|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|





Sabtu, 10 April 2010 pukul 20:55 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menuliskan dalam bukunya Madarijus Salikin, “Jadikan diri anda sebagai ‘gula pertama’ untuk menarik rasa simpati dan rasa cinta orang kepada anda.” Cukup memberi kesan menarik apa yang diujarkan oleh Ibnu Qoyyim. Karena pada dasarnya tidak ada seorang pun yang mampu mencintai orang lain. Andaikata ia harus mencintai, sebenarnya itu sebagai dasar bagi dirinya agar dicintai. Selanjutnya, yang ada adalah keinginan untuk dicintai.
Jadi, berdasarkan ucapan Ibnu Qayyim tersebut, untuk menjadi orang yang dicintai, seseorang harus memiliki atau melakukan tindakan agar orang lain tertarik atau malah terpesona untuk mencintainya. Harapannya, orang yang terpesona dengannya bersedia memberikan sesuatu yang berharga sebagai perwujudan cintanya atau bahasa kerennya, ada sikap “give and take”.
***
Apa yang Harus Dilakukan Agar Guru Dicintai?
Apabila diterapkan dalam aktivitas guru sehari-hari, tujuan utama seorang guru agar dicintai adalah untuk mendapatkan perhatian dari sekolah dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tentunya, hal itu dapat terwujud manakala guru bekerja sama dengan semua pihak yang ada di dalam sekolah.
Hal ini selaras dengan apa yang dilakukan Jusuf Kalla saat menangani konflik di Ambon. “Usai melakukan pertemuan antara kelompok Islam dan Kristen secara terpisah dengan Menko Polkam, Susilo Bambang Yudoyono, Kapolri Da’i Bachtiar, dan sejumlah pejabat tinggi TNI/Polri, JK minta dipinjami mobil karena ingin ke kawasan yang diklaim masing-masing pihak yang bertikai sebagai juridiksinya. Gubernur Ambon, Latuconsina sangat panik mendengarnya, sehingga melalui Hamid Awaludin memohon agar JK menghentikan niatnya. Malah, jawaban yang diterima terbalik. JK tetap ingin menemui mereka dan mohon tidak dikawal. Alasan JK, negeri kita ini aman. Misi JK menemui pihak-pihak yang bertikai tidak mengalami masalah. Bahkan masing-masing pihak menyambut baik kedatangan JK dan merasakan kemurnian niat JK menyelesaikan konflik. Sehingga, usai melakukan kunjungan ke masing-masing pihak bertikai, Hamid Awaludin menanyakan kenapa JK tidak mau diiringi mobil pengawal dan pengamanan. Jawaban JK, “jika kita pakai yang gituan, nanti mereka anggap kita memiliki kekhawatiran dan ketakutan. Pada saat kita dicap memiliki rasa takut, pasti mereka mengatakan, kita tidak ikhlas untuk mengupayakan perdamaian.” (Tabloid Indonesia Monitor Edisi 68 Tahun II/21-27 Oktober 2009)
Berdasarkan kebijakan Jusuf Kalla tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa untuk menumbuhkan rasa dicintai, guru harus dapat menunjukkan sikap kerjasama dengan pihak lain dan selalu menjunjung tinggi keikhlasan, produktivitas, dan profesionalisme. Dan tentunya, konsekuensi logis dari guru yang berhasil menjadi orang yang dicintai akan mendapatkan perhatian positif secara khusus dan bahkan, kadang, berlebih.
Di dalam praktik, perhatian khusus ini terkadang diejawantahkan dengan bonus dan penghargaan-penghargaan khusus lainnya, serta pengembangan karier dengan akselerasi yang lebih cepat dibanding guru lainnya. Sekolah rela memberikan hal-hal tersebut karena guru yang dicintai telah menjadi guru yang profesional. Guru serius mewujudkan cintanya kepada sekolah.
Perwujudan cinta guru kepada sekolah diukur dari kontribusinya kepada pertumbuhan dan perkembangan sekolah. Tidak mesti dalam bentuk visual, terkadang kontribusi itu terwujud, tapi tidak absurd. Biasanya, kontribusi guru dikaitkan dengan produktivitas. Di beberapa sekolah favorit, laporan perkembangan dan pertumbuhan sekolah dibagikan kepada guru. Lalu, ditawarkan kepada para guru apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan di masa mendatang, berapa besar kontribusi masing-masing guru dalam perbaikan tersebut, bagaimana caranya, dan sebagainya. Semakin tinggi kontribusi guru, semakin tinggi nilainya.
***
Persaingan
Pada era globalisasi ini, persaingan untuk menjadi orang yang dicintai di lingkungan sekolah cukup meningkat. Hal ini terbukti, dengan tingkat pendidikan rata-rata guru yang semakin tinggi, batas-batas geografis yang mengabur, dan diiringi dengan akselerasi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin dahsyat mengakibatkan kualitas peluang menjadi guru kaya semakin mudah.
Pada pertengahan abad lalu, guru yang dengan ijasah Sarjana bahkan Sekolah Lanjutan Atas tidak terlampau sulit memperoleh pekerjaan. Namun kini, berapa banyak para pencari kerja yang bergelar Sarjana Pendidikan yang ke sana ke mari menenteng map berisi surat lamaran kerja yang belum tentu sekali dua kali jadi atau berapa puluh surat lamaran yang disebarkan ke berbagai sekolah.
Selain itu, persaingan dapat kita simak pula dari banyaknya iklan-iklan lowongan pekerjaan guru yang kini mencantumkan persyaratan guru harus bisa berbahasa Inggris lisan maupun tulisan, indeks prestasi minimum 3, mahir menggunakan internet, dan sebagainya. Ternyata, pelamarnya cukup banyak. Artinya, jumlah calon guru yang memiliki indeks prestasi minimun 3 atau yang bisa berbahasa Inggris cukup banyak dan ikut antre mengisi lowong menjadi guru.
Tentu ini menguntungkan sekolah sebagai pengguna. Pasokan pelamar melebihi permintaan. Maka sekolah pun dengan lebih leluasa menyaring dan memilih serta memiliki daya tawar (bargaining power) yang kuat untuk menekan pelamar – melalui training, gaji awal yang kecil, dan sebagainya.
Dulu, peribahasa ibarat rotan tak ada akar pun jadi berlaku bagi sekolah. Kini, pengibaratan itu berlaku bagi para sarjana pendidikan. Sayangnya, situasi yang demikian itu kurang disadari oleh sebagian orang yang telah berstatus guru. Banyak di antara mereka yang tidak meningkatkan diri. Terpaku pada kondisi minimalis, dan pada suatu saat tersentak karena beberapa rekan seangkatannya atau bahkan yuniornya telah melejit jauh meninggalkannya. Lalu, mereka mengeluh, mengapa “nasib”nya begini-begini saja.
Kondisi seperti ini juga kurang disadari oleh calon guru ketika masih duduk di bangku kuliah. Mereka bersantai-santai tanpa dorongan untuk mendapatkan nilai setinggi-tingginya. Memang, akibatnya baru akan dirasakan pada saat mereka harus memburu profesi guru. Dengan nilai prestasi terbatas dan kemampuan yang pas-pasan tentunya membuatnya harus memilih pilihan sekolah yang standarnya terbatas pula.
Tampaklah, bahwa mereka yang berprestasi memiliki peluang untuk memilih. Memilih standar apa yang sesuai dengan panggilan hidupnya, memilih sekolah yang diincarnya, memilih lokasi sesuai dengan habitat yang selaras dengan gejolak nuraninya, dan sebagainya.
Peluang seperti itu, tentunya, tidak dimiliki oleh mereka yang prestasinya pas-pasan; pilihan mereka terbatas dan bergantung pada keinginan orang lain. Tak jarang kemudian mereka frustasi, lalu memaksakan diri yang dapat mencelakan diri sendiri seperti mencuri, bunuh diri, dan sebagainya.
***
Menjual Prestasi
Dulu, “nasib” seseorang guru dapat digantungkan pada loyalitas yang salah satu tolak ukurnya adalah lama mengajar. Namun, perubahan terus menerus terjadi. Ukuran loyalitas yang lebih memprioritaskan lama mengajar di sekolah dianggap sebagai loyalitas semu. Karena, boleh jadi, seorang guru yang telah lama bekerja di suatu sekolah tidak dapat berbuat banyak untuk sekolah.
Dulu, siklus perubahan dan perkembangan terjadi dalam periode lima dasawarsaan, kemudian semakin cepat menjadi periode satu dasawarsaan, kini perubahan dan perkembangan terjadi setiap saat dan akan semakin cepat.
Pada pertengahan abad 20, mesin tik merupakan salah satu alat perkantoran mewah dan unggulan. Kemampuan mesin tik pun mulai tergantikan oleh komputer. Meskipun, secara fisik komputer memiliki ukuran lebih besar dan membutuhkan ruangan yang luas. Kini, laptop atau notebook memiliki kemampuan yang sama dengan komputer dan bahkan mudah dibawa kemana-mana serta tidak memiliki ruang yang besar.
Perubahan dan perkembangan seperti di atas, nyaris terjadi di seluruh aspek. Tak terkecuali, potensi dan keunggulan guru. Ini merupakan realitas yang tidak terbantahkan dan tidak dapat dibendung atau ditolak oleh siapa pun dengan peraturan apa pun. Bagi guru yang tidak waspada, cepat atau lambat akan tergusur oleh perubahan-perubahan.
Sekarang, dapat dikatakan, tidak ada keamanan kerja bagi mereka yang lebih mengandalkan lamanya mengajar belaka. Apalagi, di masa-masa mendatang, keamanan mengajar kian menipis dihantam oleh unjuk prestasi dan keprofesionalan guru. Singkatnya, dalam beberapa dasawarsa mendatang, gantungan nasib guru akan lebih berada pada Unjuk Prestasi dan Keunggulan. Suatu pengukuran, yang boleh dikatakan, lebih berkesinambungan dengan tujuan sekolah, yaitu masa depan dan keuntungan sekolah.
Akhirnya, penghargaan tertinggi, nantinya, akan diberikan kepada guru-guru yang siap menjual prestasi. Sedangkan guru-guru yang bermodalkan lama mengajar hanya tetap pada posisi mendapatkan gaji minimum. Andaikata masih jadi pertimbangan, lama mengajar hanya dihitung sebagai komponen tambahan, bukan komponen inti.
Guru yang berani unjuk prestasi adalah guru yang menghasilkan buah dari resultan keterampilan yang terus terasah, wawasan yang meluas, dan karakter yang andal dan berkelimpahan serta memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengantisipasi, mengadaptasi, dan mengimplementasikannya.
Jadi, “nasib” guru hanya dapat ditingkatkan secara khusus apabila seorang guru terus menerus dan berkesinambungan mengasah diri. Tanpa aktivitas dan perjuangan yang demikian, jangan kecewa apabila “nasib”nya minimal juga. Mashlahat lain yang akan didapatkan guru yang terus menerus mengasah diri adalah tingkat kemampuan yang kompetensinya tinggi.
Sehingga, peluang menjadi guru dicintai dan kaya akan terus terbuka lebar, karena memiliki daya tawar yang perkasa. Bahkan, guru yang berkompetensi tak pernah merasa takut dipecat. Andaikata dipecat, sekolah-sekolah lain sudah siap menampungnya. Hal Ini karena dengan kemampuan yang dimiliki tak ada ruang untuk repot mencari peluang mengajar.
Guru berprestasi dan memiliki kemampuan yang layak jual ibarat “Bunga desa yang sangat mempesona sehingga diperebutkan oleh para lelaki. Pilihan hanya tinggal berada di gadis itu. Bahkan, dengan keunggulan yang dimiliki, ia bisa lebih leluasa untuk memilih lelaki mana yang dipilihnya.”
Bahkan, guru yang berprestasi di masa akan datang menjadi seorang guru yang memiliki tiga hingga lima karier sepanjang hidupnya. Karena potensi yang dimilikinya membuat orang lain “jatuh cinta” dan berani membayarnya dengan mahal.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.