Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Melodi Indah Tetap di Hatiku
4 Agustus 2011 pukul 11:00 WIB
Kreatif Mencintaimu
3 Agustus 2011 pukul 13:40 WIB
Hati; Cinta dan Dakwah
29 Juli 2011 pukul 11:22 WIB
Cahaya Bersenandung Rindu
21 Juli 2011 pukul 11:22 WIB
Allah, Aku Memintanya
20 Juli 2011 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 11 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB

All About Muslimah

Penulis : Rifatul Farida

Mari, untuk tak pernah bosan menyebut asmaNya yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Rabb semesta alam raya.

Segala pujian hanya untukNya. Maha sempurna Allah, yang telah mewujudkan penciptaan kita dengan begitu indah dan sempurna. Menjadikan kita wanita seutuhnya. Ya, wanita seutuhnya.

Lihatlah wajah kita, lihatlah mata kita, lihatlah pipi kita, lihatlah bibir, hidung, telinga, tangan, kaki dan semua wujud yang menyusun diri kita. Semuanya menyatu dan terstruktur menjadi satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Sempurna!

Itu, baru fisik yang kasat mata.

Rasakanlah, bagaimana Allah kemudiaan memadukannya dengan bulir-bulir halus yang mengalir di hati kita, bagaimana Allah semakin menyempurnakannya dengan naluri-naluri kewanitaan. Bagaimana Allah menjadikanmu maha karya terindah untuk kehidupan semesta. Melejitkan jiwamu di tempat nan tinggi lagi terhormat. Jauh lebih tinggi dari gemintang, jauh lebih terhormat dari tahta raja manapun. Ya, tinggi dan terhormat. Maka menjadi alasan yang sangat layak untuk tetap mempertahankan tempat itu, dimana Allah swt sendiri yang telah menempatkannya langsung, lewat sabda sang Nabi saw, bahwa perhiasan terindah dunia adalah wanita shalihah.

Wanita shalihah. Perhiasan abadi tak lekang zaman. Dan itulah dirimu seharusnya. Sosok yang mampu menjadi tolak ukur segala keindahan semesta. Menyinari banyak kegelapan dari bagian peradaban manusia dengan cahaya ilahiyah. Lembutmu adalah peredam segala angkuh, lihai menelusup ke setiap jengkal dalamnya hati siapapun. Lakumu adalah gerakan-gerakan sempurna dari bagian kebaikan hidup yang terus melaju. Santunmu, meng-kontraskan garangnya setiap nafsu duniawi, yang siap setiap kapan saja menipu lagi melenakan. Maka lihatlah jiwamu, mestinya mencangkupkan pada jiwa-jiwa lain, di kukuhnya keimanan itu.

Yang menjadi pertanyaan penting kemudian, seperti itukah dirimu? Baik kemarin, saat ini dan di benak dalam rancang diri masa depan. Jika belum, sekali lagi, mari belajar bersama, mari memahami, bagaimana seharusnya menjadi wanita menurutNya.

Ya, wanita menurutNya. Bukan menurut diri kita, bukan menurut teman-teman, bukan menurut keluarga, bukan menurut murabbiyah, bukan menurut pandangan umum, bukan pula menurut tuntutan zaman.

Wanita, yang jelas dicipta beda dengan lelaki. Dan pembeda itu meletakkan kita pada kata kodrat. Bahwa kita yang telah ditakdirkan menjadi wanita memiliki kodratnya sendiri. Ada fungsi tugas dan tanggung jawab yang telah dinarasikan dalam agama rahmat ini. Dari sinilah titik pembahasan yang akan kita mulai, tentang kewanitaan itu sendiri.

Mari kita mulai dari pembeda paling jelas nan kasat mata, meski mungkin dari sebagian kita bukan lagi masalah. Namun ku ajak kau menyentil kembali tentang cara kita memperlakukan fisik.

Bukan lagi masanya mendebatkan hukum menutup aurat. Karena perintah itu jelas tersurat, dan dipraktekan oleh para isteri Nabi saw dan muslimah di masanya, serta beberapa generasi muslimah sesudahnya. Pun, jangan kemukakan alasan klasik sebagai argument pembenaran, yang dibungkus dengan kata indah namun salah ;“Yang penting jilbabi hati”, “Buat apa berjilbab kalau akhlaqnya buruk”

Tidak saudariku, bukan begitu cara pandang yang tepat untuk hal ini. Dua konteks yang berbeda dijadikan dalam satu tema. Memang idealnya begitu, jilbab diri cerminan “jilbab” hati. Namun bukankah perintahnya jelas? Tentang bagaimana seorang wanita Islam memperlakukan fisiknya. Bahwa tak ada yang boleh terlihat selain mahram, kecuali muka dan telapak tangan. Tak ada satu ayat atau hadist-pun yang tak memantaskan wanita Islam untuk menutup aurat karena kondisi hati dan akhlaq.

Ini tentang fisikmu saudariku, fisikmu! Sementara hati, adalah konteks lain, yang seharusnya juga kita cakupi dalam lingkaran keimanan ini. Pun Demikian akhlaq, bagian dari kesempurnaan kita sebagai muslimah. Maka jilbabi fisik, jilbabi hati dan perbaiki akhlaq, adalah satu kesatuan yang saling mendukung kita untuk menjadi wanita seperti yang diinginkanNya.

Dan sekarang, hanya soal kesungguhanmu untuk menutup aurat yang bersesuaian dengan perintahNya. Ya, bersesuaian dengan perintahNya. Sebab, disini syarat-rukunnya mutlak berlaku. Bahwa definisi menutup aurat bagi wanita Islam adalah membuatnya tidak tampak baik rupa maupun bentuknya. Maka, jelas sudah mengapa harus longgar tak menampakkan lekuk tubuh. Pun, tak transparan, menyamarkan bagian yang seharusnya tak tampak.

Percayalah saudariku, ini akan menjadi perintah yang sangat indah, jika kita jalani dalam pijakan keimanan dengan konsep dasar ketauhidan. Mengesakan Allah sebagai Rabb pencipta alam yang melandasi kesyukuran kita sepanjang waktu, Dzat yang dituju dalam kehidupan, sehingga semua tutur dan laku mencakupkan dirinya dalam ibadah, yang hanya terniatkan murni untukNya, dan Dzat yang maha mengatur, yang wajib ditaati segala aturanNya. Kemudian, jangan tahan dirimu dan biarkan segenap jiwamu mengagumi Asma wa sifatNya. Rasailah pesona keangungan dari segala sumber pesona.

Berikutnya, ku ajak engkau menyentil juga bahasan tentang sikap dan sifat kita. Bahwa dalam hal ini, wanita dan lelaki berbeda dan dibedakan itu benar adanya. Maka, mengenali karakter kita sebagai wanita adalah hal yang tak dapat dinafikkan.

Nabi saw tegas mengambil sikap dalam hal ini melalui penjejelasan di beberapa hadistnya :

Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria” (Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dari Abdullah bin Amru yang berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.” (Ahmad II/199-200)

Dari Ibnu Abbas yang berkata: Nabi shalallohu ‘alahi wa sallam melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : “Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan.” Dalam lafadz lain : “Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria.” (Al-Bukhari X/273-274).

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu).” ( Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi).

Kiranya, tak perlu ada pertanyaan, karena semuanya sudah jelas. Maka, percaya-dirilah menjadi wanita dengan sikap dan sifat kewanitaan itu sendiri. Lembut bukan berarti lemah, anggun bukan berarti centil, menangis bukan berarti cengeng dan rapuh.

Sekarang, lihat dirimu. Yang sedang dalam upaya kembali kepada semua fitrah wanita. Menjadi perhiasan terindah tak lekang zaman, wanita shalihah.

MasyaAllah… betapa Islam telah memuliakan kita dengan kedudukan tinggi lagi terhormat. Serta penjagaan terbaik dari segala potensi fitnah. Lalu, adakah alasan yang bisa menjelaskan jika kita masih berpaling dari semua kemuliaan ini?

Wallahu’alam bishawab….

To be continue….

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurudin | Swasta
Sekilas KSC memiliki apa yang dimiliki facebook yang membuat banyak orang 'kecanduan'. Tapi bila dicermati, facebook tidak memiliki apa yang dimiliki KSC. Maaf facebook, tak lama lagi aku akan meninggalkanmu, aku mendapatkan apa yang tak aku dapatkan darimu.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2809 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels