HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://latief.kotasantri.com
Bergabung
13 Oktober 2011 pukul 09:23 WIB
Domisili
Al Ain - Al Ain
Pekerjaan
Pegawai
latape2003@gmail.com
latape2003
la_tape2003
latape2003
latape2003@gmail.com
http://twitter.com/latape2003
Catatan Abdul Lainnya
Kebersamaan
19 September 2013 pukul 23:54 WIB
Investasi
19 September 2013 pukul 23:52 WIB
Bercocok tanam
12 Juli 2013 pukul 20:50 WIB
Penghalang
12 Juli 2013 pukul 20:32 WIB
Marah
30 Juni 2013 pukul 00:47 WIB
Catatan
Kamis, 19 September 2013 pukul 23:56 WIB
Sibuk

Oleh Abdul Latief Sukyan

Sibuk

Matahari mulai kemerahan, angin yg bertiup terlihat jelas pada daun-daun jati yg dipermainkan oleh angin, suara kicau burung milik tetangga yg tergantung dalam sangkar, turut menambah keindahan sore hari.

Orang sekampung biasa memanggilnya Pak Saduk, ia terlihat duduk santai di depan lemari kecil tempatnya menjajakan bensin, kursi panjang terbuat dari bambu sudah dipenuhi oleh tiga orang yg sedang asyik bergurau sambil menikmati suasana sore.

Pembahasan kali ini tentu tidak jauh dari pengairan sawah, tandur dan pupuk, mereka bertiga tampaknya saling mempertahankan pendiriannya masing-masing

Di ujung sana, gerombolan anak naik sepeda menyeberangi jembatan, mereka baru saja menyelesaikan pelajaran madrasah sore.

Saat mereka melintasi jalan dihadapan bapak-bapak yg tenggelam dalam obrolan sore, debu mengikuti sepeda-sepeda mereka dan membubung ke langit, dan kali ini obrolan bapak-bapak mulai berpindah pada bisnis. Terkadang tindakan kotor dilakukan untuk melancarkan bisnisnya, ungkap satu dari mereka. Kok bisa ? Tanya bapak di sebelahnya sambil menepuk bahunya, oh tentu ; wong aku dengar bahwa penjual bakso di sana itu memasukkan celana dalam istrinya pada tempat masak baksonya agar tambah dan tetap laris bakulnya (jualannya) ungkap bapak pertama meyakinkan

Menjelang adzan maghrib, satu persatu mulai beranjak dari tempat duduk mereka dan pulang untuk mengambil wudlu dan kembali ke masjid untuk shalat jamaah.

Kisah tadi terus beredar, walaupun tak satu pun melihat langsung dan berani membuktikan kebenaran ucapannya, hingga akhirnya kisah itu hinggap di telinga sang ustadz kampung.
Ustadz kampung itu hanya diam lama dan beristighfar sambil berujar pendek dan berkata menasehati dirinya : agar aku tidak terus sibuk pikiran, maka aku lebih baik menyibukkan diri dg kebaikan.

Terasa sejuk dan wangi ucapannya sewangi semilir angin kampung yg meniupkan aroma bunga pohon mangga, dan masyarakat pun mulai sepi ghibah dan iri atas rezeki orang lain.

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0529 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels