QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Cinta dan Garam
18 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB
Perjalanan Hidup
3 Juli 2009 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 29 Agustus 2009 pukul 20:15 WIB

Siapa Teroris Sesungguhnya?

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Siapa Teroris Sesungguhnya? Apakah Nurdin yang memang top di media akhir-akhir ini karena misteri keberadaannya yang tak kunjung ditemukan? Ataukah teroris seorang pria bermuka sangar yang membawa bom ke sana ke mari? Mengapa kita begitu peduli dengan terorisme?

Istilah "terorisme" mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat (Charles Thomas, International Terorism and Political Crimes, 1975). Namun hingga kini belum ada kesepakatan global yang menjelaskan apa arti terorisme sesungguhnya.

Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme, satu di antaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, yang mengartikan terorisme sebagai “penggunaan kekerasan untuk kepentingan politik atau penggunaan kekerasan dalam bentuk apa pun untuk menimbulkan ketakutan publik”. Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan, sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok, atau suatu bangsa. Perbuatan teror para teroris digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Ia digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu, serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror.

Hingga saat ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apakah itu Terorisme. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., terorisme merupakan pandangan yang subjektif, hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu.

Jika memang demikian, kita seharusnya tidak terlalu peduli dengan definisi yang saat ini dihembuskan media barat – atau bahkan media nasional – yang seakan menyudutkan satu kelompok dengan menunjukkan bahwa teroris adalah mereka yang mendalami Islam dan menyendiri di pesantren-pesantren. Apakah memang teroris selalu seperti itu? Ataukah justru ada aktor besar yang mempermainkan kita, polisi, pemerintah, dan media, mereka yang memang berada di layer lebih atas dari para eksekutor lapangan yang ditangkapi hari ini? Adakah kemungkinan bahwa teroris yang sebenarnya adalah mereka yang duduk-duduk di kursi empuk jabatan sambil memainkan tuts di depan komputer dan mengatur saham dunia?

Saya sangat kaget mendengar cerita seorang teman yang akhir-akhir ini sering dicurigai ibu kostnya karena belakangan ia mengikuti pengajian di masjid dekat kampus. Seorang teman lain membagi cerita bahwa setelah banyaknya pemberitaan teroris di media, ia diminta ibunya untuk tidak usah mengikuti pengajian dan cukup belajar saja di kampus. Aneh sekali, mungkinkah ini buah yang sesungguhnya diinginkan para teroris itu?

Jikalau memang teroris adalah mereka yang mendalami agama dan menjalani hidup Islami, maka kita akan memasukkan Ki Hajar Dewantara, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari sebagai list teroris selanjutnya (sekali lagi jika teroris hanya dimaknai parsial – hanya pada sisi relijiusitas dan penampakan luar saja). Tapi bukankah mereka dan banyak tokoh pendiri bangsa dan pejuang kemerdekaan lain yang memang lahir dari didikan agama yang kuat dan lingkungan Islami bertahun-tahun. Ada hal yang jauh lebih besar daripada sekedar tampilan luar dan ekspresi keagamaan, yang memperbolehkan seorang untuk dihardik sebagai teroris?

Maka, alangkah lebih baik jika kita mencari definisi teroris yang lebih cocok dengan konteks pribadi dan masyarakat kita. Peledak bom dan pembuat onar bisa jadi merupakan teroris, tapi untuk siapa? Untuk pemerintah kah, otoristas politik, atau pemegang saham yang ketakutan jika investor asing pergi? Atau mungkin mereka yang menginginkan Islam disudutkan dan dikhawatirkan?

Terorisme sesungguhnya adalah mereka yang membuat kita khawatir dan takut karena pengaruh buruk yang sangat destruktif : pornografi, musik, dan games yang tidak mendidik, tontonan tidak berkualitas, judi, dan pelacuran. Itulah yang banyak merusak tatanan hidup manusia dan alam semesta kita, masyarakat kita. Betapa tontonan tidak mendidik telah menjadikan sekian persen anak kecil kerasukan virus kekerasan. Betapa pornografi telah menghilangkan semangat generasi muda untuk berkembang membangun bangsa dan mengukir prestasi. Betapa area prostitusi, perjudian, dan minuman memabukkan telah menghancurkan banyak keluarga dan kemerosotan akhlak.

Kantung-kantung inilah yang seharusnya kita perangi, yang seharusnya selalu dihembuskan media, pagi-siang-sore-malam, yang harus selalu dikhawatirkan pemerintah dan pemengang otoritas kebijakan. Merekalah yang menjadikan bangsa kita tidak kunjung maju, masyarakat kita tidak lagi santun dan miskin secara sosial. Merekalah – yang jauh dari nilai agama dan norma kebaikan – yang telah lama menjadi penyakit bangsa dan sempalan masyarakat kita, yang menjadi teroris sesungguhnya bagi akal sehat siapa pun di dunia ini.

Sekali lagi, hanya dengan melihat kondisi masyarakat dengan lebih jeli dan mencari kejernihan di tengah carut-marut media saja kita dapat melakukannya. Jika tidak, maka bersiaplah menemukan teroris baru di masjid-masjid, di pesantren-pesantren, atau bahkan mungkin di dalam rumah Anda sendiri.

Yogyakarta, Ramadhan 1430 H

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1258 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels