|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Jum'at, 6 Januari 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Memaksa diri untuk bangun jam 3 dini hari, memaksa diri untuk qiyamul lail, memaksa diri untuk tilawah minimal 1 juz sehari, memaksa diri utuk shalat fardhu tepat waktu, memaksa diri untuk sedekah setiap hari walau hanya seribu rupiah, memaksa diri untuk tak bergaul bebas dengan lawan jenis yang bukan mahram, memaksa diri untuk tidak sedikit-sedikit mengeluh, memaksa diri untuk melakukan banyak kebaikan yang pada akhirnya memaksa diri untuk masuk ke surgaNya. Dan yang paling penting dari itu semua adalah, ternyata kita juga sedang memaksa diri untuk terus mendekatiNya.
Ya, memaksa diri. Jika ikhlas itu tak pernah kita dapati dalam diri karena banyak hal dan alasan, jika ikhlas yang kadang harus diawali dengan perjuangan itu begitu sulit mengawali langkah-langkah kebaikan. Maka, lupakan dulu tentang ikhlas! Dan paksa diri kita untuk melakukan banyak kebaikan yang diperintahkanNya.
Memaksa diri terus menerus, dalam waktu yang relatif lama, bukankah sama artinya kita sedang belajar membiasakan diri? Sesuatu yang dilakukan karena kebiasaan, pada akhirnya nanti juga akan lebih ringan dilakukan tanpa banyak pertimbangan memberatkan bukan? Dan kalau sudah begini, ikhlas itu ternyata hanya soal dimensi lain yang berada dalam hati kita.
Tak apa "kejam" pada diri sendiri tapi mengundang ridha dan kecintaanNya, daripada melakukan banyak pemakluman pada diri sendiri tapi mengundang murka dan ketidaksukaanNya.
Mari, memaksa diri menjadi lebih baik dan lebih beriman! Yang ternyata juga bermakna memaksa diri menjadi lebih indah dengan kebaikan dan keimanan itu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.