|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 26 Januari 2012 pukul 15:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Lucu, sungguh lucu masa itu. Dimana tanpa sadar, diri telah tebar pesona. Hingga kesadaran itu akhirnya benar-benar datang dan menghentak. Ada yang harus di-restart dalam kehidupan pribadi. Memulainya, kemudian menutup semua pintu itu. Pintu-pintu yang berpotensi menjadikan diri sebagai "penggoda" hati.
Berat, itu awalnya. Harus meninggalkan semua yang didapat. Meninggalkan dunia broadcast, meninggalkan dunia media, meninggalkan komunitas yang terlanjur diri dikenal di sana, meninggalkan teman-teman akrab, hanya demi satu tujuan, menarik diri kembali yang tarnyata menjadi alat tebar pesona, menjadi alat penggoda hati, menjadi alat centil.
Mulai membatasi, dan memang ya, harus ada pembatas bukan? Membatasi gerak agar tak berpotensi lagi menjadi fitnah, baik di dunia nyata, atau di dunia maya.
Mungkin, kita bisa menjaga hati sendiri, tapi kita tak kan pernah bisa menjamin, mampu menjaga hati orang lain juga.
Jadi, mari saling menjaga hati karenaNya. Karena boleh jadi ada maksiat tersembunyi pada setiap hal yang kita anggap baik. Dan parahnya jika itu melibatkan orang lain. Apalagi, jelas kita yang bukan mahram genit-genitan, meski di dunia maya, tapi tetap saja ketetapan pergaulan dalam Islam harus diaplikasikan.
Jangan lagi centil, genit, dan tebar pesona. Mari mulai belajar membatasi!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.