|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 19 Juli 2012 pukul 11:30 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Bisakah aku tetap menjadi bagian dari detakan jantungmu? Turut serta merasakan apapun yang engkau rasakan. Untuk banyak alasan, aku telah menyayangimu. Dan akan tetap kulakukan, karena memang engkau layak untuk disayangi.
Begitu berat jika melihat di mana lahanmu sekarang yang menumbuhkembangkan hidupmu, dan engkau butuh penguat. Maka, seharusnya kita lebih dekat, dekat, dan dekat lagi. Karena aku telah siap menopangmu, dari banyak hal yang mampu menghempas kefitrahan.
Pernah suatu kali, aku begitu mengkhawatirkanmu, dalam bentangan jarak yang memagar kebersamaan, dan waktu yang memaku langkah menujumu, namun semoga do'a-do'a hati itu menguntai, menjerat lakumu dari murkaNya. Karena begitu, dan dengan apapun wujudnya, kuupayakan menjagamu. Bukan hanya sebatas kewajiban atau sekedar tanggung jawab semata, namun ada sebuah kerinduan yang kelak berharap menjadi nyata, akhiri semua kisah perjalanan jiwa pada sebuah tempat, di mana kita berada dalam satu naungan yang sama; rahmatNya.
Ayo, sambut uluran tangan ini, kubawa engkau ke pemukiman orang-orang taubat, yang telah meninggalkan semua kesemuan hidup, yang telah merobek kegelapan dengan cakar-cakar kesadaran, yang telah membuka jendela hati untuk bersinarnya cahaya iman, hingga sudut-sudut terdalam sanubari.
Aku mengerti, itu tak kan mudah dilakukan di masa-masa sepertimu. Namun, engkaupun harus mengerti sedari saat ini, bahwa engkau bukanlah pemilik kehidupan ini, hingga tak bisa sesuka hati kau isi berdasarkan selera pribadi. Hidup ini amanah yang pada masanya nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Jika dengan ini kau berontak karena tak pernah memintanya, maka engkau harus mulai pula belajar mensyukurinya, dengan awal mula kesadaran bahwa ternyata di sudut pandang yang berbeda; hidup adalah anugerah yang akan meluapkan rasa syukur tak terkira.
Untuk banyak alasan, aku telah menyayangimu, namun semuanya tak kan pernah berarti jika satu alasan utama yang menjadi induk banyak alasan itu hilang. Meski kita tumbuh dari rahim yang sama. Tak lain alasan itu adalah, aku menyayangimu karenaNya. Maka, kupastikan rasa ini akan selalu kuat dan menjadi abadi tak hanya di dunia.
Adikku sayang, uhibbuki fillah.
***
/rf_aku menjagamu meski engkau tak selalu mengetahuinya
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.