|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|





Selasa, 2 April 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
“Seeing is believing.” Pepatah ini memang menjadi pegangan hidup manusia. Keinginan melihat dulu baru percaya juga terjadi di zaman Rasulullah SAW. Saat beliau menyampaikan ajaran Tauhid, beberapa kali Rasulullah SAW diminta menunjukkan bukti kerasulannya. Bahkan Allah SWT sendiri terkadang menunjukkannya. Di antaranya adalah kisah bergesernya batu Ka’bah.
Suatu hari orang-orang kafir Quraisy berkumpul di rumah Abu Jahal. Tiba-tiba masuk Thariq ash-Sholidani.
“Tahukah kalian, bahwa untuk membunuh Muhammad saat ini sangat mudah. Asal kalian percaya dengan kata-kataku,” kata Thariq.
“Bagimana caranya, Thariq?” sambut salah satu pembesar Quraisy.
“Muhammad saat ini sedang duduk di depan Ka’bah. Jika salah satu dari kita pergi ke sana dan menjatuhkan batu besar dari Ka’bah, pasti ia tewas seketika itu juga.”
Tiba-tiba Syihab berdiri dan berkata, “Jika kalian izinkan aku yang melakukannya, aku siap.”
Orang-orang yang berada di rumah Abu Jahal sepakat dan mengizinkan Syihab melakukannya.
Setelah tiba di depan Ka’bah. Syihab pun segera naik dari sudut yang tidak diketahui Rasulullah dengan membawa batu besar. Saat ia akan meluncurkan batu besar tersebut tiba-tiba dinding Ka’bah bergeser. Pergeseran dinding Ka’bah juga membuat posisi Rasulullah Saw. tidak berada di posisi semula. Sehingga batu yang diluncurkan Syihab meluncur langsung ke lantai tanpa mengenai Rasulullah Saw. sedikitpun.
Setelah itu, dinding Ka’bah yang bergeser kembali ke posisi semula. Tepat di depan Rasulullah Saw. Syihab yang mengalami dan menyaksikan peristiwa ini bingung dan terheran-heran. Lalu ia turun dan menemui Rasulullah Saw. Setelah diceritakannya apa yang sebenarnya ingin dilakukannya, lalu ia mengatakan kepada Rasulullah Saw. bahwa ia masuk Islam. Ia mengakui bahwa Muhammad Saw. adalah Rasul Allah.
Thariq yang memberi kabar tentang keberadaan Rasulullah Saw. dan menyaksikan perbuatan Syihab di atas Ka’bah juga menyatakan dirinya masuk Islam. Setelah mereka masuk Islam, lalu Rasulullah Saw. mempertemukan mereka berdua dengan para sahabat. Kemudian Rasulullah Saw. berkata,” orang yang paling mulia di akhir zaman adalah mereka yang tetap dalam iman dan Islam, meski mereka tak pernah sekalipun melihat mukjizatku.”
Cerita ini menjadi hal yang membanggakan bagi kita. Karena kita mengimani Rasulullah Saw. tanpa pernah menyaksikan dirinya dan mukjizat-mukjizatnya. Kita hanya menyaksikan satu mukjizatnya, yaitu al-Qur’an. Kita melihat betapa indahnya bahasa al-Qur’an. Tak akan ada seorang pun yang bisa meniru dan menyamai bahasa al-Qur’an. Peristiwa-peristiwa yang dikabarkan di dalam al-Qur’an tak ada yang salah sedikitpun. Semuanya benar.
Karena itu, mari kita bina iman kita dari hari ke hari agar bisa mati dalam keadaan beriman. Mati yang khusnul khatimah. Jika mendapatkan posisi mati seperti ini, kita dijamin akan bersama Rasulullah Saw. di dalam surga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.