|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Sabtu, 13 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
"Ade sudah merapikan mainan, Ade pinter ya, Mi?" celoteh Sarah pada ibunya suatu sore setelah selesai bermain.
"Iya, Ade pinter sudah bisa merapikan mainan sendiri."
Tak lama kemudian Sarah mengulangi ucapannya saat ayahnya tiba dari kantor. "Ade pinter kan, Bi? Bisa merapikan mainan sendiri."
Ayah dan ibu Sarah sudah faham betul bahwa Sarah, putri bungsunya, memang senang dipuji dan dibanggakan. Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa anak memang membutuhkan pujian sebagai bukti pengakuan atas diri dan kemampuannya. Hal tersebut dianggap wajar dalam batas tertentu. Namun, akan menjadi masalah bila orangtua kurang bijak dalam menyikapinya.
Kebiasaan si kecil yang ingin selalu dipuji menurut Catharina W.M, M.Psi, seperti dikutip sebuah tabloid anak, tidak muncul dengan sendirinya. Bisa saja berawal dari kebiasaan orangtua sendiri. Misalnya sering memberikan pujian secara berlebihan kepada anaknya di depan umum. Efeknya anak selalu merasa haus akan pujian yang diungkapkan dengan mengucapkannya secara berulang-ulang bila orangtua terlambat memberi pujian.
Jangan sekali-kali membandingkan anak dengan (saudara) yang lain. Hal ini akan mendorong untuk selalu bisa mengalahkan orang yang dianggap sebagai rivalnya untuk mendapatkan sebuah pujian. Anak merasa itulah jalan untuk menunjukkan eksistensinya. Lama-lama ia akan terus mencari kesempatan untuk mendapatkan pujian itu. Sedikitnya kesempatan orangtua untuk menemani si kecil turut pula membentuk pribadi yang haus perhatian lebih. Karena itu sempatkanlah untuk selalu punya waktu bagi si kecil agar ia tidak merasa kurang diperhatikan.
Sepintas, sering memuji anak bukanlah hal yang sulit dan tidak merugikan bagi anaknya. Namun jangan salah, justeru anak yang sering dipuji (di depan umum) secara berlebihan akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan suka pamer. Ia akan membutuhkan pengakuan dari sekelilingnya atas semua yang ia lakukan. Bahkan ia merasa tidak yakin apa yang ia lakukan itu benar tanpa sebuah pujian.
Selain itu, anak akan selalu merasa hebat sendiri. Sulit menerima kritik dan selalu ingin disanjung. Akhlaq yang muncul adalah anak menjadi sombong, tidak peduli lingkungan, tidak siap gagal dan berani melakukan apapun demi pujian. Karena itu, sebagai orangtua kita dituntut untuk bijak menentukan sikap. Tahu betul kapan pujian itu harus diberikan pada si kecil.
Waktu yang tepat bagi kita untuk memberi pujian adalah langsung saat ia melakukan hal yang baik, sebelum anak merasa perlu meminta pujian dari kita. Misalnya, saat anak bisa bangun tanpa menangis langsung kita dekati. Ungkapkan, "Alhamdulillaah, anak Umi yang shaleh bisa bangun sendiri." Kemudian segera ajak anak untuk mengucapkan do'a bangun tidur. Lalu ajak pula untuk melakukan hal yang baik lainnya. Misalnya, "Ayo De, sekarang cuci muka dan sikat gigi biar segar." Dengan demikian anak akan tahu prestasinya, bukan hanya bangun pagi tanpa mengangis, namun masih banyak hal baik lainnya yang harus ia lakukan.
Anak peka sekali terhadap perasaan orangtuanya. Karena itu ungkapkan pujian dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Jangan ucapkan sambil lalu. Hingga anak tahu yang kita ucapkan bukan basa basi. Saat anak berhasil, berikan pujian sewajarnya. Jangan melebih-lebihkan. Misalnya "Anak Umi paling pinter di dunia, paling cantik se-Indonesia," dan yang sejenisnya. Suatu waktu nanti, ia kurang merasa puas bila mendapat pujian yang biasa-biasa saja. Ia akan menuntut pujian dengan standar tinggi.
Jangan lupa tanamkan dalam diri si kecil bahwa yang hebat bukan hanya dia. Siapa pun bisa berprestasi bila mau berusaha. Yakinkan bahwa prestasi yang telah diraihnya atas karunia Allah SWT. Tanpa bantuan Allah, mustahil ia dapat meraihnya. Penanaman sikap seperti ini akan membuat ia menjadi rendah hati.
Terakhir, jangan sekali-kali mempermalukan anak, apalagi di depan umum. Dampaknya sangat berpengaruh pada kepribadiannya. Ia akan kurang percaya diri dan kehilangan motivasi sesudah diberi ungkapan yang mempermalukan dirinya. Ketika ia berprestasi, ia akan meminta orang lain memberikan komentar berupa pujian kepadanya. Tujuannya, agar ia yakin bahwa ia telah berprestasi atau melakukan suatu kebaikan.
Anak adalah sebuah investasi. Rawat dan didiklah ia sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya. Agar, ketika kita telah tiada, Allah memberikan pahala kepada kita berkat amal shalih yang telah dilakukannya. Wallahu a'lam.
Desi Nurlaeli, S.Pd. - Swadaya
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.