|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|





Senin, 18 Maret 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Rahmatan Idul
Apa kabar, cahaya?
Sudahkah cinta menyapamu hari ini ketika sehelai kabut masih menyelimuti pagi? Kuharap kau menyambutnya seperti pucuk-pucuk hijau mekar meninggalkan kuncup menyambut belaian jemari mentari. Karena, cahaya, kita tak pernah tahu apa yang tertulis di lembaran kitab langit, masihkah esok kan kembali atau detakan bumi kan segera terhenti.
Masihkah cinta menyulut pijarmu hari ini ketika semilir angin Juli menghembuskan tinta-tinta hitam membayang awan searakan? Kuharap kau menjaga hangatnya seperti merpati menahan tusukan hujan mendekap merpati-merpati kecilnya, menjaga hangatnya. Karena, cahaya, kita takkan pernah tahu apa yang tertulis di lembaran kitab langit, masihkah dunia kan merona atau gelap kan mengekalnya.
Cahaya...
Masihkah kau ingat detik di mana kubisikkan padamu tentang setitik embun yang tak pernah memuai cintanya pada dedaunan, meski seringkali matahari lekat menatapnya? Ya, cahaya. Kupikir akulah setitik embun itu, yang takkan pernah goyah meski tiap molekul jiwaku kan pupus dan tiada tersisa kecuali jejak basah yang mulai mengering bersama senyuman matahari senja. Ternyata ku tak pernah lebih baik dari setitik embun itu. Ya, aku salah.
Lalu, masihkah tersimpan di benakmu sebuah cerita yang kukisahkan padamu tentang sehelai daun keladi yang menahan kecewanya ketika pagi turun tanpa mentari? Benar, cahaya. Kupikir daun keladi itulah aku, yang akhirnya layu di ujung terik tanpa cahaya yang menyapa di permulaan pagi. Benar, cahaya. Aku ternyata tak setegar yang kubayangkan hingga tak tahu ke mana kegamangan ini kan kubawa. Karena, cahaya, seperti risalah yang pernah kulirihkan di kalbumu bahwa serabut kesunyian ini telah merambat pekat di tiap kelopak nuraniku.
Cahaya...
Izinkanlah ku menggoreskan sesuatu di penghujung lirik ini. Sesuatu yang bisa terus menjaga mimpi ini, sesuatu yang bisa terus kunikmati tanpa harus terjaga, sesuatu yang, ah, dengarkan aku untuk sekali ini saja.
Cahaya, aku rindu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmatan Idul sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.