|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Oleh Fauziah Humaira
Jika iman bak emas permata maka akhlak adalah bunga diri, indah dilihat oleh mata, senang dirasa oleh hati dan setiap orang akan jatuh hati. Subnanallah, rindu nian hati ini bertemu dengan Engkau wahai pujangga yang berakhlak mulia. Engkaulah cahaya diatas cahaya takkan pudar sepanjang masa. Hati yang suci lagi mulia pribadi agung dan tak ternoda, akhlak yang sangat indah. Ekspresi cinta yang sangat indah kepada ummat, ummati ummati takkan berbalas apa lagi terbalas sungguh tak terhitung dan tak ada kata yang paling indah yang bisa diungkapkan. Jika perasaan itu sangat dalam maka dalam perasaanpun takkan sanggup menandingi betapa dalam cintanya, tak ada hati yang tidak dapat ditaklukkan. Jika lamunan itu begitu tinggi dan bintang yang bertebaran diangkasa sangat indah maka tinggi lamunan dan indahnya beribu cahaya bintangpun tak bernilai.
Akhlak adalah spontanitas, tidak bisa dibuat-buat tapi terjadi apa adanya. Tergantung pribadi masing-masing (individualitas), jika pribadi baik maka akan lahir akhlak baik sebaliknya jika pribadi tidak baik maka akhlaknya pun akan ikut terbawa. Tutur kata mencerminkan akhlak seseorang;
Lisan tak bertuan (maidany)
Kata yang telah terucap tak akan dapat kembali
Bila telah sakit dihati tiada mudah tuk terobati
Kepada Allah keampuan akan selalu diraih
Pada manusia kemaafan terasa sulit di beri
Ingin jujur berkata dalam tiap bicara namun yang ada terkadang hanyalah dusta
Ingin lisan selalu berhiaskan hikmah namun yang ada terkadang hanya ghibah
Sungguh tiada mudah untuk merangkai kata yang dapat mendamaikan setiap rasa
Mari kita tersenyum di dalam diam bila tertawa dapat menghinakan
Mari kita tertawa didalam senyuman bila tertawa dapat menberikan kedamain
. Wahai sahabat hati-hatilah dalam berbicara karena tutur kata itu lebih tajam dari apapun. Jika dikatakan setajam pedang yang menyayat kulit kemudian meninggalkan bekas, kita masih bisa melihat bekas itu. Tapi sahib ingatlah, tutur kata yangmenyayat hati tak terlihat oleh mata, maka hati-hatilah. Kata yang telah dikeluarkan tak bisa ditarik kembali, seperti air liur yang telah diludahkan, apa ada yang mahu menelannya lagi? Sungguh sangat menjijikkan.
Tak ada musuh yang tak dapat dikalahkan oleh cinta dan cinta itu juga akan timbul karena kekuatan tutur kata. Tak ada penyakit yang tak dapat sembukan dengan kasih sayang, tutur kata yang lembut merupakan lambang kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan, seperti para musuh yang menentang rasulullah tapi hanya sebatas jasad karena hati mereka telah terlebih dahulu ditaklukkan oleh Rasul mulia.
Akhlak mulia adalah cerminan seorang muslim, buah dari ibadah dan lambang kualitas manusia baik pribadi, masyarakat ataupun ummat. Mari belajar memperbaiki diri, kalau bukan sekarang kapan lagi? ^_^
(fauziah humaira - Rumah tanpa atap)
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---