|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore kita bekerja dikantor, terkadang kejenuhan menjumpai kita, tapi cita-cita tidak boleh dihentikan, ungkapnya sambil menyeruput kopi hangat di warung sebelah kantornya, Ahmad sambil termangu memandang kedepan, selepas azan ashar ia harus segera beranjak pulang agar tidak terlalu malam setibanya dirumah nanti, begitulah rutinitas dan tugas harianku.
Dan masih banyak lagi orang lain yang mengais rezekinya dari pagi hingga petang, dan bahkan dari petang hingga pagi, sebenarnya apa yang hendak ia gapai ?
Perjalanan hidup ini seakan tidak pernah berakhir dan tumpukan harta tak mampu melemaskan otak dan otot kita untuk selalu berusaha menambah dan menambah, tapi sampai kapankah kita akan puas ?
Semoga moral kisah dibawah ini, membuat kita sejenak berhenti sejenak dari penatnya kerja dan merapikan kembali masa depan kita dengan memperbanyak kebaikan dan ibadah kepada Allah, simaklah kisahnya.
Ada seorang Kaisar yang mengatakan kepada penunggang kudanya yang setia mengabdi, apabila ia bisa mengendarai kudanya & menjangkau wilayah sebanyak yang ia mampu, maka sang Kaisar akan memberikan wilayah sebanyak yang ia jangkau.
Tentu saja, sang penunggang kuda segera melompat naik ke atas kudanya & secepat mungkin pergi melakukannya.
Dia terus memacu & memacu, mencambuk kudanya.
Ketika ia merasa lapar atau lelah, dia tidak berhenti karena dia sangat ingin memperoleh wilayah sebanyak mungkin.
Pada akhirnya, saat ia telah menjangkau wilayah yang cukup besar, ia kelelahan & sekarat.
Sang penunggang kuda lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diriku begitu keras untuk menjangkau begitu banyak?
Sekarang aku sekarat & aku hanya memerlukan sebidang tanah yang sangat kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”
Kisah di atas sama dengan perjalanan hidup kita.
Tiap hari kita memaksa diri dengann keras untuk mengumpulkan uang, kekuasaan atau ketenaran juga harga diri. Kita mengabaikan kesehatan, waktu bersama keluarga, sahabat, lingkungan sekitar & hobi yang kita sukai.
Saat kita melihat ke belakang, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak membutuhkan sebanyak itu, namun kita tak bisa mengembalikan waktu yang terlewatkan.
Hidup ini bukan hanya bekerja menghasilkan uang, mendapatkan kekuasaan atau ketenaran juga menjaga harga diri. Hidup adalah keseimbangan antara bekerja & bermain, berkumpul bersama keluarga, sahabat & waktu pribadi ...
“Hiduplah diduniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan persiapkan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok”
| Bagikan | Tweet |
|
--- 2 Komentar ---