|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://yayujapan.multiply.com |
|
yayu_indriyani@yahoo.com |





Sabtu, 7 September 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Sri Yayu Indriyani R.
Anak satu, anak dua, anak tiga, walau lahir dari perut yang sama, ayah ibu sama, tetapi ternyata Allah SWT menganugerahkan karakter yang berbeda-beda. Mereka tiga bersaudara yang hanya terpaut satu setengah tahun saja.
Aku sebagai ibu, mama, okaasan, haha, mother, ummi mereka harus senantiasa belajar menemukan karakter baik dan buruk mereka. Karakter buruk yang muncul senantiasa menjadi “warning” bagiku untuk berusaha mengurangi, menghilangkan, bahkan merubahnya menjadi karakter yang baik.
Berputar-putar untuk mengulangi, mengingatkan karakternya yang kurang baik, sering berulang-ulang. Bosankah? Sesekali muncul rasa itu. Tapi semangat harus tetap dibangun. Toh, mereka masih kecil. Si-sulung pun baru delapan tahun.
Saat semangat mulai luntur, aku mulai mengadu. Pertama, pada Rabb Sang Pencipta buah hati. Kedua, aku sampaikan pada pasangan hidup, suami tercinta. Kami kemudian merenung bersama dan mengingat masa kecil. Perubahan-perubahan seringkali tanpa disadari hadir pula pada diri kami, khususnya pada diriku.
Perubahan memang perlu perjalanan panjang. Hari ini, aku menyaksikan satu perubahan besar pada salah satu buah hatiku. Ia pulang membawa sebuah kartu dari ibu guru di sekolah. Kartu yang mungkin sudah biasa diterima oleh sebagian teman-temannya. Tapi bagiku, bagi buah hatiku, kartu ini harus kami lewati selama hampir setengah tahun.
Kartu perfect bulan November, begitulah putraku menyampaikannya dengan wajah berseri sepulang sekolah. Kartu spesial ini diberikan pada anak-anak yang telah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan rumah secara sempurna. Kartu ini dapat ditukar kapanpun untuk memperoleh hari bebas PR.
Bagi kami di balik kartu itu, ada satu hal yang harus kami raih dengan penuh perjuangan. Konsisten menanamkan cara menulis dengan rapi. Satu dulu saja targetku!
Konsentrasi penuh mendampingi setiap mengerjakan pekerjaan rumah. Aturan tertulis yang dibuat bersama dan reward yang akan didapat jika telah berhasil.
Perjuangan memang belum selesai. Satu tahap, alhamdulillah mulai terlewati. Akhirnya berbuah “hana maru”, tanda nilai terbaik dari guru. Namun kekonsistenan adalah hal yang lebih berat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Yayu Indriyani R. sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.