QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Anugerah Terindah Milik Kita
13 September 2010 pukul 18:30 WIB
Mau Taraweh apa Mejeng Seeeeh...?
19 Agustus 2010 pukul 15:50 WIB
Pasti Bahagia Bila Ada Cinta
16 Agustus 2010 pukul 18:11 WIB
Ada Cinta di Rumah Kita
1 Agustus 2010 pukul 17:00 WIB
Saat Bingung Memilih Pasangan
24 Juli 2010 pukul 20:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 27 September 2010 pukul 17:35 WIB

Maafkan, karena Aku Bukan Pangeran

Penulis : Ferry Hadary

Bukan pada bias warna merah jambu kusiratkan cinta
Juga kelopak mawar yang merekah menyala
Lagu cinta bahkan tak akan mampu mengungkapkan segala rasa
Dinda...
Cinta adalah bagai butiran embun yang tak resah luruh ke bumi
Meresap ke tanah, namun esok kembali menyapa pagi

Usianya masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut. Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar diranggas keriput.

Ia memang tampak sayu dan letih. Sebentar-sebentar menguap karena masih mengantuk. Tapi kedua tangan itu tetap lincah memasak di dapur. Dengan terampil, selapis demi selapis dikupasnya beberapa butir bawang merah dan diiris kecil-kecil. Lantas diraihnya pula cabai merah dan beberapa siung bawang putih. Lalu ditumbuknya satu sendok makan ketumbar, kemiri, pala, cengkeh, kapulaga, dan bumbu lain dengan lesung batu hingga menjadi halus.

Terlihat ia menikmati pekerjaannya, walau tak jarang punggung tangan digunakan untuk mengucek-ucek matanya yang tampak pedih, berair, dan merah. Beberapa saat, potongan daging mentah itu telah berubah warna dan rasa, siap untuk dihidangkan kepada keluarga. Ia pun tampak tersenyum puas.

Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci baju, membilas, dan menjemur. Bagaikan manusia perkasa, ia seolah-olah selalu bertenaga mengurus semuanya. Tak kenal lelah, hingga jarum jam berdentang saat tengah malam tiba.

Sekejap aku pun merenung.

Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan senyum ketika pertama kali bertemu. Tak sepatah kata terucap, karena ayah bunda telah mengerti makna diam bagi seorang dara yang dilamar jejaka. Sepekan menjelang, kita pun disatukan dalam mitsaqan ghalizha. Sebuah ikatan pernikahan yang begitu sederhana di mata manusia, namun begitu besar keutamaannya di hadapan Sang Pemilik Cinta.

Saat itu, hanya seperangkat mukena dan mushaf sebagai mahar. Tampak matanya berkaca-kaca, rasa haru menyeruak dari lubuk hatinya. Terlebih saat kulantunkan untaian ayat tentang tuntunan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Tak ada intan permata atau harta berlimpah ruah. Tak ada pula kereta kencana bertahta emas yang dihela banyak kuda. Istana yang ditempati juga hanyalah sebentuk rumah kontrakan yang sangat sederhana. Dihiasi beberapa helai kain batik usang, cukuplah sebagai tirai sutra penutup jendela. Bantal kapuk pun bagaikan berisi bulu domba untuk kita senantiasa bercengkrama.

Seiring waktu yang selalu berganti siang dan malam, perlahan raganya tak lagi indah dan segar laksana kuntum bunga yang sedang merekah. Lentik jari-jemari telah menjadi kapalan, semerbak harum mewangi lambat laun berganti aroma aneka masakan.

Aku semakin masyuk merenung dan menerawang jauh.

Teringat kisah Asma', putri Abu Bakar yang tak pernah sungkan menyabit rumput, menanam benih di kebun, hingga memelihara kuda sang kakanda tercinta. Bahkan seorang Fatimah harus rela lecet telapak tangannya karena letih menumbuk gandum dan mengerjakan urusan rumah tangga. Tak ada dayang-dayang cantik nan jelita sebagai pelayan atau khadimah, padahal mereka adalah putri-putri seorang khalifah dan Rasulullah.

Aaah...
Kudengar dengkuran halus, tapi cukup mengembalikan jiwaku yang tadi sempat melayang jauh.

Tentu, ia yang terbaring dengan raut wajah letih itu bukan Asma' atau Fatimah. Namun, keikhlasan dan kesabarannya semoga menuai pahala seperti layaknya mereka. Ia pun bukan Cinderella atau istri seorang pangeran tampan nan rupawan, putra maharaja yang memiliki istana megah dan indah. Seorang pewaris sebuah kerajaan yang dengan kekayaannya sanggup menyediakan dayang-dayang untuk senantiasa melayani atau meringankan beban pekerjaan. Ia hanyalah belahan jiwa dari seorang laki-laki biasa, yang harus hidup membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi keluarganya.

Semakin kutatap wajahnya dengan penuh luahan rasa cinta dan kasih sayang. Lalu aku pun segera bangkit dari tempat duduk, menghampirinya yang sedang pulas tertidur seraya berbisik penuh kemesraan, "Maafkan, karena aku bukan pangeran."

Tulisan ini telah dimuat di buku SAPA CINTA DARI NEGERI SAKURA, Penerbit Pena Pundi Aksara-Jakarta.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1364 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels