|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://yayujapan.multiply.com |
|
yayu_indriyani@yahoo.com |





Sabtu, 4 Mei 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Sri Yayu Indriyani R.
Suatu saat, saya berbincang dengan suami tentang pendidikan anak. Ide ini tercetus setelah mendengar sebuah siaran radio online tentang promosi sebuah yayasan pendidikan.
Salah seorang guru menyebutkan,” Di yayasan ini, anak akan dididik dengan berbagai pelajaran dengan kurikulum yang terbaik. Fasilitas anak akan dilengkapi, termasuk mesin cuci dan lain-lain. Si anak akan dibebastugaskan dari “mencuci” supaya dapat konsen belajar.”
“Deg…” Jantung saya berdegup.
Menurut pengamatan saya, ada kalimat yang kurang tepat dari guru yayasan tersebut. Saya tidak terima ini dan ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana si anak itu bisa hidup di kemudian hari.
Saya bersikeras perihal mengajarkan anak mencuci itu penting. Ini adalah sebagian ilmu hidup buat mereka. Jangan pikir mencuci itu enteng dan ringan, tentu masih banyak ilmu hidup lainnya yang harus diberikan pada si anak.
Cerita lain, saat si-sulung masuk Shougakkou (SD), saya mulai mengamati betul pendidikan yang diberikan untuk dia. Mulai dari membaca, menulis, menggambar itu masih di bawah prediksi saya. Tapi ketika mulai diajarkan menyanyi, menggunakan alat musik, berenang sejak kelas satu SD, saya mulai berpikir lebih jauh jenis pendidikan apa lagi yang akan diberikan pada anak-anak kemudian.
Saat mengantar makan siang anak setiap hari ke Shougakkou, sesekali saya perhatikan seluruh ruangan yang ada. Terlihat persis di depan tangga menuju ruang kelas satu, ada sebuah dapur yang luas lengkap dengan peralatan.
“Wah... memasak menjadi salah satu bahan pelajaran berikutnya!” saya pikir.
Semakin penasaran, saya ingin mengetahui lebih banyak lagi. Saya perhatikan sekilas jejejeran mesin bertutup kain putih di ruangan tersebut. Ah... deretan mesin jahit.
Hatipun jadi ikut berdegup, berarti anak akan diajarkan menjahit pula. Ini artinya saya harus belajar dari sekarang.
“Seru nih!” Aemakin penasaran.
Suatu hari lain, saya mendengar suara kayu dipukul.
“Nah... kalau yang ini, rupanya anak-anak kelas lima sedang membuat prakarya dari kayu, belajar dari seorang tukang kayu.”
Sayang, ada suatu hal penting yang terlewatkan. Ya, tidak ada pelajaran agama Islam di Shougakkou (SD) ini.
Bertolak belakang dengan sebuah yayasan yang saya sebutkan di atas. Yayasan itu mengajarkan perihal agama Islam dengan porsi yang sangat banyak. Sayangnya, perihal ilmu hidup, mencuci misalnya, mereka lupakan.
Pendidikan agama itu paling penting, tidak boleh ditinggalkan. Tapi masih ada ilmu lain, juga jangan dilupakan.
Suatu hari saya mencoba meminta izin agar anak diperkenankan shalat di saat istirahat siang Shougakkou. Pun sesekali dia bolos shalat, sampai gurunya meminta maaf pada saya. Inilah cara mendidik, seringkali diulang dan diajarkan. Saat lupa, terus diingatkan, namanya juga anak-anak, masih perlu waktu untuk mendidiknya.
Insya Allah, saya bertekad untuk memberikan semua ilmu hidup pada anak-anak, minimal anak-anak sendiri. Ajarkanlah secara syumulliyah, bukankah ajaran Islam pun harus diberikan secara syumul, bukan sebagian-sebagian?
Hari Sabtu lalu, si-sulung pun dengan riang menggosok sepatu kelasnya yang sudah hitam. Saya tersenyum dan ini baru tambahan satu ilmu hidup yang saya ajarkan.
Semoga beberapa ilmu hidup lainnya, satu persatu dia akan terima. Ini adalah amanah seorang orangtua.
Bismillah… ganbarimasyou!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Yayu Indriyani R. sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.