|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Kamis, 3 Januari 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Hari ini rasanya seperti mimpi. Saat pagi mengecek inbox e-mail, tiba-tiba ada pesan dari seorang teman yang mengungkapkan duka cita karena salah seorang guru terhebat saya meninggal dunia, Pak Houtman Z. Arifin. Mungkin sahabat mengetahui kehebatan beliau yang melegenda dengan cerita berhasilnya seorang office boy yang kemudian menjadi seorang vice president Citibank. Sebuah cerita yang luar biasa.
Saya sendiri langsung teringat dengan kenangan sewaktu saya bertandang ke rumah beliau yang rasanya itu baru terjadi kemarin. Beliau berpesan kepada saya, “Saya senang sekali dengan anak muda yang penuh dengan ide dan gagasan, tetapi tetap aksi nyatalah yang menentukan apakah kebaikan itu bisa terwujud atau tidak.” Sebuah sentilan sewaktu saya mengungkapkan gagasan-gagasan tentang bisnis dan ide pengembangan masyarakat. Bahkan beliau menantang saya untuk membuat sebuah proposal proyek gerakan sosial masif yang akan beliau tanggung secara langsung seluruh biayanya.
Walaupun pertemuan saya dengan Pak Houtman singkat dan mungkin beliau juga tidak ingat dengan saya, tetapi saya akan selalu terkenang dengan gebrakan beliau yang benar-benar seorang yang berorientasi aksi. Beliau selalu tidak pernah banyak berkata. Jika itu memang kebaikan, maka lakukanlah! Salah satu nasihat yang pernah saya dapatkan dari beliau, “Makna dan keberhasilan hidup itu bukan bergantung dari seberapa banyak sertifikat yang kamu dapat, tetapi bagaimana keberadaanmu senantiasa dinanti di hati setiap orang karena mereka merasakan manfaat dengan adanya keberadaan dirimu.”
Saya sempat menitikkan air mata sewaktu beliau menceritakan filosofi tentang buku beliau, Visa ke Surga. Jikalau kita ingin ke Jepang, Amerika, atau Eropa saja kita butuh visa, bagaimana jika kita ingin ke surga? Kalau kita ingin masuk ke sebuah negara, kita akan dengan hati-hati mempersiapkan segalanya. Mulai dari berkas-berkas, pengecekan formulir, persyaratan, paspor, bahkan hingga interview. Lantas apakah langsung dapat? Belum tentu, karena semua berkas harus diperiksa terlebih dahulu apakah memang sudah memenuhi syarat.
Sama persis dengan visa ke surga. Sudahkah kita mempersiapkan segala macam berkas-berkas yang kita perlukan untuk bisa menginjakkan kaki ini di surga-Nya? Berapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan dengan ikhlas tulus kepada-Nya? Berapa banyak manfaat yang sudah kita semaikan di dunia untuk kebaikan manusia ciptaan-Nya? Setelah sekian banyak kita melakukan keduanya, bisakah kita memastikan bahwa kita mendapat visa itu? Tidak, untuk itulah setiap visa ke surga yang turun bukan karena amalan yang kita lakukan, tetapi memang karena rahmat Allah yang menyebabkan visa itu turun.
Jika orang yang sudah banyak beribadah dan menyemai manfaat saja masih belum pasti mendapat visa, bagaimana dengan mereka yang menyia-nyiakan hidup mereka tanpa kebaikan sama sekali? Bahkan, seorang Nabi Muhammad yang visanya sudah pasti turun pun masih terus melaksanakan shalat wajib dan sunnah, bahkan tahajud setiap hari secara konsisten.
Selamat jalan, guruku tercinta. Terima kasih sudah mengajarkan banyak ilmu di sebuah pertemuan singkat sewaktu engkau mengundangku untuk bertandang. Semoga apa yang saya tuliskan ini bisa menjadi tabungan ilmu bermanfaat yang kau berikan, dan membuatmu semakin cepat mendapatkan visa ke surga-Nya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.