QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Melanjutkan Perjuangan Umar Bin Khattab
4 Februari 2012 pukul 12:00 WIB
Dua Hal yang Paling Ditakuti Manusia
18 Januari 2012 pukul 11:00 WIB
Seharusnya, Hari Kedua Orangtua
24 Desember 2011 pukul 12:00 WIB
Energi Syukur dan Sabar dalam Doa
7 Desember 2011 pukul 11:00 WIB
Fikih Plastik Kresek
12 November 2011 pukul 13:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 8 Februari 2012 pukul 12:30 WIB

Surat Al-Kahfi; Surat untuk Mengoreksi Diri

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Rasulullah SAW bertutur, “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at, akan menyinarinya cahaya antara dua Jum'at.” Apa makna kandungan hadits ini? Mengapa umat Islam disunnahkan pada hari Jum'at membaca surat Al-Kahfi? Apa keistimewaan surat Al-Kahfi dibandingkan dengan 113 surat lainnya di hari Jum'at hingga menempati posisi teratas untuk dibaca?

Adalah sebagai seorang muslim, kita boleh memikirkan apa yang dianjurkan untuk dilakukan, namun bukan untuk merusak eksistensi atau keberadaan ibadah tersebut. Memikirkan masalah seperti ini penting agar melahirkan perenungan atau pentadabburan yang sangat bijaksana. Sehingga, ketika membaca surat Al-Kahfi, kita tidak hanya memikirkan keistimewaannya, tapi juga mampu menangkap pesan yang tersimpan di dalam surat tersebut.

Di antara kitab tafsir yang mengupas pertanyaan tersebut adalah, tafsir Fi Zilal al-Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb. Ia mengatakan, bahwa tema sentral yang dapat ditangkap dalam surat al-Kahfi ada 3 hal. Ketiga hal tersebut menjadi penilaian penting, karena isinya mengungkapkan tentang koreksi diri.

Pertama, koreksi Akidah. Jika dibaca surat al-Kahfi dengan komplit, ia diawali dan diakhiri dengan menyeroti persoalan akidah. Karena bedanya Islam dengan agama yang lain, salah satu persoalannya terletak pada konsep akidahnya. Dengan diawalinya surat al-Kahfi dengan pujian terhadap diri Allah SWT., secara nyata Allah mengingatkan kita layaknya meyakini bahwa hanya Allah yang memberi rezeki. Dari rezeki memiliki akidah yang diakui Allah SWT. hingga rezeki bisa mengirup udara.

Jika ditelusuri, sejarah penamaan al-Kahfi tak luput dari kisah ada beberapa orang pemuda yang mempertahankan akidahnya dari tuntutan menserikatkan Allah. Mereka tidak ingin dipaksa oleh penguasanya Dikyanus untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan. Akhirnya, mereka pun lari ke gua. Hingga Allah menidurkan mereka selama 309 tahun di dalamnya.

Bila dirujuk pada awal surah Allah SWT berfirman, “segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya.” Artinya, Allah mengingatkan bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada yang berlawanan dan tidak ada juga penyimpangan dari kebenaran. Malah, pada ayat selanjutnya, Allah juga mengingatkan akan siksa yang sangat pedih serta pesan bijak, siapa yang mengerjakan kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Jika diperhatikan, bukankah Allah mengingatkan umat Muhammad SAW. tentang ketauhidan. Yaitu hanya Allah yang harus disembah dan hanya kepadanya tujuan kita beribadah?

Membincang masalah tauhid, saat ini kita memang layak untuk selalui ‘merenovasi’ nilai-nilai akidah kita. Caranya, dengan selalu mengakui bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hanya Allah Tuhan yang layak disembah. Dan Allah jugalah yang menjamin hidup kita di dunia ini. Dalam kehidupan kita sehari-hari sudah cukup banyak fenomena yang mulai melenceng dari akidah yang murni. Banyak orang menjadi pekerjaan yang menjamin rezekinya. Ia lupa bahwa yang memberi rezeki adalah Allah. Pekerjaan adalah usaha untuk mendapatkan rezeki dari Allah. Seharusnya, habis bekerja segera berdoa kepada Allah agar dimudahkan rezeki. Bukan menghitung-hitung tanggal kapan menerima gaji.

Kedua, koreksi metode berfikir. Allah menginginkan umat Muhammad untuk selalu mengeroksi metode berfikirnya. Artinya, sesudah memiliki akidah yang lurus, dituntut oleh Allah untuk harus berfikir yang benar. Segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan harus dengan landasan yang jelas dan benar. Bukan berdasarkan anggapan-anggapan yang tidak berdasar, apalagi sekedar ikut-ikutan. Hal ini tertuang dalam surat al-Kahfi ayat 27. Allah SWT berfirman, “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padanya.” Artinya, Jadikan rujukan dalam beribadah selalu bersandarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Jika tidak dapat memahaminya, segeralan bertanya kepada orang yang lebih mengetauhinya, yaitu para ulama. Karena Allah SWT. mengatakan, “Tanya kamulah para ahli zikir (ulama) jika kamu tidak mengetahui.”

Cukup banyak umat Islam melakukan ibadah yang, terkadang, mereka tidak mengetauhi. Misalnya, ketika membaca firman Allah surat al-Ahzab ayat 56 sebelum azan. Seorang muazzin sebenarnya harus paham, bahwa ayat tersebut bukanlah bagian dari azan. Jika ia yakini bahwa ayat tersebut bagian dari azan, maka ia telah melakukan bid’ah. Dia harus meyakini bahwa yang dibacanya hanyalah ayat qur’an. Karena tidak ada larangan al-qur’an maupun hadis seseorang membaca ayat atau surat dari al-Qur’an sebelum azan. Artinya, jika muazzin membaca ayat atau surah lain sebelum azan, maka kita tidak boleh menyelahkan. Karena tidak ada satu hadis pun yang menyatakan mesti membaca ayat tertentu sebelum azan.

Ketiga, koreksi norma. Allah selalu mengingatkan kita untuk selalu mengoreksi norma-norma yang berlaku dalam kehidupan kita. Karena di dalam kehidupan ini segala sesuatu memiliki tolak ukur kebenaran dan kebaikan. Melalui surat al-Kahfi, Allah SWT. mengingatkan umat Islam agar jangan sampai terjebak pada penilaian dan tolak ukur yang bersifat duniawi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus”. (QS. Al-Kahfi [18]: 7-8))

Artinya, umat Muhammad harus selalu mengingat bahwa dunia itu adalah tempat bercocok tanam, bukan tempat kita untuk memetik hasil. Oleh karena itu, Allah langsung menunjukkan contohnya melalui surat al-Kahfi dengan mengingatkan nabi Muhammad SAW. dengan tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang kafir yang senantiasa mengiming-imingi Rasul dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Hal ini terkait, dengan kemauan para pembesar Quraish yang menyatakan bahwa mereka mau masuk Islam kalau Rasulullah mengusir sahabat-sahabat yang memiliki martabat manusiawi yang rendah, seperti Bilal, Suhaib, Ammar, Khabbab, dan Ibnu Mas’ud atau membuatkan majlis tersendiri untuk mereka. Karena itu, Allah memaktubkan di dalam al-Qur’an, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-kahfi [18]: 28-29)

Oleh karena itu, seorang muslim yang aktif membaca surat al-Kahfi setiap jumat sangat diharapkan selalu menjadikan surat tersebut sebagai bahan koreksi diri. Jangan sampai terperdaya oleh kehidupan duniawi. Karena umat Muhammad telah dilatih setiap hari dengan shalat lima waktu, setiap pekan dengan shalat jumat, setiap tahun dengan puasa Ramadhan dan sekali seumur hidup dengan ibadah haji. Tujuannya, hanya untuk mengoreksi diri dan memperbaiki akidah.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0993 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels