|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|





Senin, 25 Februari 2013 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rahmatan Idul
Ada masa di kala kenangan menabur rindu pada jiwa-jiwa tak berdaya. Selayaknya hujan menggerus dekapan tanah pada akar pinus tua yang telah dirapuhkan oleh cintanya kepada sang purnama. Ya, telah tujuh puluh purnama kulewati sejak aku mengenalmu. Namun masih, tak sedetikpun waktu rela membiarkan kita untuk bersama. Aku mulai berpikir, kiranya hasutan takdir telah membuat waktu cemburu pada sebuah kenyataan bahwa aku kan mencintaimu seperti embun yang takkan pernah mengering sebelum pagi benar-benar berakhir.
Rindu ini, cahaya, sesungguhnya telah meringkihkan tulang-tulangku bahkan hanya untuk sekedar berdiri, menanti hingga fajar meluluhkan gelapnya malam. Dan lisan ini, cahaya, sesungguhnya telah sampai pada penatnya bahkan hanya untuk sekedar melantunkan sepotong mantra hati itu kembali. Namun, cahaya, sekuat apapun waktu menderaku, selamanya hati ini takkan pernah terkalahkan sebelum kematian akhirnya memupus jiwaku. Ya, aku akan terus mencintaimu hingga takdir menyerah kepadaku.
Cahaya, dengarlah bisikan mantra hati ini, semoga waktu takkan kembali memisahkan kita setelah gelap yang kulalui. Semoga mata ini selalu terjaga dalam menatap indahmu meski harus ada airmata yang terteteskan. Dan, cahaya, semoga semesta hati ini tak pernah lelah mencintaimu hingga hujan kembali ke pangkuan awan.
Cahaya, dekaplah aku dalam cintamu dan jangan pernah kau lepaskan lagi.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmatan Idul sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.