|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
kepak_camar |



Senin, 28 Januari 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Mega Everistiana Wati
anakku, yang kutahu ibu hapal rasa getir kehidupan
karena terlahir miskin hingga tak bisa menyusun kata-kata
untuk membela diri dalam kalimat canggih
untuk kenal ayat-ayat hukum
tapi paham perbedaan hitam putih
benar dan salah warna-warna dasar
menurut nurani tapi benar memang benar
di manapun nurani hari ini
selalu tersingkir seperti orang-orang miskin
kaum elite presiden menteri direktur jenderal
dan intelektual di menara di gedung-gedung
tak paham bahasa kromo sederhanaku
mereka punya bahasa sendiri
ibu buruh perempuan terlalu awam
kupaham lalu di satu negeripun
orang bicara berbagai bahasa
tak saling mengerti bahkan pura-pura tak mengerti
tapi lancar bicara ketika mereka berdebat memperjualkan manusia
hari ini maut
menantiku di tali gantungan
di jari uang berkuasa
makhluk asing terlalu asing bahasa hati
tapi dunia digenggam mereka mengancam manusia
di mata mereka manusia itu barang dagangan
yang kalah hanya pantas jadi budak
di mata mereka melawan sama dengan kejahatan melanggar yang disebut hukum
maka semestinyalah aku harus bisa belajar kalah
sebelum mengacungkan tantangan
memulai pemberontakan membela nurani
dan hakekat kebenaran demi tegakkan keadilan
esok
kalau aku dibunuh atas nama keadilan
atas nama hukum atas nama kebenaran
kuharap kau masih mau menyisihkan detik
dan bertanya makna atas nama
masih mau bertanya bagaimana
memulangkan bumi ke tangan kehidupan
kuharap kau masih mau bertanya
makna sejati dan layakkah ibu perempuan desa digantung
manusia telah menggantung peradapan dan kemanusiaan
esok kalau ibu digantung
ibu tentu tak menangis orang miskin tak lagi punya air mata
nah, anakku
kuminta kaupun tak menangis seperti ibu didewasakan duka
seperti beberapa teman ibu diancam mati mereka tak menangis
menatap bumi mengiris membedah ketidakadilan
hingga detik penghabisan asah nurani asah hatimu
bahwa manusia seharusnya tak terbunuh!
Puisi ini saya dedikasikan untuk semua BMI yang dibunuh oleh ketidakadilan manusia.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mega Everistiana Wati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.