|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 27 Januari 2011 pukul 14:45 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Jika seseorang tertarik pada sesuatu, itu karena ada yang menarik untuk dirinya. Begitu juga dalam hubungan dengan lawan jenis. Sudah sunnatullah penakdiran berpasang-pasangan. Maka dalam hal ini pun Allah yang menciptakan manusia, menghalalkan setiap siapapun memilih pasangan yang disukai, selama masih dalam koridor syari'atNya
Hadits Nabi SAW yang sangat mashur menjadi rujukan, bahwa wanita dinikahi (pada masa itu) biasanya karena empat hal; karena keturunannya, karena kecantikannya, karena hartanya, dan karena agamanya. Maka pilihlah agamanya, niscaya engkau akan selamat.
Mari telaah lebih dalam sabda sang Nabi SAW, karena hari ini banyak dari kita yang telah salah kaprah memberi makna, bahwa di pikiran kebanyakan pemuda (pun, pemudi) ada empat hal anjuran kriteria dari Nabi SAW, tapi titik beratnya adalah kriteria yang terakhir, yaitu karena agamanya.
Kita mengartikan bebasnya begini, bahwa menurut Nabi SAW (itu berarti menurut Islam), seseorang dinikahi karena empat hal tersebut. Padahal dalam redaksi hadits, ada kata "biasanya", yang tentu saja akan memberi makna berbeda pada hal yang dimaksud.
Mari kita bandingkan kalimatnya;
"Wanita dinikahi karena empat hal, maka pilihlah yang karena agamanya."
"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal, maka pilihlah yang karena agamanya."
Kalimat yang pertama, memberi makna bahwa empat hal dalam hal ini adalah kata-kata dari sang pembicara. Sedangkan kalimat yang kedua, memberi makna bahwa sang pembicara mengatakan hal yang (pada masa itu) biasa terjadi di masyarakat. Itulah beda makna yang sangat signifikan.
Jadi kesimpulannya, empat hal yang ada dalam hadits Nabi SAW itu bukan berasal dari Islam. Hanya merupakan redaksi hadits. Kenapa penulis bilang bukan berasal dari Islam? Karena jelas, kalau kita merujuk pada hadits Nabi SAW, kata "biasanya" menceritakan pola hidup atau gaya hidup atau keumuman masyarakat yang dimaksud. Tentu saja, karena Nabi hidupnya di Arab, maka kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan orang-orang arab pada masa itu.
"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal, maka pilihlah yang karena agamanya."
Intinya dari hadits ini bukan pada empat halnya, tapi pada penekanan, nikahilah karena agamanya, niscaya engkau akan selamat.
Lalu, kenapa musti harus ada redaksi kalimat "empat hal"? Kalau boleh dijelaskan dalam bentuk ulasan, maka jadinya begini; Islam, tidak menafikkan tentang kecenderungan manusia menginginkan yang terbaik dalam hidupnya dalam hal apapun, tak terkecuali dalam hal memilih pasangan hidup. Dan Islam telah berhasil dengan baik memotret keumuman kecenderungan manusia dalam empat hal itu. Siapa sih yang tidak ingin suami yang tampan/isteri yang cantik, kaya, keturunan ningrat, shaleh/shalehah lagi?
Tapi, tunggu dulu. Tidak semua orang memiliki keempat hal tersebut dalam diri dan kehidupannya, itu artinya juga tidak semua orang bisa berpasangan dengan orang yang memiliki keempat hal tersebut. Maka, dengan tegas dikatakan, pilihlah karena agamanya (keshalehannya, red), niscaya engkau akan selamat.
Adalah hal yang tidak dilarang menyaratkan keempat-empatnya, tapi secara pribadi penulis menyimpulkan, bahwa seseorang yang memilih pasangan hidupnya hanya karena Allah, ia akan hanya fokus pada poin keempat, agamanya. Karena baginya, kekayaan, garis keturunan, dan kecantikan/ketampanan tak kan berarti apa-apa jika perbandingannya adalah keshalehan/keshalehahan. Kata lainnya, tak ada bedanya baginya kaya atau miskin, tampan/cantik atau jelek, keturunan ningrat atau bukan, karena urusannya bukan pada kesemuan itu, tapi pada agamanya. Itulah juga barangkali bisa dipahami, kenapa seorang wanita (hebat) tak mempermasalahkan tentang poligami, karena baginya dimadu atau tidak bukan yang menjadi perhatian utama, tapi keshalehan pasangan adalah yang utama.
Ya, pilihlah karena agamanya, maka engkau akan selamat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.