|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
ferryhadary |





Sabtu, 23 Oktober 2010 pukul 19:00 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Perguruan Tinggi biasanya identik dengan aktivitas akademis. Setiap hari, suasana nyaris sepi. Mahasiswa, dosen, dan juga karyawan terlibat dalam kegiatan pendidikan serta penelitian yang jauh dari kesan hingar bingar. Tentu beda dengan pasar ikan, misalnya.
Namun, setidaknya setahun sekali suasana itu akan berubah. Di setiap fakultas terdengar hiruk pikuk. Bentakan, teriakan, hardikan bercampur baur dengan suara tawa. Bahkan mendadak para senior layaknya selebritis-selebritis baru yang tandatangannya wajib diburu. Itulah orientasi yang setidaknya setahun sekali terjadi dan disebut dengan berbagai istilah, PLONCO, OPSPEK, PMB, atau sebutan lainnya.
Orientasi mahasiswa baru ini selalu saja menjadi pembicaraan hangat setiap tahunnya. Pro kontra pasti terjadi. Yang pro beranggapan bahwa orientasi itu perlu dan bermanfaat, sehingga harus diperjuangkan. Seperti sayur tanpa garam, sekiranya tak ada acara "penyambutan", maka seperti ada yang kurang. Sedangkan yang kontra menganggap ini adalah sesuatu yang sia-sia. Tidak manusiawi karena cenderung menggiring kaum intelektual pada sikap kekerasan alias tidak intelek.
Terlepas dari setuju atau tidak, kegiatan ini sepertinya memiliki tempat tersendiri bagi sebagian mahasiswa. Namun, apa yang sebenarnya diinginkan? Sekadar tradisi, wujud balas dendam, atau memang bagian dari aktivitas akademis, sehingga harus selalu dilaksanakan? Dan bagaimanakah di luar negeri, misalnya dari "saudara tua" kita Jepon (dibaca Jepang), apakah juga terjadi orientasi seperti itu serta adakah hubungannya terhadap nilai akademis?
Seperti yang penulis pernah alami, setiap tahun suasana hiruk pikuk juga terjadi di universitas-universitas di Jepang. Di Tokyo Institute of Technology, salah satu universitas terbaik di Jepang ini, setiap jurusan akan berbeda-beda bentuk orientasinya. Orientasi ini pun bersifat optional, bisa ikut bisa pula tidak. Sebagai contoh, di jurusan kikai kei (teknik mesin), bentuk orientasinya adalah membuat robot bagi setiap tim dan saling dilombakan. Di sini sangat ditekankan kerjasama anggota tim, sehingga membuat mereka harus saling mengenal satu sama lain.
Sementara itu, di Hitotsubashi University, universitas di sekitar Tokyo, orientasi dilakukan dengan menginap bersama di suatu tempat. Kesempatan ini dimanfaatkan mahasiswa baru/junior (kohai) untuk menjalin hubungan baik dengan para seniornya (senpai). Mereka saling mengenal, bahkan untuk memperoleh informasi mengenai kelas yang patut diambil dan juga kakomon (soal ujian di tahun-tahun sebelumnya).
Lain pula di Tokyo University of Agriculture, orientasi dilakukan selama dua hari satu malam di Fuji Farm, yaitu lahan pertanian milik universitas tersebut dan terletak di kaki Gunung Fuji. Acara diisi dengan perkenalan dosen dan mata kuliah yang diasuhnya, olah raga, foto bersama, atau kegiatan yang menyenangkan.
Itulah pengertian plonco cap Jepon. Tak ada bentak-bentakan --yang katanya-- untuk menguji mental, berbaring di tanah/aspal, atau disuruh berbuat yang aneh-aneh dan tak ada hubungan dengan bekal akademiknya nanti. Orientasi yang ada lebih cenderung pada eksploitasi kegiatan akademis, seperti penjelasan para senior tentang mata kuliah mana saja yang sebaiknya diambil, karakter setiap sensei (profesor), atau strategi untuk cepat menyelesaikan perkuliahan. Bahkan itu pun dilakukan seraya makan minum bersama.
Di Jepang, orientasi seperti di atas tak hanya dilakukan untuk mahasiswa S1. Ketika baru masuk program S2 di Tokyo Institute of Technology, penulis juga mengalami layaknya orientasi. Di laboratorium, penulis menempati meja yang terpisah dengan mahasiswa S2 senior dan mahasiswa S3. Ada kewajiban terjadwal untuk membersihkan ruangan, bahkan diharuskan membuang sampah setiap pekan. Tetapi untungnya, mahasiswa senior setiap waktu siap untuk membantu kita ketika mengalami masalah di perkuliahan.
Ketika baru masuk program S3 di Kyushu Institute of Technology, penulis juga mengalami masa orientasi dari para mahasiswa S3 senior. Di awal tahun pertama, hanya menempati meja kerja yang kecil dan diminta untuk membantu riset para senior. Tapi saat itulah transfer ilmu pun terjadi tanpa disadari. Ketika penulis telah pula menjadi senior, maka diberikanlah sebuah ruangan khusus yang dilengkapi fasilitas lengkap dan junior yang tak pernah membantah jika dimintai bantuan. Bahkan sekadar untuk menentukan jadwal bounenkai (pesta akhir tahun) saja, penulis akan lebih dulu dimintai pendapatnya.
Itulah asyiknya jadi senior di universitas-universitas di Jepang. Sebagai senior, tentu punya hak untuk meminta bantuan mencari data, mempersiapkan alat eksperimen, dan tak memiliki kewajiban membersihkan laboratorium serta lain sebagainya. Tetapi kewajiban senior juga ada, yaitu membimbing, membantu juniornya dalam setiap kegiatan akademis. Jelas, bukankah semestinya para senior lebih pintar dari juniornya? Bahkan jika mahasiswa junior gagal riset atau ada mata kuliah yang tidak lulus, maka yang akan ditegur oleh profesor adalah mahasiswa senior tersebut.
Begitulah, orientasi atau plonco cap Jepon yang bahkan dapat terjadi setiap hari. Namun tak ada bentakan, hukuman fisik, atau sejenisnya yang menggambarkan karakter militeristik, apalagi dengan alasan untuk melatih mental atau mengakrabkan hubungan senior junior. Bukankah kekerasan adalah senjata bagi manusia yang jiwanya lemah?
Orientasi seyogyanya diisi dengan pengenalan sistem belajar, sistem evaluasi, dan sistem penilaian yang diterapkan di perguruan tinggi. Dengan begitu, orientasi dapat membantu mahasiswa baru untuk berinteraksi dengan civitas akademika yang ada di kampusnya, baik dengan sesama mahasiswa, dosen, maupun para karyawan.
Begitulah, jikalau orientasi nanti akan lebih mengeksploitasi kekerasan fisik dan psikis, maka lapangkanlah dada untuk menggantinya dengan orientasi yang mencerminkan sifat humanis. Seandainya niat orientasi nanti hanya untuk mempertontonkan hegemoni, balas dendam, dan arogansi, bukalah mata serta hati nurani agar yang tampil adalah sikap santun, ramah, serta arif.
Semoga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.