|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|




Senin, 15 November 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : Muhammad Aris Saifuddin
Keriput di tangannya kini mulai nampak, rambut yang dulu hitam pekat pun perlahan mulai berubah putih, badannya pun sudah tak segagah dulu, namun senyumnya, tegarnya dalam menghadapi setiap masalah dan ikhlasnya dalam mendidik anak-anaknya masih terpancar dalam dirinya. Kini usia itu sudah mencapai setengah abad dan bahkan lebih. Meskipun begitu, aura kasih sayangnnya masih terpancar dalam dirinya dan bahkan aura itu kian bertambah selaras dengan bertambahnya usia.
Bapak,
Betapa rasa ini kian luruh melihatmu, perasaan yang tak bisa membayar atas semua kerja keras yang telah kau buktikan kepada anak-anakmu bahkan Ibu. Betapa bangganya kami atas nafkah yang telah engkau berikan kepada kami. Bukan saja nafkah lahir yang telah engkau berikan, akan tetapi juga batin. Tatapan yang engkau berikan kepada kami pun juga sudah mulai berbeda, mungkin dalam pikiranmu kini masih merindukan anakmu yang dulu, anak yang selalu engkau ajarkan kebaikan, anak yang selalu engkau didik menjadi pribadi yang beragama, dan bahkan juga bukan anakmu yang dulu selalu engkau ajarkan mengaji Al-Qur’an.
Zaman pun kini sudah berlalu, pak.
Yang engkau tatap kini bukan lagi anakmu yang sering membantah perintahmu, bukan juga anakmu yang sering membuatmu marah jika tidak shalat. Kini anakmu sudah mulai beranjak dewasa, mulai memahami arti hidup yang sesungguhnya. Dan semua itu karena usaha keras yang telah engkau tanamkan kepada anakmu ini. Sungguh, semakin hari rasa syukur itu selalu hinggap dalam hati ini, rasa syukur karena telah dikaruniai orangtua yang selalu mengajarkan kebaikan, orangtua yang selalu mendidik anaknya menjadi orang yang lebih berguna, terutama bagi agamanya.
Ingin dan bahkan selalu ingin dalam usia yang mulai menginjak dewasa ini memberikan hadiah istimewa yang selalu engkau damba. Masih teringat betapa sangat inginnya engkau merasakan hari raya Idul Adha di seberang sana, menunaikan kewajiban yang kelima bersama Ibu. Ahhh... Bapak, betapa inginnya diri ini membahagiakanmu, meskipun hal ini belum bisa membalas kasih sayangmu.
Duhai Bapak tercinta, beribu maaf kini kulontarkan kepadamu melewati tulisan yang sederhana ini, maafkan jika selama ini masih saja sering membangkang akan perintahmu, kata makian yang dulu pernah terucap, dan bahkan untaian do’a yang sering terlupa kuhaturkan padamu. Dan sungguh, hingga tulisan ini berakhir, untaian maaf masih kuhaturkan untukmu. Semoga engkau meridhai anakmu, sehingga Allah pun akan meridhaiku.
Wallahu a'lam bishshawwab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Aris Saifuddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.