|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |



Oleh Fauziah Humaira
Saya bukan analis tapi semua orang bisa jadi analis. Kedengarannya sangat serius kalau berbicara masalah analis karena analis itu butuh keahlian yang sanga teliti. Keep it simple, saya hanya mau membahas bagaimana menganalisisa perkataan saja. Hal yang paling sulit dilakukan yaitu memahami karena sebagian besar kita selalu menuntut untuk dipahami. Saya bukan seorang pembaca pikiran tapi hanya sedang berlatih suatu teknik yaitu “analisis isi”.
Kita sering mengabaikan hal-hal kecil seperti isyara-isyarat verbal. Penelusuran yang sistematis tentang isyarat verbal akan menyikapi sikap, keinginan dan pola perilaku yang lebih luas. “Bahasa menyingkap rahasia pribadi kita. Tidak ada cermin yang menunjukkan gambaran seseorang setepat ucapannya.” (Ben Johnson).
Ada beberapa trik untuk mengetahui makna terselubung dari percakapan biasa. Pertama, kata atau kumpulan kata yang sering muncul saat percakapan merupakan refleksi dari apa yang dipikirkan oleh si pembicara. Kata yang berulang-ulang ini merupakan salah satu isyarat paling meyakinkan tentang siapa atau apa yang ada dalam benak seseorang. Kedua, topik pembicaraan. Seseorang akan berbicara tentang apa yang telah dialaminya (pengalaman hidup). Ketiga, tata bahasa yang digunakan. Jika seseorang sering bercerita tentang masa lalunya, menunjukkan konsentrasinya untuk masa lalu lebih besar dari masa akan datang maka jelaslah lawan bicara kita lagi depresi. Terakhir, kata-kata yang kita anggap remeh “hmm,,, ehh,,, ahh,,, ”ketika sedang berbicara menunjukkan ada suatu permasalahan yang dihadapi.
Sekarang saatnya memahami, bukan hanya menuntut untuk dipahami. Hal ini tentunya tidak akan pernah menggantikan akal sehat atau nalar. Belajar untuk memahami agar bisa dipahami…
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---