Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://nadia_aslima.kotasantri.com
Bergabung
4 Mei 2009 pukul 00:01 WIB
Domisili
Padang - Sumatera Barat
Pekerjaan
pendidik dan pengajar
Nama aslinya Widia Febriyeni. Seorang muslimah yang menyukai dunia kata dan ingin menekuninya. Saat ini aktif mengikuti penulisan buku antologi di FB. Tumbuhkan hikmah dengan menulis, petiklah hikmah dengan membaca!
http://nadiaaslima.wordpress.com
nadiaaslima@yahoo.co.id
http://facebook.com/widia.aslima
Tulisan Widia Lainnya
Katanya Kau Cinta?
2 November 2012 pukul 16:00 WIB
Cendol Air Mata Pengantin
28 Oktober 2012 pukul 13:30 WIB
Musuh yang Jadi Idola (1)
27 Oktober 2012 pukul 13:00 WIB
Demi Wajah-Wajah Lucu
22 Oktober 2012 pukul 14:00 WIB
Menanti Rahasia-Mu
21 Oktober 2012 pukul 14:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 2 November 2012 pukul 20:00 WIB

Bahagia karena Menulis atau Sebaliknya?

Penulis : Widia Aslima

Sedih dan senang adalah dua sisi kehidupan yang akan selalu dijalani manusia. Pada diari-diari mungkin lebih sering kita dapati curhatan yang berbau kesedihan dan harapan dibanding kegembiraan. Itulah yang saya alami, terlebih di awal permulaan menulis diari sewaktu remaja. Sekarang apa yang dipikirkan, dirasakan, dialami, dan diamati, semuanya ingin dituliskan.

Menurut Wikipedia, menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Tidak terbayang bagi saya repotnya menulis dengan menggunakan gambar tersebut. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.

Banyak manfaat yang dirasakan dari menulis, khususnya manfaat batiniah. Bagi penulis, dengan menulis ia bisa menyampaikan uneg-unegnya. Adakalanya bahasa lisan tidak bisa menyampaikan apa yang kita maksudkan secara gamblang. Oleh karena itu, menuliskan apa yang kita rasakan dan pikirkan membuat hati jadi lega dan nyaman, walaupun tulisan itu mungkin hanya kita yang membaca. Tulisan seperti sebuah sejarah, menyimpan berjuta kisah dan hikmah. Bagi pembaca, dari sebuah tulisan dia bisa bercermin, instrospeksi, mendapatkan pencerahan, bahkan informasi dan ilmu baru. Jadi dengan menulis, kita juga bisa berbagi. Moto saya dalam menulis adalah “Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca.”

Dalam membuat sebuah tulisan dibutuhkan waktu untuk mengembangkan ide atau gagasan pokok yang telah kita dapatkan. Bagi saya, penulis pemula butuh waktu dan suasana yang mendukung untuk merangkai kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf supaya satu sama lain saling berhubungan, runtut, indah, dan bisa dipahami isinya. Oleh karena itulah, walaupun sudah punya ide, tetap sulit menuangkannya menjadi tulisan karena kesibukan dan kepenatan pekerjaan, padahal ingin sekali menulis. Tulisan tertunda bahkan ide itu akhirnya menguap. Beberapa tulisan lamapun kalau dibaca lagi ada saja yang akan diedit dan itu butuh waktu juga. Akan tetapi akhir-akhir ini, agar ide yang didapat tidak menguap, saya berusaha menuliskan dalam beberapa kalimat singkat di hape.

Ada juga hal yang sedikit menjengkelkan, yaitu ide tiba-tiba muncul ketika sudah berada di tempat tidur di saat mata sudah mengantuk. Ya, solusinya itulah tadi, saya sempatkan mencatat di hape. Jikalau tidak, hati tidak tenang. Ternyata, menulis itu memang mengasyikkan. Kita mendapatkan kepuasan tersendiri. Selesai satu tulisan, rasanya ingin lagi menulis yang berikutnya.

Aku bahagia karena menulis, bukan menulis karena bahagia.

http://nadiaaslima.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Widia Aslima sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurudin | Swasta
Sekilas KSC memiliki apa yang dimiliki facebook yang membuat banyak orang 'kecanduan'. Tapi bila dicermati, facebook tidak memiliki apa yang dimiliki KSC. Maaf facebook, tak lama lagi aku akan meninggalkanmu, aku mendapatkan apa yang tak aku dapatkan darimu.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0993 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels