QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Ternyata… Syukur itu Ada Kuncinya
29 Februari 2012 pukul 11:00 WIB
Surat Al-Kahfi; Surat untuk Mengoreksi Diri
8 Februari 2012 pukul 12:30 WIB
Melanjutkan Perjuangan Umar Bin Khattab
4 Februari 2012 pukul 12:00 WIB
Dua Hal yang Paling Ditakuti Manusia
18 Januari 2012 pukul 11:00 WIB
Seharusnya, Hari Kedua Orangtua
24 Desember 2011 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 17 Maret 2012 pukul 13:13 WIB

Gonjang-Ganjing BBM

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Informasi terkini ihwal Bahan Bakar Minyak (BBM) di negeri ini, baik yang dimuat di media massa maupun yang ditayangkan di televisi, hanya berkisar pada kenaikan harga BBM dan kelangkaannya. Sehingga menjadi pertanyaan menarik, kenapa negeri ini acap kali mengalami kenaikan dan kelangkaan BBM? Apakah ada hubungannya dengan gejolak politik yang terjadi di Timur Tengah? Ataukah ada sebab-sebab lain yang membuat BBM selalu menjadi langka?

Aneka pertanyaan akan muncul di benak kita bila merenungkan kenapa harga BBM harus naik dan mulai mengalami kelangkaan. Memang, semua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Bila dikaji dari sisi konflik atau gejolak politik di Timur Tengah memang sangat memungkinkan kenaikan BBM terjadi. Pasalnya, peristiwa ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Saat terjadi gejolak politik di Mesir, dan ketika itu Husni Mubarak tidak mau mundur dari kursi kepresidenannya, harga minyak juga mengalami kenaikan. Di beberapa media diwartakan bahwa harga minyak sempat menyentuh US $ 140 per barel. Dengan kondisi saat Muammar Qadafi yang enggan mengundurkan diri harga minyak telah mencapai US$ 103 per barel.

***

Kenaikan BBM

Bila diamati dengan seksama, kondisi krisis yang terjadi di Timur Tengah memang membuat Indonesia berada di tengah kebingungan. Hal ini tampak dari adanya gonjang-ganjing kenaikan harga BBM. Ini menjadi trend topik yang tak luput dibicarakan. Malah, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa telah mengeluarkan tiga opsi jika nantinya beban subsidi BBM membangkak. Pertama, produksi minyak tidak boleh meleset supaya bisa dimanfaatkan sebagai penerimaan negara. Kedua, pemerintah akan melakukan penghematan besar-besaran. Ketiga, kalau harga minyak memang melambung tinggi sehingga mempengaruhi defisit, pemerintah akan berbicara dengan DPR.

Opsi yang dilontarkan Menteri Koordinator Perekonomian tersebut lebih didasari atas laporan Ketua Tim Pengawasan Kebijakan Bahan Bakar Minyak bersubsidi, Anggito Abimanyu. Alasan yang diungkapkannya lebih cenderung menyelamatkan bahan bakar bersubdi. Karena menurut Anggito, jika tidak segara dilakukan pengaturan harga bahan bakar dengan cara menaikkan harga BBM untuk kendaraan pribadi roda empat dan dua, dipastikan subsidi bakal membengkak.

Sejatinya, opsi keingian menaikkan harga BBM harus dilihat secara holistik. Tidak hanya sepihak. Dilihat dari sisi ekonomi dan kondisi masyarakat. Meski pasal 7 Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 menyatakan, jika kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) melebihi 10 persen dari asumsi harga minyak pada APBN sebesar US $ 80 per barel, pemerintah memiliki kewenangan menaikkan harga.

Saat ini, bila dikaji dari sisi survey tingkat kepercayaan konsumen tengah berada pada posisi titik yang rendah. Maka menaikkan bahan bakar saat ini sangat perlu ditinjau ulang. Artinya, pemerintah bisa saja menaikkan BBM, tapi menunggu kesiapan masyarakat terlebih dahulu. Hemat penulis, saat ini masyarakat tengah menikmati turunnya harga pangan pasca inflasi. Cukup menghebohkan nantinya, jika harga minyak naik tapi harga pangan cenderung kecil mengalami penurunan. Sangat mungkin sekali masyarakat kaget dan menjadi pelaku pertama yang mengalami imbas yang tidak wajar. Tak hanya itu, jika BBM mengalami kenaikan, dikhawatirkan juga suku bunga juga akan mengalami kenaikan. Dan ini sudah sering terjadi.

Karena itu, perlu dilakukan kajian mendalam dan serius oleh Menteri Koordinator Perekonomian dengan melibatkan ekonom, tim pengawas BBM, Pertamina dan, kalau perlu, anggota DPR. Dengan duduk bersama diharapkan akan tergagasnya penyelesaian yang baik. Baik untuk rakyat dan baik untuk pemerintah.

***

Kelangkaan BBM

Pembahasan mengenai kenaikan harga BBM belum tuntas dibahas. Sudah muncul informasi sudah terjadi kelangkaan BBM di sejumlah daerah. Kelangkaan ini saja sudah membuat masyarakat bingung, apalagi jika benar harga BBM jadi dinaikkan. Pasalnya, fenomena seperti ini sudah pernah terjadi. Awal tahun lalu juga kejadian kelangkaan BBM pernah tayang. Bahkan kelangkaan BBM kali ini cukup menggelikan. Jika kelangkaan BBM terjadi di daerah terpencil cukup wajar. Tapi jika kelangkaan BBM terjadi di daerah yang mudah untuk mendapatkannya, seperti Riau yang merupakan produsen minyak terbesar di dunia cukup aneh, bukan? Apalagi kelangkaan BBM juga terjadi di daerah yang tidak jauh dari kilang Balongan, Indramayu. Yaitu, daerah Karawang.

Jika penyelesaian kelangkaan BBM saja tak bisa diatasi, di mana nurani pemerintah jika ingin menaikkan harga BBM?

Alasan yang diungkapkan pihak Pertamina Ihwal kenaikan BBM pun sungguh sulit diterima. Alasan pertama yang mereka ungkapkan adalah cuaca buruk untuk bisa menyediakan pasokan BBM di daerah-daerah. Alasan ini sungguh lucu. Penulis berani mengklaim demikian lantaran semua orang tahu bahwa setiap awal tahun gelombang tinggi akan menggangu transportasi laut. Jika ini menjadi alasan sungguh menunjukkan betapa kurangnya antisipasi Pertamina dalam hal ini. Seharusnya, Pertamina memiliki koneksi yang kuat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Sehingga selalu mendapatkan informasi bila cuaca akan buruk. Sehinggga tidak menghambat pemasokan BBM di daerah. Dan, Pertamina pun harus menyediakan pemasokan yang besar jauh-jauh hari sebelum cuaca buruk menghambat.

Alasan kedua yang menjadi penyebab kelangkaan BBM ihwal yang terjadi di Riau adalah, dikarenakan adanya perbaikan kilang di Dumai. Ini pun cukup menggelikan. Seharusnya, Pertamina menyiapkan kilang cadangan. Pasalnya, BBM itu adalah kebutuhan masyarakat umum. Mau tidak mau Pertamina menyiapkan kilang cadangan. Dengan alasan seperti ini, publik bisa dengan gampang menilai, bahwa kurang bagusnya menejemen Pertamina. Karena tidak mungkin melakukan perbaikan jika tidak memiliki perencanaan. Jika melakukan perbaikan tanpa perencanaan, jelas sekali perencanaan yang dimiliki Pertamina sah untuk diklaim amburadul.

Akibatnya, khalayak merasa dirugikan. Harus rela berjam-jam mengantri untuk mendapatkan seliter bensin. Bahkan, tak sedikit khalayak harus rela mengeluarkan uang berkali-kali lipat dari harga bensin standar. Khalayak harus melakukan demikian agar urusannya tidak terganggu dan tidak membuang waktu yang sia-sia.

Selain sulitnya mendapatkan BBM, dikhawatirkan nantinya juga khalayak akan kebingungan lagi. karena jika BBM sudah langka, transportasi umum dan barang juga akan terganggu. Efek sampingnya, pasokan kebutuhan sehari-hari publik pun akan terhambat. Jika sudah demikian, harga barang pun menjadi naik dan situasi ini menyebabkan inflasi menjadi terdorong. Padahal, saat ini inflasi sudah tinggi, yaitu berkisar 5,3-6 persen.

Karena itu, pemerintah segera melakukan kajian ulang. Kajian untuk segera menyelesaikan masalah BBM dengan serius. Kenaikan BBM harus dilihat secara holistik, dan kelangkaan BBM harus disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai terjadi peristiwa seperti kelangkaan cabai yang menyebabkan inflasi melonjak hingga 7 persen. Jika cabai saja sudah bisa menyebabkan kenaikan inflasi yang begitu besar, bagaimana pula jika kelangkaan BBM yang telah menjadi bahan bakar perekonomian? Masihkah pemerintah lamban untuk mengkaji masalah ini?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1276 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels