|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 21 Juni 2012 pukul 15:30 WIB
Penulis : Indra Widjaja
BREDLY NGONGOLAY adalah nama asli saya sebelum memeluk Islam. Bredly adalah nama kesayangan di keluarga saya, yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Saya dilahirkan di kota Mobagu, Manado, 28 April 1961. Sedangkan istri saya, Lenda Polii, dilahirkan di kota Mogoyunggung, 18 Februari 1968.
Sewaktu masih menganut agama Kristen Katolik, saya memang rajin beribadah ke gereja. Bahkan, saya senang sekali mendengarkan ceramah-ceramah dari pendeta. Saya semakin yakin, karena Tuhan Mahakasih dan Mahasayang. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di benak saya. Ketika itu anak saya yang pertama sakit dan akhirnya meninggal. Namun aneh, dalam keadaan tertekan, karena duka cita yang dalam, batin saya bertanya mengapa justru orang-orang muslim yang mau peduli dan memperhatikan kesedihan saya itu?
Dari pengurusan jenazah sampai penguburan, semuanya diurus oleh orang Islam. Sebenarnya saya sudah lama melirik agama Islam, dan ingin memeluknya. Maka, di depan jenazah anak saya itu saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.
Memang, tampaknya umat Islam lebih sering melakukan ibadah dan berdo'a ketimbang umat Kristen. Dalam Islam, yang meninggal tidak boleh didandani, apalagi dengan pakaian mewah, perhiasan yang indah, dan mahal. Itu tidak boleh sama sekali. Apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Islam dengan menetapkan peraturan seperti itu? Hati saya penuh diliputi tanda tanya.
Saya mulai bersimpati, karena agama Islam begitu indah, rapi, dan bersih. Terutama apabila mau menghadap (ibadah) kepada Tuhan-Nya. Tata cara ibadahnya pun lebih sering dikerjakan. Bahkan, setiap waktu tanpa henti. Begitu juga mayat yang hendak dikubur, tidak boleh lama-lama dan harus segera diurus, dimandikan, lalu dikafani dengan kain putih yang bersih, setelah itu dishalatkan.
Benar, setelah saya pikir-pikir, Islam itu indah dan enak. Sesampai di kuburan untuk mengantar yang terakhir kali, umat Islam berdo'a bersama-sama. Sehingga, jika itu diresapi dalam hati, merinding bulu kuduk saya. Satu hal lagi yang menarik hati saya kepada agama Islam ialah, karena Islam mempunyai kitab suci yang tidak sama dengan kitab-kitab suci umat Kristen ataupun umat lainnya. Karena bacaannya begitu indah dan merdu bila didengarkan. Sejak turun ke bumi hingga sekarang, tetap tidak berubah. Tidak ada tangan-tangan manusia yang dapat mengubahnya, walaupun hanya satu ayat.
Maka, bacaan Al-Qur'an yang sangat indah itu dapat menggetarkan hati saya bila mendengarnya. Tentu saja, semuanya itu tidak lepas dari bantuan kawan-kawan dan teman-teman saya yang muslim. Sehingga, mereka dapat mengantarkan saya kepada petunjuk dan hidayah Allah SWT.
Sebaliknya, di agama saya, malah nyanyi-nyanyi, main kartu, meminum minuman keras, dan lain sebagainya. Ketika saya berkunjung dan berkonsultasi dengan tetangga muslim, H. Insan Syaukani, kepada beliau saya sering bertanya masalah ajaran Islam dan tata cara peribadatannya. Mulai saat itulah, saya sudah meninggalkan semua kebiasaan buruk, seperti minum minuman keras, mabuk-mabukan, hura-hura, dan lain-lain.
Singkat cerita, setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang, akhirnya saya mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan dibimbing oleh H. Insan Syaukani dan disaksikan umat Islam lainnya. Peristiwa amat bersejarah dalam hidup saya itu terjadi pada 6 Mei 1998. Lalu saya menambah nama saya menjadi Muhammad Bredly Ngongolay.
Selang sekian waktu, istri saya menyusul jejak saya mengucapkan dua kalimat syahadat, setelah sekian waktu belajar tata cara ibadah dan agama Islam. Maka tambah yakinlah saya kini setelah istri saya juga mau memeluk agama Islam pada 14 Mei 1998. Namanya saya tambahkan menjadi Khadijah Lenda Polii. Kini, keluarga kami benar-benar merasakan kebahagiaan. Ternyata, kematian anak kami membawa hikmah, kami menemukan kebenaran Islam.
Kini, saya bercita-cita untuk mendidik anak kami yang nomor dua, Brelen, yang saya beri nama Islam Abdul Rasyid Brelen (gabungan dari nama saya dan istri, Bredly dan Lenda). la kini sedang belajar di sebuah TK dekat rumah kami. Harapan kami, semoga kelak ia akan menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Untuk mengisi kegiatan, kami pun sekeluarga selalu mengaji pada Senin malam, Selasa malam, dan Sabtu malam. Selain itu, kami masih mendatangkan guru khusus untuk memberikan pelajaran tentang Islam. Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah, sebab atas hidayah dan taufik-Nya jualah yang mengabulkan do'a kami. Tak lupa terima kasih kepada ikhwan dan akhwat yang telah rela berkorban baik materiil maupun moral kepada kami.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.