Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Ramadhan dan Bukti Cinta Allah
8 September 2010 pukul 18:30 WIB
Menyoal Lailatul Qadar
1 September 2010 pukul 18:20 WIB
Meniru Rasulullah di Sepuluh Terakhir Ramadhan
25 Agustus 2010 pukul 18:22 WIB
Pesan Kemerdekaan dalam Persepektif Islam
21 Agustus 2010 pukul 19:00 WIB
Kejujuran Rasulullah
14 Juli 2010 pukul 18:33 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 18 September 2010 pukul 20:00 WIB

Trik Menjadi Kekasih Allah

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Membaca judul di atas, saya yakin tak akan membuat Anda pusing. Karena judul itu memang sengaja ditulis demikian. Jangan juga membuat Anda merasa bahwa saya sudah jadi kekasih Allah. Saya masih sama dengan Anda. Sama-sama melangkah ingin menjadi kekasih-Nya. Catatan ini saya tulis dengan sengaja juga untuk mengajak diri saya sendiri dan Anda yang membacanya agar sama-sama menjadi kekasih Allah. Kalau mengajak, tentunya saya harus punya rujukan. Pasalnya, jika saya mengada-ada, akan bisa berbahaya. Bisa menyesatkan. Maaf, saya bukan bagian dari penganut aliran yang menyesatkan orang.

Lantas, sumber apakah yang saya gunakan? Sumbernya langsung dari orang yang sudah diklaim Allah menjadi kekasihnya. Klaim itu pun ada dalam Al-Qur’an, kitab suci kita. Siapakah dia? Harap sabar. Apakah dekat Anda saat ini ada Al-Qur’an? Jika ada atau pun tidak, silahkan dengarkan surat An-Nisā ayat 125. Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasihnya.” Jadi, trik menjadi kekasih Allah yang akan saya kupas dalam tulisan ini bersumber dari Nabi Ibrahim AS. Gelarnya khalliullah.

Di dalam kitab Nasāih al-‘ibād, terdapat riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Ibrahim pernah ditanya seseorang. ‘Wahai Ibrahim, apa yang menyebabkanmu ditetapkan sebagai kekasih Allah?" Nabi Ibrahim menjawab, “Ada tiga hal. Pertama, aku pilih perintah Allah dari perintah lainnya; Kedua, aku tidak pernah gundah gulana dengan apa yang telah ditetapkan Allah terhadap diriku; Ketiga, aku tidak pernah makan siang dan makan malam kecuali bersama tamu.”

Hanya itu jawaban Nabi Ibrahim. Mudah? Bagi aaya, ketiga jawaban tidak mudah dilakukan. Jika melihat isi konsepnya saja mungkin mudah. Tapi mengamalkan, sungguh butuh perjuangan. Lho, kok pakai-pakai perjuangan? Iya, semuanya membutuhkan usaha. Usaha khan sama dengan perjuangan.

Saat Anda dihadapkan memilih perintah Allah dari perintah lainnya, maka Anda harus menggunakan pisau analisis. Mindset Anda dibutuhkan. Lihat dulu, apakah perintah Allah ini harus didahulukan ataukah di dalam perintah selain-Nya juga tersimpan perintah Allah. Lho, kok bisa perintah Allah beradu dalam satu masalah? Bagaimana bisa? Contohnya begini. Ketika Anda seorang pekerja, saat itu Anda sedang menyelesaikan pekerjaan, lalu adzan dzuhur berkumandang menandakan waktu shalat telah tiba dan Anda harus melakukan shalat. Namun, pekerjaan Anda tinggal sedikit lagi selesai dan harus siap tepat waktu. Apakah Anda memilih meninggalkan pekerjaan tersebut, lalu pergi shalat? Ataukah Anda siapkan dulu pekerjaan Anda baru mengerjakan shalat? Apakah jawaban Anda?

Kalau saya akan memilih menyelesaikan pekerjaan itu terdahulu, baru shalat. Lho, tapi tadi tipsnya harus memilih perintah Allah lebih dahulu baru perintah lainnya? Jika Anda berfikir dan mengajukan pertanyaan seperti itu, Anda cerdas.

Saya memilih selesai pekerjaan tersebut terlebih dahulu, karena saya ingin shalat dengan penuh ketenangan. Lagi pula, Saya sudah teken janji, bahwa pekerjaan itu selesai tepat, yaitu sepuluh menit setelah waktu adzan dzuhur berkumandang. Jika saya berhentikan pekerjaan tersebut, baru saya lanjutkan lagi usai shalat. Apakah saya tidak termasuk orang yang melanggar janji? Bukankah Allah menyuruh umat Muhammad untuk menjadi orang yang senantiasa menepati janji dan bertanggungjawab?

Selain itu, saya pun akan melakukan shalat dengan tergesa-gesa, jika meninggalkan pekerjaan dan melaksanakan shalat saat itu juga. Bukankah saya sedang beribadah kepada Allah? Bukankah kalau saya memilih shalat dengan tergesa-gesa, saya malah termasuk sebagai orang yang lebih memilih perintah orang lain dari pada perintah Allah? Alasannya, Allah menyuruh shalat dilakukan dengan khusyu’. Shalat terburu-buru, jelas akan membuat saya tidak akan khusu’. Anda masih bingung? Pikirkanlah dengan pelan-pelan dan baik-baik!

Trik kedua yang diajarkan nabi Ibrahim AS agar menjadi kekasih Allah adalah, dengan tidak pernah gundah gulana dengan apa yang telah ditetapkan-Nya. Artinya, Nabi Ibrahim AS tak pernah risau terhadap apa yang ditetapkan Allah. Apakah bagi Anda ini mudah? Jika benar, Anda layak bersyukur. Bagi saya, ini tidak mudah. Sulit. Pasalnya, seberapa yakin bisa menerima takdir dengan mutlak. Seberapa bisa saya menyetarakan dengan apa yang diucapkan mulut dengan apa yang terlintas di hati saya, bahwa semua itu adalah takdir? Seberapa bisa saya mensinkronisasikan antara usaha dan takdir? Oke.. Oke.. Oke!! Apakah Anda malah bingung dengan jawaban saya? Jika iya, sekali lagi saya katakan Anda cerdas.

Begini. Apakah Anda bisa meyakini jika menggunakan sebuah kalkulator, bahwa 2 x 2 pasti hasilnya 4? Jika iya, Anda hebat dan layak bersyukur. Kalau saya, saya masih meragukannya. Saya harus memikirkan lagi. Apakah benar kalkulator ini dapat berfungsi dengan baik? Apakah benar batrei dan tombol kalkulator masih memiliki daya untuk memberikan hasil yang tepat? Jika sudah diteliti, baru saya yakin kalau kalkulator itu benar.

Demikian juga saya memahami trik kedua Nabi Ibrahim ini. Saya sulit menyatakan tidak akan gundah gulana dengan apa yang ditetapkan Allah, kecuali saya sudah menyeleksinya dengan baik. Saya harus yakin bahwa komponen yang ada di diri saya memang demikian adanya. Sudah finish. Artinya, saya memahami trik kedua yang diajarkan Nabi Ibrahim AS dengan melihat dulu pada diri saya dengan teliti, baru saya putuskan bahwa itu takdir saya. Jika masih bisa dipoles menjadi lebih baik, saya belum menyatakan bahwa apa yang saya dapatkan adalah takdir. Singkatnya, saya tidak akan gundah gulana jika saya memang sudah tidak mampu lagi. Saya harus bisa meaktualisasikan kebersamaan usaha dengan takdir saya. Apakah Anda masih bingung? Jika benar, Anda benar-benar sedang berusaha menjadi kekasih Allah.

Lalu, trik terakhir dari Nabi Ibrahim AS untuk menjadi kekasih adalah, ia selalu makan siang dan makan malam dengan tamu. Artinya, nabi Ibrahim selalu berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Apakah bagi Anda ini mudah? Jika mudah, katakan mudah. Jangan ragu-ragu dan sungkan. Jangan mudah terpengaruh dengan saya. Saya bukan pemimpin aliran sesat. Bagi saya, ini masih juga sulit. Pasalnya, saya kalau ada uang tentu mudah berbagi dengan yang lain. Tapi, kalau sudah agak seret keuangan, masih suka mikir-mikir. Tapi, Nabi Ibrahim tidak demikian. Mau senang atau susah, mau lagi banyak rezeki atau sedikit, ia selalu mencari orang untuk makan bersamanya. Malah, pada penjelasan trik ketiga ini, pengarang kitab Nashaih al-‘Ibad memaktubkan bahwa nabi Ibrahim selalu mencari orang untuk makan bersamanya meski harus melakukan perjalanan hingga dua mil.

Bagaimana? Anda masih tetap ingin menjadi kekasih Allah, bukan? Jika ingin, mari sama-sama kita amalkan ketiga trik yang diajari oleh Nabi Ibrahim : Pilihlah perintah Allah dari Perintah lainnya; Jangan pernah gundah gulana dengan apa yang ditetapkan Allah; Dan rajinlah berbagi dengan sesama. Saya yakin, di awal-awal menjalankannya saja yang susah. Jika sudah terbiasa akan mudah. Memang begitulah alur hidup kita. Apakah Anda masih tak percaya? Silahkan pikirkan sendiri.

Suka
Mujahid Alamaya menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2668 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels