Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 19 Juli 2012 pukul 16:00 WIB

Jeni Suhardani : Suara Takbir Memberikan Ketenangan Jiwa

Penulis : Indra Widjaja

Nama baptis saya, Maria Magdalena Jeni Suhardani, berasal dari keluarga Kristen Katolik yang kental. Saya lahir di Malang, 28 Juli 1964. Ayah dan ibu saya pengurus gereja yang cukup disegani di daerah itu. Maka, tak heran pendidikan agama merupakan prioritas utama bagi saya. Bayangkan, dari TK hingga SMA, selalu di lembaga pendidikan Katolik, sehingga pengetahuan dan keyakinan saya mengenai agama Katolik, tidak diragukan lagi.

Doktrin-doktrin ajaran Bibel yang saya pelajari sejak saya bisa membaca itu, membuat saya berpikir untuk meneruskan perjuangan Yesus Sang Juru Selamat. Tak ada waktu lagi untuk berteman, pacaran, bahkan saya tak pernah berpikir untuk berumah tangga. Selepas SLTA, saya memutuskan untuk menjadi biarawati.

Selama dua tahun itulah saya menekuni profesi menjadi "pelayan" Tuhan. Saya juga bertekad untuk mengabdi kepada Tuhan Sebab, kata suster pada waktu itu, saya adalah orang yang berjiwa religius, suka hidup sunyi, dan tidak terbius oleh gemerlap duniawi.

Profesi biarawati membuat saya lebih mantap menjadi seorang Kristen, sehingga waktu itu, saya kurang hormat dan bahkan sangat benci kepada agama lain, terutama Islam. Bagi saya, kegiatan keislaman, khususnya di sekitar tempat saya tinggal, sangat mengganggu. Bunyi azan, shalawatan yang dilantunkan dengan memakai pengeras suara dari masjid, membuat bising dan gaduh, sehingga sangat mengganggu. Apalagi ketika mereka shalat, saya selalu bertanya, "Buat apa orang susah-susah sujud, nungging, dan lain lain?" Bagi saya, waktu itu, ini sangat lucu dan tak masuk akal.

Tetapi, sesuatu itu memang bisa berubah, itulah sebuah misteri kehidupan dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya yang sudah mantap menjadi biarawati, tak sengaja berkenalan dengan seorang pemuda muslim yang bertempat tinggal di sekitar asrama saya. Tanpa saya sadari, saya menaruh hati padanya.

Kebekuan hati dan kerelaan untuk "melayani" Tuhan Yesus pun, pupus sudah. Memang berat untuk meninggalkannya. Tetapi keinginan dan kebahagiaan bersama pemuda itu mengalahkan semuanya. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk menikah dengannya.

Walau demikian, saya tidak meninggalkan agama kecil saya seratus persen. Bahkan, akad nikah itu kami laksanakan di gereja. Memang, keluarga suami saya tak pernah mempersoalkan masalah agama. Buktinya, di keluarganya ada yang Islam, ada juga yang Kristen.

Setelah menikah saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, dan kami mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan ini. Saya hidup bahagia bersama suami dan dikaruniai dua anak. Kegiatan keagamaan saya tetap seperti biasa, pergi ke gereja dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Kedua anakku itu ikut dengan saya, beragama Kristen Katolik.

Tetapi, selama 16 tahun saya melakukan kegiatan keagamaan, tak membuat saya bahagia. Tak ada rasa kebahagiaan di sana. Apalagi menyambut hari Natal, bagiku bukan hal istimewa. Semuanya biasa saja. Tetapi anehnya, pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam takbiran, saya merasakan keharuan dan kebahagiaan yang mendalam. Bahkan, saya merinding mendengar asma Allah itu. Ada getaran tersendiri di hati. Tanpa sadar, saya mengeluarkan air mata. Padahal setiap tahun nadanya sama saja. Hal ini juga saya rasakan ketika saya menyimak renungan Ramadhan di televisi, saya sangat menikmati dan memberikan ketenangan batin.

Akhirnya, saya mencoba untuk mendekati majelis taklim ibu-ibu setiap malam Jumat yang ada di dekat rumah saya di Bojong Gede, Jawa Barat. Kedatangan saya di sana membuat kaget ibu-ibu tersebut, karena mereka memang mengetahui saya penganut Kristen.

Saya katakan bahwa saya ingin memeluk agama Islam. Spontan, ibu-ibu pengajian itu menyambut saya dengan rasa haru. Bahkan ada yang menangis. Inilah kebahagiaan yang tak pernah saya rasakan Dua hari setelah mengikuti pengajian, kemudian saya masuk Islam dibimbing oleh ustadz setempat.

Seminggu berselang, kami juga melangsungkan perniikahan (ulang) secara Islam. Dan kini, saya mengubah nama menjadi Nur Azizah. Suami saya sangat bangga atas sikap saya yang memilih Islam. Bahkan ia yang tadinya kurang tekun menjalankan ibadah, terutama shalat, sejak saya masuk Islam, ia jadi sangat rajin.

Kini, kami hidup bahagia bersama keluarga. Alhamdulillah, anak-anak kami sudah diislamkan dan Hidup kami saya rasakan lebih bermakna dan lebih berkah. Untuk menambah pengetahuan agama Islam, saya selalu menyempatkan din menkmuti pengajian-pengajian yang ada di lingkungan tempat saya tinggal. Mudah-rnudahan, berkat doa kaum muslimin, kehidupan keluarga kami selalu diberkati Allah SWT, amin.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aini Mardiyah | Mahasiswa
Di sini tempat untuk kamu-kamu yang ingin memanaj qalbu, artikel-artikel di web ini Insya Allah bermanfaat. Hehehe... Ada tulisan ane juga low!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1712 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels