|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://tetapbersyukur.wordpress.com |
|
yudi_aja56@yahoo.co.id |
|
mas.yudiii |
|
http://facebook.com/Wahyudi Yusuf |





Selasa, 10 Mei 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Wahyudi
Ba’da dzuhur. Panas menyengat, mendung pun tak tampak. Dia kembali mengayuh sepedanya bersamaan dengan menyalanya lampu hijau perempatan jalan. Panas terasa. Menunggu lampu merah beberapa menit, diterik matahari, pakai sepeda, tanpa helm, bercampur hawa panasnya mesin mobil dan motor yang berada di samping kiri-kanannya mengingatkannya akan betapa panasnya ketika nanti dikumpulkan di padang mahsyar dengan matahari didekatkan, mendekat, dan semakin mendekat. Merasakan panasnya kepala tanpa penutup kepala mengingatkannya akan dahsyatnya siksa paling ringan di neraka. Hanya dengan kaki menginjak kerikil neraka saja, otak sudah mendidih. Dahsyat. Itulah kekuasaan Allah. Keringat yang mengalir, terus mengingatkannya akan setinggi apa keringat yang menenggelamkannya di saat nanti digiring ke padang mahsyar. Setinggi mata kaki, selutut, sepinggang, atau malah menenggelamkannya. Ya Allah, kami mohon berilah naungan pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Mu.
Dia bersama sepedanya terus meluncur di tengah panasnya udara ibukota untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tanggung jawab terhadap amanah. Teman kerja yang seharusnya bertugas menyelesaikan pekerjaan itu sedang tidak masuk. Karena amanah itu harus segera dituntaskan, maka dia mengambil alih tugas itu. Motor tidak ada, maka sepeda pun jadi.
Tugaspun terselesaikan. Ia kembali mengayuh sepeda untuk kembali ke tempat semula, tempat kerja. Haus dan lapar terasa. Apalagi tadi belum sarapan pagi. Ingin segera menghilangkan dahaga. Ingin berhenti di pinggir jalan untuk membeli minuman dingin untuk menghilangkan rasa dahaga. Ah, nanti sajalah sekalian beli makanan di warung dekat tempat kerja, sekalian beli es teh manis. Begitu pikirnya.
"Mbak, nasinya dibungkus satu sama es teh manis satu." Dia langsung buru-buru memesan nasi setelah sampai di warung. Di saat menunggu pesanan selesai, pandangan matanya tertuju pada seorang kakek dan seorang anak kecil yang sedang duduk bersandar berdua di pagar, dengan tas kresek yang berisi sampah-sampah bekas berada di sampingnya. Tampak kelelahan. Tampak mengusap keringat. Kasihan mereka berdua. Begitu pikirnya. Dia langsung lihat uang di sakunya. Oh, cukup. "Mbak, es teh manisnya satu lagi ya." Segera dia kembali ke tempat kerja setelah pesanan selesai dibuat. Tak lupa dia menghampiri kakek dan cucu tadi untuk memberi dua buah es teh manis. Toh di tempat kerja masih ada air putih dingin. Begitu pikirnya. Ucapan "alhamdulillah" yang meluncur dari mulut kakek tadi mampu menyejukkan hatinya meskipun di tengah panasnya hawa siang itu.
http://tetapbersyukur.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Wahyudi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.