|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Sabtu, 26 Januari 2013 pukul 15:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Sebagai seorang muslim, tentu kita ingin selalu memberikan dan menghasilkan yang terbaik dalam kehidupan ini. Kecuali untuk mereka yang MEMILIH menjadi orang yang biasa-biasa saja. Sungguh amat rugi bagi mereka yang memilih menjadi orang biasa. Lebih tepatnya, itu bukan pilihan, tetapi kutukan.
Pernahkah kita berpikir bahwa ada banyak sekali hal yang tanpa kita sadari menjadi celah untuk melemahkan jiwa kita sebagai muslim untuk melakukan yang terbaik. Berikut ini ada 10 hal yang menjadi bibit keburukan jiwa, tetapi tenang karena disertai pula obat penawarnya.
Seorang sholihin berkata,“Aku memperhatikan dan memikirkan dari pintu mana syetan masuk ke dalam diri manusia. Ternyata ia masuk melalui sepuluh pintu :
Pertama, Serakah dan buruk sangka. Maka aku melawannya dengan sifat qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan sikap percaya (yakin).
Kedua, cinta kehidupan dan panjang angan-angan. Maka aku melawannya dengan rasa takut maut menjemput secara tiba-tiba sehingga aku selalu memberikan yang terbaik untuk meraih cita-cita yang terbaik pula.
Ketiga, ingin hidup santai dan serba nikmat. Maka aku melawannya dengan hilangnya kenikmatan dan perhitungan yang pahit.
Keempat, ujub (bangga diri). Maka aku melawannya dengan kesadaran bahwa semua yang ada adalah anugerah dari Allah dan dengan rasa takut akan akibat yang akan terjadi.
Kelima, Meremehkan dan kurang menghormati orang lain. Maka aku melawannya dengan mengetahui hak dan kehormatan mereka.
Keenam, dengki. Maka aku melawannya dengan qona’ah dan puas dengan apa yang Allah bagikan kepada makhluk-Nya.
Ketujuh, riya dan senang dipuji orang. Maka aku melawannya dengan ikhlas.
Kedelapan, kikir. Maka aku melawannya dengan kesadaran akan binasanya apa-apa yang ada di tangan makhluk dan kekalnya apa-apa yang ada di sisi Allah swt.
Kesembilan, sombong. Maka aku melawannya dengan sifat tawadlu (rendah hati).
Kesepuluh, tamak. Maka aku melawannya dengan tsiqoh (yakin) terhadap apa yang ada pada sisi Allah dan zuhud (meninggalkan apa yang ada pada manusia).
Tulisan ini disadur dari buku Komitmen Muslim kepada Harokah, Fathi Yakan dengan beberapa perubahan. Semoga bermanfaat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.