|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://samuderaislam.blogspot.com |





Jum'at, 11 Oktober 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Mengapa guru dan dosen harus menulis? Sebab, mereka termasuk kalangan profesional. Sebagai seorang profesional, mereka dituntut untuk mampu memberikan pengabdian secara utuh. Maksudnya, segenap kemampuan dalam mentransfer berbagai informasi yang berwujud pengetahuan.
Menurut Zainal Aqib (2013 : 25), proses menginduksi berbagai ilmu pengetahuan untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan adalah kegiatan bermanfaat yang sangat diharapkan. Hanya melalui pengalaman itu, akan dihasilkan temuan-temuan yang dekat dengan dunianya.
Yang perlu digarisbawahi, pada hakikatnya menulis -baik artikel ilmiah populer, jurnal, catatan harian, maupun buku- adalah kekayaan mental intelektual dan akal budi manusia. Karena itu, adanya kewajiban membuat karya tulis bagi guru dan dosen merupakan hal yang amat wajar, perlu, penting, dan urgen.
Sebagaimana dikutip dari buku Pedoman dan Aplikasi Karya Tulis Ilmiah (Yrama Widya, 2013), setidaknya ada lima manfaat di antara sederet faedah lain dari kegiatan menulis bagi guru dan dosen. Terutama menulis buku. Pertama, Anda mendapatkan kepuasan jiwa karena sudah menuangkan gagasan kreatif. Kepuasan menulis identik dengan seorang penulis yang telah merampungkan karya besarnya.
Kedua, Anda memperoleh nama baik dan dikenal luas oleh publik. Dengan munculnya nama Anda berulang-ulang, baik di media massa maupun dunia perbukuan, Anda akan diingat seumur hidup.
Ketiga, menulis (artikel ilmiah populer dan buku) akan mendukung dan memperkuat citra profesi Anda. Keempat, tajamnya tulisan Anda dapat menggetarkan dinding-dinding kekuasaan yang angkuh dan merobohkan tembok keangkuhan. Terakhir, jika kita kembali ke pangkuan Ilahi, tulisan kita akan tetap hidup. Api semangat yang kita kobarkan tetap tertanam di lubuk hati pembaca.
Mungkin kita perlu merenungi kembali buah pikir terkenal dari Rene Descartes. Kalimat itu berbunyi: Cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Apabila ditelisik kembali, sesungguhnya ada pesan besar yang bisa dijadikan alasan pentingnya menulis, terutama bagi guru dan dosen. Yakni, dengan menulis buku, seorang guru atau dosen menjadi ada dan menyejarah.
http://samuderaislam.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.