|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Senin, 9 Januari 2012 pukul 08:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Cerita sore kemarin, yang menyisakan muhasabah hingga pagi ini. Bukan tentang hujan yang menderas sepanjang sore, bukan tentang dingin yang memercikkan romantisme dalam dada. Bukan tentang ukhuwah indah yang menemani tapak-tapak keimanan. Namun tentang bagian laku dari penduduk kota metropolitan ini. Laku dari seorang wanita paruh baya, yang menohok rasa keprihatinan.
“Mbak, itu uangnya jatuh,” kata seorang pemuda pada kami di depan teras itu ketika kami menumpang berteduh sebab hujan mulai menderas lagi. Refleks seseorang yang bersama saya mengambil. Pas seorang Ibu melintas di depan kami, menghampiri pemuda itu (entah sudah kenal atau belum) sambil berkata, “Kenapa mesti diberitahu segala? Tinggal diambil saja.” Sementara sang pemuda hanya tersenyum kecil.
Peristiwa ini kemudian menjadi pembahasan kami berdua yang tak ada habisnya hingga sampai tempat kost. Banyak hal yang kami soal, tentang ngerinya bagaimana anak-anak Ibu itu tumbuh dengan didikan seperti itu, tentang bagaimana pola pikir-pola pikir “keren” semacam ini benar-benar tak hanya dimiliki oleh satu orang. Kamipun membolak-balik memori masing-masing tentang beberapa peristiwa berbeda namun mengupas satu esensi yang sama, yaitu menyoal harga diri.
Dalam Islam, hal yang berhubungan dengan harga diri, harkat, martabat, dan semacamnya, sering disebut dengan Izzah. Bahwa setiap muslim harusnya mempunyai Izzah sebagai muslim, yang mempondasikan banyak gerakan dalam berhubungan sosial dengan manusia lainnya. Izzahlah yang akan mengontrol bagaimana keberakhlakan seorang muslim dengan sesamanya. Semakin tinggi nilai izzah seseorang, akan berbanding lurus dengan nilai akhlak mulia yang dihasilkan. Semakin shalih di hadapan manusia, terlebih di hadapan TuhanNya.
Hanya saja, ketika kita melihat kembali kepada realita yang ada, tentang harga diri, bahwa tak semua manusia (merasa) mempunyai satu hal ini dalam kehidupannya. Mungkin karena memang tak mengerti tentang bab ini, atau memang tak pernah menyoal tentang ini, atau bisa saja ia tak tahu bagaimana caranya menghargai sebuah harga diri.
Lalu, kalau kita tak ikut andil bertanggung jawab pada keadaan realita ini, mau dibawa kemanakah persoalan sosial ini? Sedang ianya ada di sekitar kita. Kita melihat, kita mendengar bahkan kita bersinggungan.
Akan terus begini keadaannya, jika dari kita yang (sudah lebih dulu) tahu, memilih tak peduli ketimbang berpusing ria menyoal ini.
Muslim itu tidak egois, jika sampai detik ini belum mampu berbuat banyak untuk merengkuh mereka menapak pada lahan kebaikan akhlak, setidaknya ada do’a untuk mereka, kiranya Allah memberikan hidayah dan inayahNya.
Aamiin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.