|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 2 Agustus 2012 pukul 15:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Saya dilahirkan tahun 1941 sebagai anak pertama dari empat bersaudara di Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kota Sumenep, Madura. Sebagai WNI keturunan, saya dan orangtua menganut agama Budha. Meski warga Madura terkenal sebagai masyarakat yang memiliki tradisi keislaman yang cukup kental, namun kami sama sekali tidak terganggu karenanya, karena Islam sangat memahami dan menghormati perbedaan.
Saat saya berusia 17 tahun, tepatnya lahir tahun 1958, kami pindah ke Bangkalan, yaitu di desa Petra, Kecamatan Tanah Merah. Kepindahan kami ke sini sebenarnya hanya untuk mencari penghidupan. Namun, akhirnya ada hal lain yang saya dapat yang justru tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Di sini saya banyak bergaul dan berdiskusi dengan teman-teman muslim. Di antaranya adalah Muh. Badrun. Dialah yang banyak berjasa dalam menanamkan benih-benih keislaman pada saya. Bahkan, saatitu nama saya diubah menjadi Hanafi. Sebuah nama yang bernuansa Islam, padahal saat itu dan jauh sesudahnya, saya masih belum ada niat untuk pindah agama. Saya sendiri senang dengan nama itu lantaran mengindonesia.
Apa yang saya tangkap dari Islam sebenarnya masih merupakan keyakinan yang mengambang. Hati saya masih bimbang dan suka membanding-bandingkan Islam dengan agama lain. Dalam perkembangan selanjutnya, benih keyakinan saya pada Islam mengalami kerusakan. Bahkan pada tahun 1964, saya pindah ke agama Katolik. Saat itu, saya tinggal di Surabaya, ikut Bude yang juga beragama Katolik.
Temyata, baik Budha maupun Katolik tak memberi kepuasan dalam batin saya. Benih-benih keyakinan kepada Islam tumbuh kembali, namun tak segera menemukan tempat untuk berkembang. Di awal tahun 1967, orang tua saya pindah ke jember untuk membuka usaha baru. Saya pun ikut bersama mereka. Sejak saat itu sampai sekarang saya menetap di kota Suwar-Suwir ini, tepatnya di Kampung Sawahan, Kel. Kepatihan, Kec. Kaliwetan. Di situ lingkungannya cukup religius. Saya merasa sangat cocok hidup dalam lingkungan semacam itu.
Masuk Islam dan dikucilkan
Akhirnya, pada pengujung tahun itu juga (1967) secara resmi saya masuk Islam. Adalah Ustadz Salmi dan H. Abdul Hamid yang membimbing saya dalam proses pengislaman itu. Tapi sebelum dibaiat, saya tanpa ragu menjalani khitan. Tak ada rasa malu ataupun takut yang menghantui. Sebab, saya sadar bahwa itu adalah sebagian dari perintah Allah.
Setelah masuk Islam, saya mengalami cobaan yang cukup berat. Hidup saya dikucilkan dan diboikot dari keluarga dan sanak kerabat. Sampai saya menikah pun (1969) aksi boikot itu masih tetap saya rasakan. Saya seakan menjadi anak haram di mata mereka. Cuma Ibu yang bisa mengerti posisi saya. Diam-diam beliau mengasihi saya sama seperti dulu. Istri saya, Siti Hanafiah, juga selalu setia mendampingi saya.
Saya benar-benar merasa tersiksa akibat boikot itu. Bayangkan, saya sudah punya tanggung jawab yang tak ringan untuk
menghidupi keluarga, namun saya belum slap untuk mandiri. Sementara, sanak kerabat saya tak ada yang peduli dengan nasib saya. Cukup lama hidup saya terombang-ambing dalam ketidakpastian. Namun, saya tetap yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan datang.
Untuk menyambung hidup, saya mencoba berjualan dengan memakai gerobak dorong--cikal bakal "Depot Hanafi" (1978), Berkeliling menelusuri kota dan baru kembali setelah jualan habis adalah pekerjaan saya setiap hari. Saat itu, saya besar-benar bekerja memeras keringat, banting tulang. Lambat laun usaha saya berkembang. Hingga empat tahun kemudian berdirilah "Depot Hanafi" yang terletak di timur alun-alun kota Jember. Alhamdulillah, sampai kini depot itu masih bisa bertahan.
Rahmat Allah terns mengiringi hidup saya. Ekonomi saya kini sudah lebih dari cukup. Keempat orang anak kami senantiasa saya didik dan dorong untuk menjadi muslim yang baik Saya memang menaruh perhatian yang cukup besar pada mereka. Sebab, merekalah pewaris cita-cita dan keimanan saya.
Sebuah cita-cita yang memang telah lama saya rindukan, akhirnya terkabul juga. Tahun 1988, saya dan istri menunaikan rukun Islam yang kelima, pergi haji ke Baitullah. Momentum itu saya pergunakan dengan sebaik baiknya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Saya benar-benar merasa telah menjadi hamba--Nya. Saya bersama istri ditakdirkan untuk mencium Hajar Aswad. Sungguh, ini merupakan karunia Allah yang patut saya syukuri.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.