|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Apakah hari-hari haji merupakan masa-masa yang paling susah, sedih, payah, sabar, marah yang dialami manusia hingga ia dapat bernafas merdeka saat kembali ke negaranya ?
Apakah ia sebenarnya seperti dikisahkan dalam kitab-kitab terdahulu, ia merupakan hembusan rohani yang membuat ruh seakan berenang dalam tasbih dan menikmati kedekatannya dengan Allah, sehingga ia tidak merasakan kepadatan, dan tidak peduli dengan tuntutan raga dari makan minum dan tidur, hati menangis saat musim haji segera berakhir, ruh selalu merindukan keabadiannya, seorang yang berhaji tidak mau mengulangi kesalahan dalam hidupnya kembali setelah melaksanakan haji, dan ia terus berlanjut dalam dunia ruhaniah, bahkan setiap kali terbangun dari tidurnya ia selalu menyangka bahwa ia masih tetap disana hingga tersadar bahwa ia benar-benar telah berada di negerinya.
Jawabannya adalah kedua macam haji ini ada dan benar-benar ada, dua maqam ini memang sangat berbeda, dan semuanya tergantung bagaimana seorang yang berhaji mengimani arti haji dan sebesar apakah pengaruh haji terhadap kehidupannya setelah ia kembali ke negerinya masing-masing.
Lalu kenapa maqam manusia berbeda-beda ?
Karena kebanyakan manusia sibuk dan disibukkan oleh orang-orang dan keadaan yang ada disekitarnya dan sedikit sekali yang sibuk dengan hakikat dan tujuannya, sebagian mereka melihat bahwa haji hanya sekedar perjalanan, pelayanan, ongkos, di hotel mana ia tidur, makanan apa yang disajikan, dan pelayanan apa yang diberikan oleh pihak-pihak berwajib disana, mereka adalah para jamaah haji yang datang ke Makkah dengan jasad mereka, dan mereka tidak mampu meninggalkan tuntutan nafsu mereka mulai dari nafsu merokok, ghibah, adu domba bahkan nafsu untuk melihat hp mereka, dan kebiasaan seperti diatas tidak berubah walaupun mereka sedang berpakaian ihram di arafah dan masy'aril haram lainnya, bahkan niatnya untuk kembali melakukan riba dan memutus silaturrahim dan seterusnya selalu datang menghantuinya, subhanallah terkadang sifat-sifat yang diperangi oleh Islam ada pada diri mereka seperti : sombong, takabbur terhadap manusia dan memandang manusia dengan sebelah mata karena ia berasal dari negeri tertentu, padahal Nabi SAW pernah berdiri berkhutbah di Mina dan sabdanya : "Wahai manusia ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu, ketahuilah tidak ada keutamaan Arab atas bangsa lainnya dan tidak bangsa lainnya terhadap Arab, tidak pula warna merah atas hitam dan tidak warna hitam atas merah kecuali dengan ketakwaan"
Kebiasaan-kebiasan ini yang membedakan orang yang berhaji dengan lainnya, karena setiap bangsa dan keluarga mempunyai ciri-ciri tertentu, lalu kenapa kita mencaci seorang muslim karena ia berasal dari negara tertentu ? ajaib memang, siapa itu Bilal Al Habsy, Shuhaib Ar Rumi dan Salman Al Farisi ? dan banyak lainnya yang dipersatukan oleh Islam dalam satu kepribadian. Golongan haji pertama tadi, manasik hajinya tidak membekas dan hanya ungkapan-ungkapan yang cepat berlalu.
Sedangkan golongan haji kedua, yaitu haji yang mendapatkan taufiq, yang mereka ingat hanya kedua haramain, mereka menerima ruhaniah haji dengan ruh mereka, mereka adalah orang-orang yang menyaksikan diterimanya haji mereka dengan hati sebelum menyaksikan dengan mata, mereka sabar dalam menghadapi perlakuan golongan haji pertama selama mereka menjalankan manasik haji, mereka benar-benar memperhatikan nasehat pembimbing mereka, mereka menyiapkan diri mereka dengan informasi dan pengetahuan dari lembaga yang dipersiapkan oleh negara mereka, mereka menggunakan kesempatan mereka selama berada di haramain dan mereka sangat senang menuntut ilmu disana, jamaah haji yang selalu berusaha menggunakan waktu sebaik-baiknya, haji mereka diterima dan wajah-wajah mereka bersinar dengan keridhaan sehingga mereka berhak menerima derajat "Orang-orang yang diterima doanya", sehingga Allah mempersaksikan hati mereka dengan sabda Rasul-Nya : "Para hujjaj dan orang-orang yang melakukan umrah adalah utusan Allah, bila mereka berdoa kepada-Nya akan diterima dan bila mereka meminta ampunan kepada-Nya maka mereka diampuni". Dan apakah derajat seperti ini dapat diterima tanpa perjuangan jiwa ?
Semoga Allah menerima ketaatan kalian, haji mabrur insya Allah.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---