Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Aku Ingin Pulang
11 Juni 2012 pukul 13:00 WIB
Mewarna Seindah Pelangi
7 Juni 2012 pukul 12:30 WIB
Ada Satu Garis
5 Juni 2012 pukul 13:30 WIB
Dua Purnama
25 Mei 2012 pukul 14:00 WIB
Wahai yang Mahacinta
24 Mei 2012 pukul 11:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 14 Juni 2012 pukul 12:30 WIB

Bukan Pejantan Cantik

Penulis : Rifatul Farida

Menikmati pagi yang masih sama dengan secangkir teh hangat dan lantunan murattal surat Al-Mulk, berlanjut ke beberapa surat selanjutnya. Sebuah harapan baru di pagi ini tersemat di hati. Meski mendung, semoga tak memendungkan setiap jiwa yang memandangnya.

Masih dengan hati yang ini, masih dengan perasaan yang begini, masih dengan cinta ini. Menjalani hidup dengan kemuslimahan yang Allah SWT anugerahkan. Mensyukuri setiap nikmat, terlebih nikmat iman ini. Subhanallah... luar biasanya hidup ketika kita menjalani semuanya berdasarkan versiNya. Ketika kita mematuhkan semua gerak adalah muara menujuNya.

Allah SWT, pencipta kita. Pencipta kefitrahan kita. Telah begitu jelas menggariskan banyak hal yang harus kita patuhi. Semata bukan hanya sebagai kewajiban, namun adalah tanggung jawab atas amanah yang pernah kita sanggupi; sebagai khalifah fil ard.

Dan garis yang itu, yang telah jelas membatasi perbedaan antara kaum adam dan kaum hawa. Dimana, Allah SWT telah mengamanahkan fungsi dan peranannya masing-masing, untuk kita pergunakan sebaik mungkin, dalam tapak kehidupan seorang muslim/mah.

Maka kita, sebagai seorang muslimah, melihat beberapa ketimpangan kaum kita yang melenceng dari fitrahnya, mempunyai tanggung jawab untuk mengulasnya menjadi pemahaman, yang kemudian diharapkan terurai menjadi laku.

Ketika kita berbicara tentang kewanitaan, maka kita membicarakan tentang karakteristik dan kepribadian kaum yang sering kita kenal dengan sebutan feminis. Namun di sini, topik pembahasan akan lebih dikerucutkan pada karakteristik kefitrahan itu sendiri.

Wanita, adalah sosok yang sering kita identikkan dengan keindahan, kelembutan, keibuan, dan masih ada beberapa.

Lalu bagaimana dengan wanita yang kelaki-lakian, yang kemudian dalam msyarakat umum sering disebut dengan tomboy? Apakah sang wanita telah menyimpang dari kefitrahannya?

Maka jawabannya adalah ya, wanita yang bertabiat seperti itu sedang tidak pada tempatnya sebagai wanita.

Sering kita dengar alasan sebagian wanita yang bertabiat tomboy , bahwa watak itu sudah dari “sononya” sebagai pembelaan diri. Padahal, jelas Allah SWT menciptakan kita dengan peranan dan fungsi masing-masing sebagai lelaki dan perempuan.

Mari kita telisik lebih dalam, bahwa biasanya faktor yang sangat mungkin menyebabkan seorang wanita tomboy, dan sebaliknya seorang lelaki banci (sebutan untuk lelaki yang kewanita-wanitaan) adalah faktor pola asuh orangtua, faktor lingkungan, faktor pergaulan, dan sangat mungkin masih ada beberapa faktor yang bisa diurai dalam konteks yang lebih luas.

Dari sinilah kita bisa memulai memahami, bahwa tak ada faktor yang melenceng dari fitrah. Maka sudah barang tentu yang menjadi fokus kita untuk memperbaiki keadaan ini adalah dari pola asuh orangtua. Menjadi pelajaran berharga bagi kaum Ibu (dan tentunya turut serta kaum Bapak) untuk mengawal tumbuh-kembang putra-putrinya mulai dari rumah, lingkungan serta pergaulan di sekup yang lebih kompleks dan luas.

Itulah kemudian dapat dipahami juga, bahwa orangtualah yang paling bertanggung jawab terhadap putra-putrinya, bukan guru ngajinya dan guru-guru yang lain kelak di hadapan Allah SWT.

Bagaimana kemudian bagi kaum wanita yang sudah terlanjur menjadi tomboy? Harus ada upaya dari dalam dirinya untuk kembali pada fitrah, yang didukung oleh beberapa faktor dari luar dirinya, seperti keluarga, lingkungan, pergaulan, dan lainnya.

Bagaimana kalau ada yang tetap keukeuh bilang itu sangat susah karena sudah menjadi semacam naluri? Hmmm… sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan, bukan?

Bukankah Allah SWT sangat mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh? Yakinlah bahwa Allah akan merubah seseorang jika orang itu berupaya pula mau merubah dirinya sendiri.

Akan tetap hidup melenceng dari kefitrahan, atau kembali kepada kefitrahan. Itu adalah pilihan ketakwaan. Karena benar adanya larangan itu dalam aturan agama kita baik menyerupai pada bab pakaian atau pada bab sifatnya. Tak ada spekulasi apalagi tawar menawar. Termasuk tawar menawar sebagian orang dengan pendapat; tidak mengapa asal tidak sampai operasi kelamin.

Wallahu a’lam.

***

/rf_Mari, menjadi wanita sesungguhnya.

Foot Note :

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dari Abdullah bin Amru yang berkata, Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.” (Ahmad II/199-200).

Dari Ibnu Abbas yang berkata, Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda, “Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan.” Dalam lafadz lain, “Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria.” (Al-Bukhari X/273-274).

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki, dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu).” (Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi).

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2719 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels