|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 12 April 2012 pukul 18:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Sungguh, seringkali saya tak habis pikir, mengapa umat Islam bila telah masuk ke dalam masjid, sering "menyanyikan" lagu berbahasa Arab? Selain itu, mengapa mereka selalu membersihkan dirinya dipancuran jika akan masuk ke dalam masjid ? Bahkan, terkadang saya dibuat kesal oleh suara "panggilan" dari menara masjid pada dini hari, saat orang lain sedang terlelap tidur.
Tetapi, justru karena rasa ingin tahu itulah, yang mendorong saya secara sembunyi-sembunyi mengintai apa sebenarnya yang dilakukan umat Islam di pagi buta itu? Ternyata, sungguh mengagumkan. Pada saat orang lain masih asyik tidur, umat Islam justru tengah "gerak badan" di dalam masjid. Saya menyebutnya "olahraga pagi". Belakangan, saya baru tahu, itulah yang disebut shalat subuh.
Tapi dari hal-hal yang asing seperti itu, justru semakin mendorong hasrat saya untuk lebih mengenal Islam. Nama saya Memen Mulyadi, WNI keturunan Tionghoa yang lahir di derah Ciawi, Jawa Barat. Di lingkungan masyarakat Sunda yang religius itu, saya biasa dipanggil Memen.
Masa kecil saya di kota Ciawi itu adalah masa-masa yang penuh warna dan dinamika hidup yang cukup menarik untuk dikenang, sekaligus diambil hikmahnya dalam proses mengenal, mengkaji, memahami, dan untuk selanjutnya menjadikan Islam sebagai agama anutan yang hak, tanpa paksaan dari siapa pun. Tak terkecuali ayah bunda saya, yang memang menganut agama Konghucu yang cukup fanatik.
Saya adalah anak dari keluarga Cina yang kaya. Bila saya meminta sesuatu pada orang tua, mereka pasti mengabulkan permintaan saya. Maklumlah, saya ini anak yang paling disayang dan dimanja oleh mereka. Demikian pula di lingkungan teman-teman bermain. Saya merupakan "anak kesayangan" dari teman-teman main. Saya bisa mengatakan demikian, lantaran melihat fakta, betapa kehadiran saya selalu disambut gembira. Tak pernah sekali pun diantara kami bersitegang. Apalagi sampai berkelahi.
Kenakalan kami hanya terbatas pada kenakalan anak-anak kecil yang masih wajar. Tak pernah kami berperilaku yang meresahkan orang tua. Selebihnya, kelompok kami justru kelompok anak-anak yang kompak. Sambil bersenda-gurau, kami melakukan permainan berebut bola, sepak bola, main layang-layang, atau permainan anak-anak lainnya.
Singkat kata, persahabatan kami di masa kecil itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, meskipun saya tahu di antara semua teman main hanya saya yang suku Tionghoa dan menganut agama Konghucu. Sedangkan sisanya, mereka semuanya beragama Islam.
Tapi, kami saling pengertian dan toleran. Pergaulan kami pun semakin akrab, tak mengenal tempat dan waktu, tak terpisahkan, seiring-sejalan, senasib-sepenanggugan, baik dalam suka maupun duka. Tak ada yang mampu memisahkan kami, kecuali bila "suara aneh" itu telah tiba, dan memanggil-manggil mereka lewat pengeras suara dari atas masjid. Ketika itu barulah karni berpisah.
Teman-teman pun saya lihat berlarian sambil membawa sarung dan mengepit kitab. Sekarang saya baru tahu, kitab itu adalah Al-Qur'an. Mereka menuju pancuran di halaman masjid untuk membersihkan badan dan selanjutnya melakukan "olahraga gerak badan" disambung dengan "menyanyikan" lagu Arab.
"Men, kami bukan tengah menyayikan lagu Arab. Tapi kami tengah belajar mengaji, belajar membaca ayat suci AlQur'an, sambil memahami isi dan artinya," begitu tutur teman-teman bila saya tanya maksud dan tujuan "nyanyian" lagu Arab itu. "Dan kami melakukan sembahyang atau shalat, bila panggilan azan telah tiba. Bukan'olahraga gerak badan' seperti kata kamu itu," sambung teman yang lain. Saya akhimya mengerti bahwa yang disebut olahraga gerak badan itu adalah shalat yang wajib dilakukan umat Islam.
Sejak itulah, rasa jengkel bila mendengar azan di pagi hari, menjadi sirna. Diam-diam hasrat saya untuk mengikuti langkah teman-teman masuk ke masjid dan belajar tentang Islam, sekaligus melaksanakan shalat dan mengaji, semakin menggebu-gebu.
Namun, hal itu tidaklah mudah. Sebagai penganut Konghucu, saya mencoba membanding-bandingkan antara Islam dan agama yang saya anut selama ini. Saya pun diamdiam menggali berbagai ajaran agama lain. Namun aneh, hati saya semakin lama semakin tertarik kepada Islam.
Kesimpulan saya, Islam adalah agama yang agung dan luhur nilainya. Islam agama yang universal, agama yang menjadikan kedamaian hidup dan ketenangan hati. Islam adalah agama yang menyatukan manusia dalarn satu kehidupan yang tenteram dan damai, tanpa membedakan warna kulit, suku, keturunan, dan status sosial.
Akhirnya dengan penuh kesadaran hati, tanpa paksaan dari siapa pun, saga rengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di depan ulama dan para jamaah yang menjadi saksi upacara pengislaman saya. Setelah resmi menjadi muslim, nama saya disempumakan menjadi Muhammad Amien.
Saya pun begitu gembira dan terharu, sebab kepastian agama yang saya yakini sekarang ini, temyata mendapat dorongan (baca: pengertian) dari ayah bunda dan juga keluarga. Lengkap sudah kebahagiaan yang saya miliki.
Saya tak salah menganut Islam, agama yang menjabarkan kasih sayang sesama umat, mengajarkan kedamaian dan kebahagian dunia dan akhirat. Begitulah, saya jalani keyakinan saya terhadap Islam dengan penuh kesadaran dan kepasrahan serta keikhlasan yang penuh. Setiap hari saya menggali Islam, balk dari buku bacaan, ceramah para ulama, diskusi dengan para ahli, dan mondok di sebuah pesantren yang ada di daerah Sukasirna, Cangkudu, Singaparna, Tasikmalaya.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.