|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|





Rabu, 1 September 2010 pukul 18:20 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Sudah jamak diketauhi, bahwa yang membedakan antara Ramadhan dengan bulan–bulan lainnya adalah, terdapatnya “lailatul qadar”: Malam yang lebih agung dari seribu bulan. Amal yang dikerjakan dengan ikhlas pada malam tersebut sebanding dengan amal yang dikerjakan selama seribu bulan. Dalam hal ini, Allah mensitirnya di dalam surat Al-Qadar [97] : 3, “Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan.”
Tak luput menjadi perhatian, kemuliaan tersebut merupakan berkah dari turunnya Al-Qur’an pada malam itu, “Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang member peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus para rasul.” (QS. Ad-Dukhan [44] : 3-5).
Sehingga, jika dilirik lebih serius lagi, lailatul qadar sering diklaim sebagai kedudukan yang tinggi dan kemulian yang terhormat. Bahkan, Muhammad Abduh memberikan pemaknaaan terhadap kata “Al-Qadar” di dalam kitab tafsir Juz ‘Ammanya dengan dua makna. Pertama, “taqdir”. Karena Allah pada malam ini mulai mentakdirkan agama-Nya dan membatasi khithtah untuk nabi-Nya dalam menyeru manusia kepada agama yang dapat melepaskan mereka dari kerusakan dan kehancuran yang sedang meraka alami. Kedua, “syarf” (kemuliaan). Karena pada malam ini Allah mengangkat kedudukan nabi-Nya dan memuliakannya dengan risalah, serta membangkitkannya menjadi Rasul.
Yang menjadi kian mempesona, kenapa malam itu diklaim sebagai malam lailatul qadar? Sejatinya, pertanyaan itu muncul dikarenakan di dalam surat Al-Qadar dimuat penjelasan turunnya malaikat. Berkenaan dengan masalah ini lahir beragam penafsiran. Qosim Abdullah dalam bukunya “Wasyauquhu Ya Ramadhan” menjelaskan bahwa malam mulia ini dinamakan malam lailatul qadar, karena pada malam tersebut Allah membeberkan rezeki, ajal, dan hal-hal lain yang akan terjadi pada tahun tersebut, kepada malaikat.
Berbeda pula dengan pandangan Imam fakhrur Razi di dalam tafsirnya, sebagaimana dimaktubkan Azhari Akmal di dalam buku “40 Pesan Ramadhan”. Menurutnya, diklaim sebagai lailatul qadar karena turunnya malaikat ke bumi adalah untuk menjawab keheranan dan kecemburuan malaikat kepada manusia. Para malaikat protes mengapa Allah begitu memuliakan dan memuji manusia? Dan pada titik inilah malaikat mengetahui bahwa ada dua amal yang dilakukan penduduk bumi, namun tak bisa dilakukan oleh penduduk langit.
Pertama, manusia bisa menangis menyesali dosa-dosanya, merenungi kesalahan yang pernah dibuat, menginsyafi pelanggaran-pelanggaran yang pernah dilakukan. Kedua, manusia bisa menyantuni fakir miskin, mengasihi anak yatim, memberi makan orang yang kelaparan, memberi obat orang yang sakit. Sedangkan malaikat tak bisa melakukan hal-hal di atas, karena malaikat tidak ada yang miskin dan malaikat tidak pernah berhajat kepada harta.
Berbeda dengan apa yang ditulis oleh Yusuf Burhanuddin dalam bukunya “Kala Agama Mengusung Buih”. Ia menemukan sebuah hadits yang mengupas tentang lailatul qadar: Pada suatu ketika Rasulullah SAW diberitahu tentang seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang memikul senjata di pundaknya dalam perang di jalan Allah, diganjar dengan pahala seribu bulan. Rasulullah SAW pun terkagum-kagum seraya memohon keutamaan yang sama bagi seluruh umatnya. Rasulullah SAW berdo'a, “Wahai Tuhanku, jadikanlah umatku yang sedikit bekerja namun dengan pahala berlipatganda.” Allah kemudian menjadikan lailatul qadar sebagai malam seribu bulan yang pahalanya sama dengan seorang bani Israil yang memikul senjata senjata di jalan Allah.
Dari penjelasan di atas, cukup layak menjadi perhatian dan renungan kenapa malam lailatul qadar begitu dirahasiakan Allah? Intinya, malam lailatu qadar bukanlah malam ajaib dengan segudang kemuliaan dan pahala sehingga bisa merubah perilaku seseorang dalam sekejap mata. Ia tetap merupakan proses pembinaan diri seseorang.
Jawaban konkrit dirahasiakannya tanggal dan waktu yang pasti tentang datangnya lailatul qadar juga diungkap dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Disebutkan, sebuah riwayat yang berasal dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, bahwa dia berkata, “Nabi pernah menemui kami untuk mengabarkan datangnya malam lailatul Qadar, tapi ternyata ada dua orang dari kaum muslimin yang saling berselisih. Rasulullah SAW kemudian berkata, “Sungguh, aku keluar untuk mengabarkan datangnya lailatul qadar kepada kalian. Akan tetapi, ternyata Fulan dan Fulan saling berselisih, sehingga kabar tersebut ditarik kembali oleh Allah. Dan, barangkali hal itu akan lebih baik bagi kalian semua. Karena itu, songsonglah malam lailatu qadar tersebut pada malam sembilan, malam ketujuh, dan malam ke lima (dari sepuluh hari terakhir)”.
Hadits ini sangat memberikan penjelasan, bahwa kejahatan yang diakibatkan oleh perselisihan, persengketaan, dan perdebatan termasuk hal yang tidak disukai Allah. Penentuan datangnya malam lailatul 1adar – setara dengan seribu bulan – digagalkan hanya karena adanya keributan atau permusuhan yang dipicu oleh bujuk rayu setan.
Dengan demikian, orang yang ingin mendapatkan lailatul qadar, hendaknya ia menyosongnya di setiap malam, barangkali ia akan mendapatkannya pada salah satu malam. Dengan bahasa yang lebih sederhana, Allah sengaja menebarkan lailatul Qadar di setiap waktu agar manusia memanfaatkan seluruh waktu yang ada untuk taat dan beribadah kepada-Nya.
Lantas, pertanyaan baru layak muncul. Apakah lailatul qadar itu bersifat umum atau khusus? Dalam masalah ini beraneka pendapat ulama. Secara umum, Yusuf al-Qardhawi mengupas permasalahan ini di dalam bukunya fiqh ash-Shiam. Sejumlah ulama berpendapat, tulis Qardhawi, bahwa lailatul qadar itu bersifat khusus karena adanya syarat mengetahui bahwa menjumpai lailatul qadar. Sebagian ulama yang lain mengklaim bahwa lailatul qadar bersifat umum bagi semua orang yang mengharapkannya, mencari kebaikan dan pahalanya, serta apa saja yang ada di sisi Allah yang berkaitan dengan malam itu. Di antara ulama yang mengklaim bahwa lailatul qadar itu bersifat umum adalah Imam At-Thabari.
Jika ditelusuri, akar permasalahan apakah lailatul qadar itu bersifat khusus atau umum, bertolak dari cara memahami hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qadar, maka ia menjumpainya …” Selain itu, adanya hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah, “Apa pendapatmu, wahai Rasulullah, seandainya aku menjumpai lailatul qadar. Apa yang aku ucapkan? Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah, “ Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa pa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi maaf, Engkau mencintai pemaafan, karena itu berikanlah maaf kepadaku).
Jika kata “muwafaqah” itu ditafsirkan dengan makna mengetauhinya, sehingga syarat mendapatkan pahala itu pun berubah menjadi bersifat khusus. Sedangkan, jika memaknai kata “muwafaqah” dengan makna menjumpai, maka pengertiannya lailatul qadar itu datang dengan sendirinya, meskipun tidak diketahui. Karena untuk mendapatkan lailatul qadar tidak ada sumber nash yang pasti menyatakan harus melihatnya.
Jadi, jika lailatul qadar itu bersifat umum tentunya siapa pun bisa mendapatnya. Sehingga lahir pertanyaan baru. Amal apa yang memiliki potensi besar untuk mendapatkan lailatul qadar? Qasim Abdullah menuliskan, ada tiga amal yang dicintai Allah yang sangat dituntut untuk kaum muslimin melakukannya pada malam lailatul qadar. Pertama, mengisi malam lailatul qadar dengan mengerjakan shalat malam. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW,”Orang yang mengerjakan shalat di malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhalasan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Kedua, memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah dan berdo'a kepada-Nya. Karena pada malam tersebut semua pintu langit dibuka dan do'a-do'a dikabulkan. Hal ini diperkuat dengan hadits Aisyah di atas. Ketiga, membaca Al-Qur’an. Karena malam lailatul qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an. Pada malam tersebut Al-Qur’an diturunkan dua kali. Pertama, diturunkan secara keseluruhan dari lauhil mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian yang kedua, diturunkan secara terpisah, sesuai dengan peristiwa dan pertanyaan yang diajukan. Pertama kali Al-Qur’an menyinari hati Rasulullah adalah pada malam lailatul qadar. Dan, kedua-duanya sama-sama benar.
Kemudian, kapankah lailatul qadar itu terjadi? Berdasarkan sejumlah hadits yang ada, lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir. Hadits shahih dari Aisyah mengatakan, “Rasulullah SAW i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan beliau mengatakan, Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam redaksi hadits yang lain, dari Abu Said bahwa Nabi SAW menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhutbah. Dalam khutbahnya mengatakan, “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan, maka carilah di setiap malam ganjil.” Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits di atas adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Karena itu, marilah kita tingkatkan ibadah kita pada sepuluh malam terakhir. Karena hikmah besar yang ditemukan dengan tidak ditetapkan pada suatu malam tertentu memberikan tugas penting dan pendorong agar kita terus semangat beribadah di malam-malam Ramadhan dan tidak dikhususkan pada malam tertentu saja. Semoga kita bisa menggapai malam kemulian itu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.