|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 17 Februari 2011 pukul 11:55 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Rimbunnya daun di pohon yang itu, indah berguguran, menghiasi jalanan yang masih sepi pagi ini. Kupungut satu daun, berwarna coklat tua. Kutatap lekat. Menjadi pelajaran berharga, tentangnya dalam merunut takdir. Tetap lafadzkan dzikir, dengan caranya sendiri, tak mengenal keadaan dan waktu. Entah ianya masih menghijau segar, atau mengusam coklat dan harus tiba masanya jatuh ke bumi.
Dan aku selalu iri pada apa saja yang tetap begitu taat dan berkhidmat padaMu. Dan aku selalu cemburu pada apa saja yang tak hanya sempurna mengenal hakikatMu, namun juga ikhlas menjalani pada apa saja yang menjadi kehendakMu.
Rabbi, ampunilah segala keinginan, tutur, dan laku yang bukan dalam koridor taat padaMu. Ampunilah segala khilaf diri.
Jika dalam peluh masih terselip keluh, ampunilah.
Jika dalam sabar masih terhembus nafas panjang menekan, ampunilah.
Jika dalam pasrah masih meledak tangis, ampunilah.
Kini, ijinkan aku memulai semuanya lagi. Dengan tanggung jawab terhadap diri sendiri, bahwa tak kan kubiarkan kaki, jiwa, dan raga ini terjerembab ke dalam lumpur dosa, walau hanya setitik noda. Meski menyadari sebagai manusia biasa tak kan pernah luput dari dosa. Namun, tidak akan berulang dan berulang pada satu titik noda yang sama. Karena firmanMu jelas memberi peringatan, bahwa Engkau tak kan pernah memberi petunjuk pada orang yang fasik. Lalu, apa jadinya hidupku tanpa petunjukMu?
Sesungguhnya, aku berlindung kepadaMu dari pengulangan-pengulangan kesalahan dan dosa. Sungguh, aku berlindung kepadaMu dari kefasikan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.