|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
|
http://samuderaislam.blogspot.com |





Selasa, 20 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Sore nanti di perumahan tempat tinggal kami diadakan berbagai lomba. Tujuannya jelas, yakni memperingati HUT kemerdekaan RI. Lomba ini diperuntukkan bagi anak-anak dan orang tua.
Saya berniat ikut lomba dewasa seperti balap karung, makan kerupuk, dan lari dengan membawa balon di antara betis. Tentu di tempat Anda mungkin ada lomba serupa. Ya, rasanya dari tahun ke tahun lomba balap karung dan makan kerupuk seolah sudah jadi ikon 17 Agustusan di kampung-kampung, gang sempit, hingga lapangan perkotaan.
Saya berpikir, mengapa harus selalu ada lomba makan kerupuk? Kenapa nggak makan nasi krengsengan plus kerupuk rambak dan es teh manis? Kenapa tidak makan burger atau kebab dari jenis pocket bread dengan isi ikan tuna atau.daging sapi asap?
Bisa jadi, kerupuk dipilih karena merupakan makanan yang identik dengan masyarakat Indonesia. Mulai bakul tahu, tukang ojek, loper koran, ibu rumah tangga, PNS, dosen, hingga presiden pasti pernah menikmati kerupuk. Ia tidak sekadar makanan ringan, tapi juga murah meriah dan banyak variasinya. Misalnya, kerupuk bawang, kerupuk puli, kerupuk rambak, kerupuk samiler dari singkong, kerupuk udang, kerupuk upil (digoreng tanpa minyak), dan banyak lainnya.
Di sisi lain, kerupuk bukan hanya pemanis menu. Lebih dari itu, ia pelengkap. Tak sedap rasanya menikmati nasi rawon tanpa kerupuk. Kurang ajojing rasanya menyantap nasi gandul tanpa kerupuk.
Oke, sekarang kita back to topic: balap karung. Tahukah Anda bahwa karung ini memiliki filosofi dan sangat terkait dengan sejarah bangsa ini?
Ketika masa pendudukan Jepang pada kurun 1942-1945 di republik ini, banyak rakyat yang tertindas. Proyek romusha diperbanyak untuk membangun objek vital bagi kepentingan serdadu Nippon. Banyak romusha (pekerja paksa) yang tewas karena sikap kejam Jepang.
Ada yang mati kelaparan dan ada pula yang meninggal karena kedinginan. Dewasa itu sulit cari pakaian layak. Rakyat jelata pun memanfaatkan karung sebagai pakaian untuk mengusir hawa dingin di malam hari.
Kekejaman Jepang ini memantik emosi tentara Peta. Dimulai di Blitar, Supriyadi memimpin para tentara didikan Nippon itu untuk memberontak. Sayangnya, pemberontakan Peta ini dapat diredam dengan cepat oleh Jepang. Namun, semangat Supriyadi dan kawan-kawan telah memberikan insipirasi tentang arti sebuah perlawanan terhadap penindasan.
Karung bagi masyarakat Indonesia juga memiliki arti penting. Ia dipakai untuk menyimpan beras, makanan pokok rakyat Indonesia. Karung goni dulu juga dipakai untuk menyembunyikan senjata-senjata rampasan dari Jepang.
Nah, nilai kelekatan inilah yang kemudian menginspirasi adanya lomba balap karung. Namun, yang digunakan adalah karung goni yang lebih tebal dan besar. Bisa dipakai oleh anak, remaja, maupun orang dewasa.
Lomba balap karung dinilai memiliki kedekatan khusus dengan rakyat Indonesia. Ada semangat perjuangan di sana, yakni upaya menggapai garis finis dengan gigih.
Balap karung tidaklah mudah. Seseorang harus memiliki keseimbangan yang baik, juga ketenangan. Keseimbangan ini penting tatkala peserta lomba tersebut memacu kecepatan. Posisi kedua tangan di ujung karung serta posisi tubuh juga menentukan keluwesan gerak dan speed.
Keterbatasan gerak kaki ini melambangkan perjuangan meraih sebuah kebebasan. Kemerdekaan. Harga yang mesti dibayar adalah peluang jatuh bangun. Di sinilah menurut saya letak filosofi lomba balap karung.
http://samuderaislam.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.