|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Mahatma Ghandi tidak menuntut sebuah negara dan juga kemerdekaan dari dictator Inggris yang meringkuk di dada India pada era pertengahan abad kedua puluh, abad imperium dimana matahari tidak pernah sirna darinya.
Spirit agungnya adalah melawan dengan kesederhanaan dan puasa bahkan puasa bicara, akan tetapi cerita perjuangannya tetaplah putih bersih seperti warna garam dan warna sarungnya yang tipis yang melekat pada badannya yang kurus
Ia tidak pergi ke lembaga bangsa-bangsa, perampok bangsa-bangsa atau ke dewan keamanan. Ia hanya berangkat menuju kebiasaannya makan makanan nabati dan kesenangannya pada para fakir msikin, orang-orang yang tersingkirkan dan terdzalimi hingga mahkota Inggris itu tergerogoti oleh budaya perlawanannya. Budaya etika yang pertama dan terakhir, bahkan kebudayaan Ghandi terus beranjak menjadi tulang punggung filsafat kalau boleh kita katakan, bisa jadi ia merupakan kebudayaan yang diambil dari latar belakang pendidikan dan keluarganya, ia adalah orang yang meninggalkan modal yang didapati dari keluarga besarnya atau bahkan jatuh dari bagan keluarganya.
Ia tidak pernah melakukan tindakan criminal, pembunuhan atau penipuan.
Karena India melarang tindakan tersebut, nurani, hati dan akhlaknya menjadi penghalang setiap penghancuran atau setiap kejatuhan yang membuatnya terjerembab.
Ia tidak pernah mundur langkah, tidak pernah tidur di hotel bintang lima, karena bintang satu-satunya adalah kemerdekaan.
Kekuasaan baginya adalah kekuasaan kebudayaan yang ia imani hingga mati, dan memang benar, bahwa Ghandi mati dan ia menjadi pahlawan, ikon dan symbol.
Jalan kemerdekaan yang ia tempuh tidaklah dipenuhi oleh tanda jasa dan karpet merah. Ia sering dipenjara lalu keluar untuk lebih kuat, lebih percaya diri dengan perkaranya dan lebih yakin dengan keadilan perbuatannya.
Perkaranya tidak membuatnya ia menjadi pemimpin kecuali pada batasan keimanan dan kepercayaan dengan apa yang ia lakukan, kepercayaan ini yang diberikan kepadanya oleh para fakir miskin, orang-orang yang terbuang dan terpinggirkan, merekalah yang berjuang untuk mereka, dan mereka terus berjuang "Tanpa kekerasan" hingga tahta itu meleleh.
Mungkinkah menganggap Mahatma Ghandi sebagai contoh, tauladan atau kemurnian keimanan dan kemanusiaan yang merdeka dan setiap orang yang berlari dibelakangnya akan mengambil manfaat ?
Para pemilik sifat kesederhanaanlah yang mengerti jawabannya.
Mungkin Hatta, Natsir atau para pemuda.
Selamat bersumpah wahai pemuda, bersumpah untuk berjuang dengan kesederhanaan.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---