|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Selasa, 29 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Saya pernah mendapat kiriman sebuah cerita yang akan saya ceritakan kembali. Ada seorang pemecah batu yang tinggal di suatu desa. Suatu saat, ia melihat seorang konglomerat. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang konglomerat. Ketika ia sedang bepergian dengan mobil mewahnya, ternyata ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat yang sedang lewat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.
Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari yang luar biasa. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari. Namun Ketika sang matahari sedang bersinar terang, tiba-tiba sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan. Dan ketika awan itu sedang berarak di langit, angin menyapunya. Awan itupun iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba iapun berubah menjadi angin.
Ketika angin itu sedang berhembus, ia tak kuasa menembus kokohnya gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung. Ketika gunung sedang berdiri kokoh, ia melihat ada seseorang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.
***
Dalam hidup, kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini akan baik-baik saja dan bisa Anda nikmati sampai Anda mulai membanding-bandingkan. Anda tidak akan mampu menikmati hidup bila Anda selalu melihat bahwa “rumput di halaman tetangga lebih hijau”.
Syukuri apa yang sudah Anda tekuni. Jangan pernah merasa iri dengan profesi orang lain. Anda hanya boleh iri pada dua hal saja. Pertama, iri kepada orang kaya raya yang dermawan. Kedua, iri kepada orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.