasi Allah, tetapi kita tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakannya.
Bayangkan, jika ketika kita bekerja ada pimpinan kita yang melihat, apakah kita tetap akan loyo dalam bekerja? Pasti kita akan cari perhatian agar pimpinan kita menilai plus kepada kita. Nah, yang melihat tingkah kita ini bukan pimpinan, karena pimpinan bisa jadi tidak melihat ketika kita melakukan kesalahan dan dia tidak akan mengetahui apa yang ada di hati kita, tetapi Allah Yang Maha Mengetahui melihat kita, baik apa yang ada di lahir maupun batin kita, pasti dilihat olehNya.
Bagaimana kita harus bersikap, sahabat. Apakah kita akan mempertahankan sikap yang malas-malasan jika suatu pekerjaan tidak kita sukai harus kita selesaikan? Betapa bodohnya kita jika membuat waktu begitu sia-sia. Padahal ketika kita berbuat sesuatu apapun, Allah akan selalu menilai kita. Timbangan amal baik dan buruk akan berjalan terus tanpa kita sadari.
Ada di timbangan apakah ketika kita melakukan pekerjaan tanpa menghargai waktu, mengulur-ulur waktu yang demikian berharga? Padahal dalam setiap detik di waktu kita, bisa menjadi sangat berharga jika melakukan sesuatu.
Sahabat, sebelum kita diperlihatkan amalan baik dan buruk di akhirat nanti, mari kita perbanyak berbuat sesuatu yang membuat timbangan amalan kita lebih berat di amalan baik. Iringi langkah kita dalam bekerja, beribadah, dan dalam melaksanakan segala aktifitas dengan berdzikir. Bacalah basmallah sebelum bekerja, karena apa yang kita dapatkan adalah berkah dari Allah semata.
Baiklah, sahabat, ada satu tips terakhir untuk kita sebagai akhir dari renungan ini, "Jika kita takut menghadapi kegagalan, janganlah berbuat apa-apa, karena kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dan tidak akan menjadi siapa-siapa."
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.