|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|





Senin, 20 Februari 2012 pukul 11:00 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Bukanlah nyanyian sunyi yang akan tulis, karena aku kurang suka menyanyi atau mendengarkan lagu-lagu roman picisan. Aku sejak dulu lebih menyukai lagu-lagu yang bermakna, sarat pesan, dan aku sendiri nggak tahu kenapa begitu.
Sebuah sisi hatiku yang lain, gambaran perasaan, luapan jiwa, dan pikiranku yang tak pernah berhenti bergejolak. Aku sesekali ingin memadamkannya atau sering melarikan diri darinya dengan menyibukkan diri, tidur, atau nonton film, asal aku tidak sendiri berpikir dan merenung, tapi aku tak mampu. Kala kesendirian di kamar tidurku atau saat detik-detik menuju lelap tidur, semua realita hari ini atau kemarin terpapar kembali. Kadang aku menangis sendiri tanpa tahu kenapa. Aku hanya ingin menangis. Dan menangis bagiku kadang indah, kadang menyesakkan, dan kadang kurindukan.
Sejak 19 Mei 1991, aku mulai biasa menangis diam-diam. Sebulan minimal empat kali. Sekarang saja yang mungkin agak jarang atau kadang lebih dari itu. Tahu kenapa aku menangis, aku kangen banget sama ibu. Biasanya kulakukan di kamar mandi atau di tempat tidur, dulu sambil menanyakan diam-diam pada Tuhanku. Kenapa orang yang paling kucinta, baik hatinya luar biasa, diambil paksa dari sisiku. Hingga Engkau memberikan pemahaman Islam, akhirnya aku ridha dan tidak menangis lagi untuknya, tapi menggantikannya dengan do'a.
Lain dulu, lain sekarang. Sekarang, aku kadang menangis untuk hal-hal yang aku tak mengerti. Seorang tukang bakso yang kehujanan, lelaki tua berkepala botak, berperut buncit, di pinggir jalan, aku menangis diam-diam. Aku teringat Bapak. Teringat bahwa apa kebaikan yang kulakukan untuknya. Apakah aku sudah menjadi anak yang membanggakan baginya. Aku tahu dahulu Bapak sering memarahiku, tak sedikitpun pujian terlontar untuk setiap prestasiku, memukuli dengan lidi yang menyakitkan, melemparkan sandal ke mulutku sehingga pecah bibir dan goyah dua gigiku. Tapi bagaimana pun, ia hendak mendidikku dengan caranya, yang sekali lagi tidak kumengerti. Aku tahu kini, Bapak lebih keras mendapatkan didikan dari kakek. Dan anehnya, kakek lebih memilih rumah Bapak dibandingkan rumah anak-anak lainnya sebagai tempat bernaung, menghabiskan sisa-sisa usianya.
Nonton film yang menyentuh hatiku, nonton The Last Samurai, saat adegan samurai memacu kudanya menyongsong hujan peluru dan meriam, aku menangis teringat Rasulullah dan para Sahabat. Saat nonton film-film lain yang mengharukan, aku menangis. Saat aku membaca Ayat-Ayat Cinta, aku menangis, begitu pula Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Andrea Hirata. Aku menangis pula saat membaca Sheila, Gadis yang Hilang. Aku juga menangis pula kala membaca Sirah Nabawiyah ataupun mendengarkan lantunan muratal Irfan Hawariyah atau pun Syeikh Ar-Rifai.
Ketika seorang bercerita tentang kisah hidup yang memilukan dan perjuangannya, aku menangis. Film, kisah, dan buku-buku membuatku menangis.
Kini, ketika aku melihat mind map Tifa di pelatihan Madina Society, aku sedih, ingin menangis diam-diam, mentorku mungkin tak mengerti aku telah membaca kebalik. Slogan kerja Tifa di Aceh bukan dibaca Menuju Aceh Baru olehku, tapi Menuju Kehancuran Aceh Baru. Aku membayangkan masa depan Aceh yang diatur bukanlah dengan syari'at Islam membuatku ngilu. Membayangkan Indonesia di masa depan pun aku tak sanggup.
Aku ingin menangis lagi untuk orang-orang yang baik, hatinya ikhlas, tulus, ibadahnya banyak sekali, akhlaknya luar biasa, namun apolitis dan aideologis, mereka merancang kebijakan, pilihan hidup, perbuatan yang menduakan dan mengkhianati syari'at Tuhannya atas nama agama Tuhannya sendiri. Kemudian mereka mengatakan orang-orang yang lemah, jauh pemahamannya seperti aku namun perindu syari'ah dan khilafah, dengan perkataan NATO, terlalu melangit. Nihil aplikasi. Menandaskan kata : Jangan bawa-bawa syari'at Islam dan khilafah. Aku terhenyak dan tergugu. Tuhanku, andai mereka merasakan apa yang aku rasakan, andaikan mereka memahami semuanya dengan sudut pandangku. Kerinduan yang kadang aku tidak mengerti, betapa mereka sesama saudara muslimku sendiri, yang banyak di antaranya memiliki hati bening dan baik hati sekali.
Aku lebih ingin menangis lagi diam-diam atas semua ketidakberdayaanku, kelemahan, kekurangan dalam mendidik diriku sendiri, kemalasan yang membuatku tidak segera maju, keegoisan dan keangkuhanku yang membuat ilmu-Mu tak jua masuk dalam diriku. Kebenaran yang sulit merasuk. Yang membuat aku gelisah dan terhalang dari semua karunia-Mu.
Tuhanku, izinkanlah aku mencintai-Mu, jadilah aku orang yang mencintai-Mu. Bukakan jalan untukku, berilah kesabaran, kelembutan, ketegasan, keberanian, pertemukanlah aku dengan orang-orang yang senantiasa bisa mendekatkan aku dengan-Mu dari mana pun asalnya.
Tuhanku, kenapa aku mudah menangis, menangis dalam sunyi. Kutulis ini dengan tangisan tanpa suara dan bahasa.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.