Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://ashifku.kotasantri.com
Bergabung
12 Juni 2009 pukul 03:33 WIB
Domisili
Sleman - D.I. Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Ashif adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif di Forum Lingkar Pena DIY dan menjadi Kepala Sekolah Creative Writing Center Yogyakarta,
Tulisan Ashif Lainnya
Perjalanan Hidup
3 Juli 2009 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 18 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB

Cinta dan Garam

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Cinta adalah garam, sungguh banyak sekali garam yang ada di dunia ini, begitu pula cinta. Setiap hari kita dihadapkan dengan cinta. Film, sinetron, majalah, radio, semua bicara tentang cinta. Tengok kanan kiri Anda, ada buku, catatan, lagu, gambar, semua tentang cinta. Cinta termanifestasi dalam banyak hal, ada tindakan, perilaku, perasaan, ingatan, yang termotivasi cinta.

Saking banyaknya, kita jadi melihat cinta seperti garam, sesuatu yang sama-sama sangat banyak jumlahnya di dunia ini. Makan apa pun di sana, pasti ada garam, nasi goreng, sate, gudeg, rendang, tak ada masakan yang tak pakai garam. Resep daerah, resep nusantara, resep mancanegara, semua pakai garam. Bahkan saat memasak roti, ibu saya membubuhkan garam pada adonannya. Garam ibarat menjadi komponen wajib dalam setiap masakan.

Walau begitu, komposisi garam pada tiap masakan adalah yang perlu diperhatikan. Kekurangan garam, masakan akan terasa hambar. Kelebihan garam, akan terlalu asin. Komposisi garam pada masakan tentu juga bergantung pada apa yang mau dimasak. Memasak sup, maka garam yang dibubuhkan adalah satu sendok teh. Memasak bolu, maka tidak perlu banyak-banyak garam, hanya sedikit untuk memantapkan rasa aslinya yang manis.

Seperti itu pula cinta. Kadang kita harus membubuhkan cinta pada satu adonan hidup kita, sehingga ia menjadi lebih indah, lebih berasa, dan tidak hambar. Saat menghadapi rutinitas pekerjaan yang menyiksa, seorang suami akan selalu membutuhkan cinta tulus sang istri, yang menyejukkan dan membuat rutinitas itu terasa ringan. Saat melahirkan bayi, seorang ibu mempertaruhkan seluruh hidupnya karena cinta yang teramat besar. Cinta membayar semua kesulitan hidupnya, bahkan ketika mengantarkan sang anak menuju dewasa.

Namun cinta kadang salah digunakan, terlalu banyak, terlalu asin. Ada orang yang sangat mencintai hingga dunia ini terasa gelap. Romeo meneguk racun di depan kekasihnya yang terbaring dan disangka mati, setelah bangun, Juliet menyusul dengan tegukan berikutnya. Mungkin juga Sutrisno mengakhiri nafasnya dengan terjun bebas dari atas reklame karena cinta Surti hinggap di lelaki lain. Bahkan perang Bharatayudha bisa terjadi antar elit pemerintahan hanya karena komposisi cinta yang salah pada seorang gadis di lapangan golf. Begitu rumit cinta, kadang membuat adonan hidup terlampau asin, terlampau kacau, tak jelas rasanya.

Maka, menemukan cinta yang benar adalah membubuhkan cinta pada adonan hidup dengan komposisi tepat. Tidak lebih, tidak kurang, dan tidak keasinan. Memang hanya ada satu resep yang membawa kita pada adonan hidup dengan rasa paling ‘maknyus’, yaitu cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta, mahabbatullah. Seperti kisah cinta Adam pada Tuhannya, yang membawanya pada Hawa di bukit Arafah, atau cinta Muhammad pada kebenaran Ilahi, yang membawanya pada kasih sayang Khadijah. Dengan resep ini, membuat adonan hidup dengan rasa paling nikmat tidaklah sulit, namun mudah dan membahagiakan.

Banyak sekali cinta yang bisa kita produksi dan simpan dalam perbuatan, seperti banyaknya garam yang dapat diproduksi dari panjangya pantai nusantara. Namun hanya sedikit yang membahagiakan kita, lebih sedikit lagi cinta yang benar dan membawa kepada nikmat kehidupan hakiki, membawa pada surga Ilahi.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mang_unus | Wiraswasta
Semoga dapat menjadi wasilah untuk semua; berbagi ilmu, memupuk ukhuwah, mengokohkan keimanan, menopang keistiqamahan.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1314 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels