Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Ayat-Ayat Jihad
2 Juni 2010 pukul 19:16 WIB
Pernikahan Rasulullah - Aisyah Mitos Klasik?
29 Mei 2010 pukul 19:33 WIB
Jagalah Lisan
28 April 2010 pukul 18:00 WIB
Saatnya Jadi Guru Dicintai dan Unjuk Prestasi
10 April 2010 pukul 20:55 WIB
Merancang Hati Selalu Bercahaya
24 Maret 2010 pukul 18:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 14 Juli 2010 pukul 18:33 WIB

Kejujuran Rasulullah

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Ketika bulan Rajab hadir, nyaris seluruh umat Islam teringat akan peristiwa Isra' dan Mi'rajnya Rasulullah SAW. Yaitu, peristiwa hilangnya kanjeng Rasul SAW di separuh malam dan kembali dengan membawa 'pesan' dari Sidratul Muntaha untuk menunaikan shalat lima waktu. Kejadian 'wisata' malam itu merupakan ujian untuk umat Islam. Seberapa besarkah keyakinan meraka terhadap kejujuran Rasulullah SAW dan risalah yang dibawanya? Ya, 'wisata' itu bukan hanya bagian dari mukjizat Rasulullah, tapi juga bagian dari 'penyeleksian' keimanan umat Islam, baik mereka yang mendengar cerita Rasulullah secara langsung maupun mereka yang tak bertemu, namun hidup di zaman yang serba ingin membuktikan segala hal yang tak mungkin menurut akal mereka, tapi pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.

Ternyata, 'penyeleksian' keimanan itu pun menuai banyak hasil. Ada yang semakin taat dan percaya kepada Rasulullah, bahkan ada yang menyatakan bahwa lebih dari itu pun mereka sangat mempercayainya. Namun, tak sedikit juga 'vonis' keras datang dengan menegaskan bahwa 'wisata' Rasulullah malam itu hanya cerita 'fiktif' belaka, sehingga mereka pun menjadi kafir. Sungguh, 'penyeleksian' keimanan yang selektif terjadi saat membawa 'pesan' shalat lima waktu.

Kini, yang perlu menjadi pusat perhatiaan umat Islam hanya satu. Yaitu, pentingnya kejujuran. Kenapa Abu Bakar begitu meyakini cerita 'wisata' Rasulullah dari Masjdil haram ke Masjidil Aqsha kemudian dilanjutkan naik ke langit ketujuh dengan mengenderai Buraq dan 'bertemu' dengan Allah di Sidratul Muntaha? Jawabannya hanya satu, karena 'buah' sifat jujur Rasulullah SAW.

Bukan cerita asing lagi bagaimana kejujuran Rasulullah sebelum diangkat menjadi Rasul. Seluruh orang Quraisy bahkan Abu Jahal, pembesar suku Quraisy sekalipun sangat mengakui kejujuran Rasulullah. "Inna la nukadzdzibuka wa lakin nukadzdzibu alladzi ji 'ta bihi (Sesungguhnya kami tidak mendustaimu, hanya saja kami mendustai ajaran yang kamu bawa)," demikian komentar Abu Jahal akan kejujuran kanjeng Rasul SAW, Muhammad bin Abdullah di hadapan suku Quraisy.

Bahkan, jika dirunut lebih jauh dan mendalam. Khadijah, isteri Rasulullah SAW yang selalu bersamanya, sungguh, sangat mengagumi kejujuran Rasulullah. Sehingga kata-kata kekagumannya itu pun muncul bak air mengalir ketika Rasulullah menerima wahyu pertama kali, "Absyir, pa waallahi la yukhjikaallahu abadan. Fa waallahi innaka latashilurrahma wa tusyaddiqol haditsa (Bergembiralah, Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Demi Allah, seseungguhnya kamu adalah orang yang senantiasa menjalin hubungan silaturrahmi dan selalu berkata benar)," ujar Khadijah sambil menenangkan Rasulullah yang begitu ketakutan setelah bertemu Jibril di gua Hira.

Juga, Rasulullah SAW sendiri pun mengakui akan kejujurannya. Pengakuan itu terjadi saat Abdullah bin Umar sedang menulis hadits yang baru didengarnya dari Rasulullah, dan ingin menghapalnya. Tiba-tiba datang beberapa orang dari suku Quraisy melarang dan menahannya untuk menulis. Kemudian mereka mengatakan, "Apa benar kamu sedang menulis hadits yang kamu dengar dari Rasulullah? Bukankah Rasulullah juga manusia yang berbicara saat marah dan senang?" Abdullah bin Umar pun berhenti menulis. Dengan rasa tak puas, ia datang menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan sigap Rasulullah SAW berkata, "Uktub, fa waalladzi nafsi biyadihi ma kharaja minni illa haqqun (Tulislah, demi diriku dalam genggaman-Nya, apapun yang kuucapkan tidak lain adalah kebenaran)."

Subhanallah, sifat jujur Rasulullah SAW bukan saja tampak dalam kondisi serius. Saat sedang bercanda, kanjeng Rasul SAW pun tetap konsisten berperilaku jujur. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa datang seorang wanita yang sudah lansia menemui Rasulullah dan memohon agar dido'akan masuk surga. Lantas Rasulullah SAW menjawab, "Ya umma fulan, innal jannata la tadkhullah 'ajuzun (Wahai ibu, sungguh surga itu tidak akan dimasuki wanita tua)." Kontan, wanita tua itu menangis. Kemudian Rasulullah SAW berkata kembali, "Aku mendapat kabar bahwa tidak akan masuk surga wanita yang sudah tua, karena Allah mengatakan, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, dan sebaya umurmya." (QS. Al-Waaqi'ah [56] : 35-37). Seketika itu juga wanita yang menangis tadi pun tersenyum, dan mengetauhi bahwa di dalam surga tidak ada lagi yang tua, semuanya dijadikan muda.

Karena itu, Rasulullah senantiasa mengingatkan umatnya untuk selalu berkata jujur dan menjauhi sifat dusta. Rasulullah berpesan, "Berperilaku jujurlah kamu. Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menunjukkan jalan menuju surga. Setiap manusia yang selalu berkata jujur dan memilih kejujuran hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah sifat sombong. Sesungguhnya kesombongan itu menuntun ke arah kedurhakaan. Kedurhakaan membawa ke neraka. Setiap manusia yang selalu berbohong dan memilih kebohongan hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta."

Semoga dengan memperingati momentum 'wisata' isra' dan mi'rajnya Rasulullah SAW, kita dapat menempa diri menjadi manusia yang jujur. Karena mengikuti sifat Rasulullah adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. “Katakanlah (wahai Muhammad) : Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran [3] : 31).

Rabbana Yahdiina.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1021 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels