|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Jum'at, 12 Februari 2010 pukul 16:30 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Hidup seorang mukmin itu diperhatikan Allah, ia diberi cobaan, diuji, dan diberi kesulitan yang dengannya ia belajar dan menjadi lebih beriman. Sementara orang yang tidak beriman dibiarkan senang bermain dengan kehidupannya, yang dengannya ia semakin lupa dan semakin jauh dari kebenaran hakiki.
Lihatlah kehidupan para Nabi, betapa mereka adalah manusia yang menumpuk berjuta kesulitan di punggungnya, namun dengan itu pula mereka berjalan semakin tegak, karena Allah memberi kekuatan. Tak sulit mengingat kisah lima Nabi Ulul Azmi. Mereka terpilih karena kesabaran yang luar biasa, terpilih menjadi yang paling mulia, yang terpandang di dunia dan akhirat. Ah, betapa tak sulit juga mengingat bahwa rasul Muhammad adalah manusia berbudi yang paling Allah cintai, sementara kita tahu betapa ia manusia yang liat dengan berbagai kesulitan.
Maka, di saat kita mendapat kesulitan sekecil apapun, renungkanlah bahwa itulah bagian dari pembelajaran yang Ia berikan, bagian dari perhatian yang Allah berikan pada kita. Dan untuk menghadapinya, kita hanya perlu terus tunduk dan berusaha, semaksimal mungkin, tanpa butuh mempertanyakan apakah ia terlalu berat untuk kita pikul, atau bahkan bertanya apakah Allah akan meringankan kesulitan itu ataukah tidak, na'udzubillah. Karena setiap kesulitan itu telah diperhitungkan, kawan, dan kita tak pernah tahu akan apa yang sesungguhnya paling baik, bahkan bagi kita sendiri.
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun : 11).
Saat kesulitan itu memang sangat menguras habis kekuatan kita, maka tak ada yang pantas kita ucap selain menyebut Allah yang Mahaadil. Seperti Bilal yang imannya tak pernah mati meski terik meranggas, menggantung semua harapan hidupnya. Sungguh, amat naif orang yang berteriak Allah tidak adil demi kepuasan batinnya, Apalagi mencoba untuk beranjak dari keimanan, mencoba untuk menolak kebesaranNya, na'udzubilllahi min dzalik. Boleh jadi Allah memang menyukai kita dalam kondisi keimanan itu, dan ingin terus mendengar dzikir kita, ingin terus melihat kita memohon bersimpuh meminta kekuatan saat kesulitan itu melanda. Mungkin itulah memang yang terbaik bagi kita, semata bukan karena kita menutup keinginan menjadi lebih baik.
Sedikit pun Allah tidak mengambil manfaat atau kerugian dengan keimanan kita. Shalat, puasa, dzikir, kesabaran saat menghadapi kesulitan, semua yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri. Bisa saja saat kesulitan itu melanda kita tak puas dan beranjak menjauh dariNya, namun tak ada yang rugi selain diri sendiri, kawan. Jika kita beriman dan tunduk, maka tak ada yang untung selain diri kita, jika kita durhaka, maka tak ada yang rugi selain kita sendiri.
Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. (QS. Al-Isra : 17).
Allah Mahakaya, Mahabesar, ia menciptakan, merubah, dan melakukan apapun, hanya dengan amr. Sementara manusia dan segala yang Ia ciptakan (makhluk lemah dalam kurungan dunia yang fana) hanya mampu tunduk dan sujud. Bukankah hidup ini memang permainan belaka? Maka kenapa tidak menunggu dan bersabar untuk sesuatu yang lebih besar?
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An'am : 32).
Bersabarlah kawan, di sana ada kebaikan besar yang Ia janjikan, yang selalu dinanti-nanti mereka yang berhati lapang, berjiwa besar, yang bersemayam iman dalam hatinya…
Subhanallahi walhamdulillah…
Rumcay, 060110
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.